Jakarta — Genera-Z Berbakti BCA Siapkan Mahasiswa Kembangkan Desa Wisata
Di sebuah sudut kampus yang biasanya riuh oleh diskusi teori, delapan kelompok mahasiswa kini justru sibuk membahas topografi desa dan rantai pasok keripik
Di sebuah sudut kampus yang biasanya riuh oleh diskusi teori, delapan kelompok mahasiswa kini justru sibuk membahas topografi desa dan rantai pasok keripik singkong. Mereka bukan sedang mengerjakan tugas kuliah biasa, melainkan bersiap mewujudkan solusi nyata bagi desa-desa wisata di berbagai pelosok negeri. Inilah denyut awal dari Genera-Z Berbakti 2026, program inovasi sosial yang digagas PT Bank Central Asia Tbk (BCA) untuk mempertemukan semangat muda dengan kebutuhan masyarakat lokal.
Sudah tiga tahun BCA menjadikan pemberdayaan desa wisata sebagai salah satu fokus tanggung jawab sosial perusahaan. Namun tahun ini, pendekatannya berbeda. Alih-alih memberikan bantuan langsung, bank swasta terbesar di Indonesia itu memilih meletakkan kepercayaan penuh di pundak para mahasiswa. Delapan tim finalis dari berbagai perguruan tinggi diseleksi ketat dari ratusan proposal. Mereka berasal dari latar ilmu yang beragam: ada yang mendalami teknik lingkungan, ekonomi kreatif, hingga desain komunikasi visual. Satu kesamaan yang merekatkan mereka: keinginan untuk tidak sekadar belajar, tetapi juga membakti.
Menyatukan Semangat Muda dan Kearifan Lokal
Setiap tim mendapat satu desa wisata dampingan yang telah dipetakan potensinya oleh BCA bersama pemerintah daerah. Desa-desa itu terbentang dari pesisir selatan Jawa hingga lereng pegunungan Sulawesi. Tim mahasiswa tidak datang sebagai “penyelamat”, melainkan sebagai fasilitator yang menggali ide dari warga setempat. Mereka tinggal bersama masyarakat, ikut menumbuk kopi saat subuh, mendengarkan cerita tentang air terjun yang hanya diketahui penduduk asli, sampai duduk di beranda kepala dusun yang gelisah karena kunjungan wisatawan menurun drastis.
“Kami tidak ingin menjadikan desa sebagai laboratorium hidup. Kami belajar dari mereka dulu, baru menawarkan apa yang bisa kami bantu,” ujar Raka, mahasiswa semester enam dari salah satu tim finalis, saat ditemui di sela pembekalan di Jakarta. Suaranya pelan, tapi matanya berbinar ketika menceritakan ide digital storytelling untuk Desa Wisata Kertayasa, Jawa Barat, yang telah mereka rancang bersama pemuda setempat.
“Yang paling menyentuh adalah ketika seorang ibu penenun bilang, ‘Kalian anak muda kok mau repot-repot ke sini?’ Di situ kami sadar, kehadiran kami sudah jadi penyemangat bagi mereka.”
Dari Papan Tulis ke Papan Informasi Wisata
Program ini dirancang agar mahasiswa tidak berhenti pada konsep. Setiap tim wajib menyusun rencana implementasi yang konkret, lengkap dengan ukuran keberhasilan yang terukur. BCA menyediakan pendanaan awal, pendampingan dari mentor bisnis, serta akses ke ekosistem perbankan untuk mendukung digitalisasi pembayaran di desa wisata binaan. Namun, tantangan terbesar justru muncul dari hal-hal tak terduga: sinyal telepon yang hilang di balik bukit, atau warga yang skeptis terhadap aplikasi baru.
“Kami sempat frustrasi karena solusi yang kami anggap keren ternyata tidak cocok dengan kebiasaan warga,” cerita Dina, mahasiswi jurusan sistem informasi. Timnya akhirnya mengubah total pendekatan: dari aplikasi rumit menjadi video pendek berbahasa daerah yang bisa diputar di ponsel tanpa internet. “Justru di situ kami belajar bahwa teknologi yang tepat guna itu lebih penting daripada teknologi canggih.”
Harapan yang Tumbuh dari Akar Rumput
Bagi desa-desa wisata, kehadiran program ini membawa lebih dari sekadar perbaikan papan petunjuk arah atau akun Instagram baru. Di Desa Wisata Lembah Hijau, Jawa Tengah, misalnya, tim mahasiswa membantu warga membentuk koperasi pemandu lokal yang sebelumnya hanya bekerja sendiri-sendiri. Kini, dengan sistem reservasi sederhana yang mereka bangun bersama, pendapatan pemandu naik rata-rata 30% dalam dua bulan pertama.
Mujiono, 52 tahun, pemandu senior di desa itu, menuturkan, “Saya sudah 20 tahun jadi pemandu, tapi baru kali ini anak-anak muda membantu kami membuat catatan tamu yang rapi. Sekarang kami tahu dari mana saja tamu datang dan berapa yang harus disiapkan. Terima kasih banyak, Nak.”
Genera-Z Berbakti 2026 menegaskan bahwa mahasiswa Indonesia memiliki kapasitas melampaui sekadar nilai di transkrip. BCA sendiri melihat program ini sebagai investasi sosial jangka panjang yang menyatukan inklusi keuangan dengan pengembangan pariwisata berkelanjutan. Lebih dari itu, program ini menciptakan jembatan antargenerasi: anak-anak muda yang belajar rendah hati, dan warga desa yang kembali percaya bahwa masa depan wisata mereka berharga untuk diperjuangkan.
Ketika ditanya tentang momen paling membekas, hampir semua mahasiswa finalis memberikan jawaban serupa: saat mereka meninggalkan desa, ada warga yang menggenggam tangan dan berbisik, “Jangan lupa balik lagi, ya.” Maka delapan tim ini tahu, pengabdian mereka tak berujung di penghujung program—ia baru saja dimulai.
Comments (0)