Jakarta — M.H. Thamrin: Dari Betawi Bersuara demi Indonesia Merdeka
Di sebuah sudut kota tua yang lembap, di antara deru kapal dan bisik kanal, seorang anak Betawi menggenggam mimpi yang melampaui zamannya. Ia bukan sekadar
Di sebuah sudut kota tua yang lembap, di antara deru kapal dan bisik kanal, seorang anak Betawi menggenggam mimpi yang melampaui zamannya. Ia bukan sekadar pejabat kolonial, melainkan nyala sunyi yang menolak tunduk pada tirani sistem. Namanya Mohammad Husni Thamrin, dan langkahnya di Volksraad—dewan rakyat buatan Belanda yang sejatinya panggung sandiwara kekuasaan—menjadi salah satu fondasi paling kokoh bagi Indonesia yang hari ini kita hirup udaranya.
Dalam rangka menyambut kemerdekaan ke-81, Nusantara Centre menginisiasi sebuah proyek dokumentasi pemikiran para pendiri bangsa. Thamrin dipilih sebagai tokoh pertama. Bukan tanpa alasan. Di tengah ingatan kolektif yang kerap hanya menyebut nama-nama besar seperti Soekarno atau Hatta, Thamrin berdiri sebagai arsitek kesadaran yang bekerja dari dalam.
"Kami ingin menghidupkan kembali kelas jenius pikiran republik ini," ujar Mikhail Adam, Peneliti Ekopol di Nusantara Centre. "Thamrin mengajarkan bahwa kemerdekaan bukan hadiah, melainkan logika dan perasaan yang diperjuangkan dengan strategi."
Suara yang Lebih Tajam dari Peluru
Thamrin memahami satu hal yang tak banyak disadari para pejuang di masanya: bahwa kolonialisme adalah sistem yang meresap ke dalam udara dan mimpi. Ia tak melawannya hanya dengan bambu runcing atau orasi penuh amarah. Ia memilih pena dan di atas mimbar Volksraad, ia membedah kebusukan itu dengan data dan logika.
Lahir di persimpangan dua dunia—tradisi Betawi yang kental dan pendidikan kolonial yang rigit—Thamrin mampu membaca denyut nadi Batavia dari pasar hingga balai kota. Ia paham bahwa rakyat kecil bukan sekadar angka pajak. Mereka adalah manusia yang mendamba martabat.
"Bapak saya sering bercerita, Thamrin itu seperti jembatan hidup," kenang Fatimah (65), seorang warga Kwitang yang kakeknya pernah menjadi juru tulis di Gemeenteraad. "Ia berbicara dalam bahasa kami, tapi juga mampu berdebat dengan tuan-tuan Belanda tanpa gentar."
Di Volksraad, ia berulang kali mempertanyakan kebijakan yang merendahkan kaum bumiputra. Mulai dari isu kesehatan, pendidikan, hingga ketimpangan anggaran. Setiap kata yang ia ucapkan adalah serpihan kaca yang meretakkan fondasi kekuasaan yang dulu dianggap tak tergoyahkan.
Peringatan yang Tak Didengar
Menjelang akhir hayatnya, Thamrin sebenarnya sudah mencium aroma kudeta dan represi. Ia ditangkap, diasingkan dalam sunyi, dan wafat sebagai tahanan politik. Tapi warisannya tak ikut terkubur. Ia mewariskan satu pelajaran abadi: bahwa melawan penjajahan tak selalu harus di medan perang, tapi bisa di ruang sidang, dengan ketajaman nalar dan keberanian moral.
Kini, saat Nusantara Centre menyusun kembali serpihan-serpihan pemikirannya, publik diajak untuk tak sekadar mengenang, tapi juga meneladani. Proyek yang meliputi pembukuan, dokumentasi film, dan kelas pemikiran ini diharapkan menjadi oase di tengah derasnya arus informasi yang kerap melupakan akar sejarah bangsa.
Beberapa poin penting dari konteks perjuangan M.H. Thamrin:
- Multidimensi: Aktif di Gemeenteraad, Volksraad, Kaoem Betawi, dan Partai Indonesia Raya.
- Strategi: Menggunakan jalur struktural kolonial untuk membela hak rakyat.
- Warisan: Menunjukkan bahwa kritisisme cerdas lebih berbahaya bagi penjajah daripada senjata.
Pagi yang lembap di Batavia mungkin telah berlalu. Kanal-kanal itu telah berubah wajah. Namun pertanyaan Thamrin kepada kota tercintanya masih menggema: "Batavia bukan milik pemerintah," suara Thamrin yang terhenti itu seakan berbisik, bahwa kota dan negeri ini sesungguhnya milik kita semua—dan kemerdekaan adalah amanah yang harus terus diisi dengan kedaulatan berpikir.
Comments (0)