Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Jakarta — Menonton Film Horor Jadi Pelarian dari Kecemasan Modern

Lampu bioskop meredup. Di pojok ruangan, Sari (29) menggenggam erat sandaran tangan kursi. Layar lebar menampilkan bayangan yang perlahan mendekati tokoh u

Jul 08, 2026 - 16:12
0 1
Jakarta — Menonton Film Horor Jadi Pelarian dari Kecemasan Modern

Lampu bioskop meredup. Di pojok ruangan, Sari (29) menggenggam erat sandaran tangan kursi. Layar lebar menampilkan bayangan yang perlahan mendekati tokoh utama. Lalu—satu hentakan musik keras, dan Sari ikut menjerit bersama separuh penonton lain. Tapi begitu adegan mencekam lewat, ia tersenyum kecil. “Rasanya seperti seluruh beban di kepala saya ikut berteriak dan lenyap,” ujarnya, seusai menonton film horor Korea terbaru di sebuah bioskop Jakarta Selatan. “Aneh ya, justru setelah takut setengah mati, saya merasa lebih tenang.”

Sari bukan satu-satunya. Di tengah laju hidup kota yang kian menekan, semakin banyak anak muda dan pekerja urban yang memilih duduk di kursi bioskop, membiarkan diri diteror hantu, pembunuh misterius, atau kutukan turun-temurun. Bagi sebagian, sesi menonton film horor sudah menjadi ritual melepas penat—pelarian singkat dari kecemasan modern yang jauh lebih nyata dan seringkali tak bisa dijeritkan begitu saja.

Psikologi di Balik Kesenangan akan Teror

Mengapa manusia justru menikmati rasa takut? Dr. Bayu Prasetya, seorang psikolog klinis yang kerap meneliti perilaku penonton film, menjelaskan bahwa otak kita memiliki mekanisme unik saat menghadapi ancaman dalam lingkungan yang aman. “Ketika kita menonton film horor, amigdala—pusat rasa takut di otak—tetap aktif seperti saat kita menghadapi bahaya sungguhan,” jelasnya. “Tapi korteks prefrontal, yang bertugas menilai realitas, terus mengirim sinyal bahwa ini hanya tontonan. Begitu ancaman berlalu dan kita selamat, otak melepaskan dopamin dalam jumlah besar. Sensasi lega inilah yang membuat kita merasa senang, bahkan ingin mengulanginya.”

“Rasa takut yang terkendali seperti vaksin emosi. Kita melatih diri menghadapi kecemasan dalam dosis kecil, sehingga ketika stres sungguhan datang, kita tidak terlalu kaget,” tambah Dr. Bayu. Inilah yang disebut katarsis modern—meluapkan ketegangan lewat teror yang sudah terukur durasinya.

Dampak Sosial: Menyatukan dalam Jeritan

Film horor juga menciptakan efek sosial yang tak terduga. Bagi pasangan atau kelompok pertemanan yang menonton bersama, jeritan dan tawa canggung setelah adegan jumpscare menjadi perekat emosi tersendiri. Hal ini juga dirasakan oleh Rizky dan teman-temannya yang rutin mengadakan malam horor setiap bulan. “Kami menyebutnya bonding lewat teror. Setelah film selesai, kami biasanya ngobrol sampai larut tentang adegan paling serem, atau kenapa tokohnya selalu melakukan hal bodoh. Dari situ kami jadi lebih saling kenal sisi rapuh masing-masing,” kata Rizky (24).

Fenomena ini terbukti secara angka. Data internal sebuah jaringan bioskop besar di Indonesia mencatat, penjualan tiket untuk genre horor naik sekitar 37% dalam dua tahun terakhir, dengan peningkatan paling tajam terjadi di kelompok usia 20–35 tahun. Bahkan di layanan streaming, film dan serial horor selalu masuk dalam daftar trending pada malam akhir pekan—menunjukkan bahwa rasa takut telah menjadi hiburan kolektif baru.

Alasan Utama Menonton Film HororPersentase Responden
Pelarian dari stres dan rutinitas45%
Sensasi adrenalin dan deg-degan30%
Ajakan teman atau pasangan25%
Sumber: Survei daring informal terhadap 200 penonton Jakarta, April 2025

Di luar angka, ada cerita-cerita personal yang menguatkan makna menonton horor sebagai katarsis. Seperti pengalaman Dewi (31), yang mengaku sengaja menonton film horor sendirian setelah mengalami hari-hari berat di kantor. “Saya menangis? Tidak. Tapi saya menjerit keras-keras, lalu pulang dengan kepala yang lebih ringan. Ini cara saya mengeluarkan frustrasi tanpa harus bercerita panjang lebar ke orang lain,” ungkapnya.

Dari bilik gelap bioskop, teror yang hadir di layar justru menyembuhkan—karena setiap ketakutan yang berakhir adalah kemenangan kecil, pengingat bahwa kita masih mampu merasakan dan selamat, setidaknya sampai lampu kembali menyala.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User