Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Jakarta — Di Balik IPO INACO dan JEC, Ada Mimpi yang Tercatat

Langit Jakarta pagi itu sedikit mendung, tapi sorot lampu di Main Hall Bursa Efek Indonesia justru lebih hangat dari biasanya. Dua perusahaan—produsen jeli

Jul 09, 2026 - 08:41
0 1
Jakarta — Di Balik IPO INACO dan JEC, Ada Mimpi yang Tercatat
Langit Jakarta pagi itu sedikit mendung, tapi sorot lampu di Main Hall Bursa Efek Indonesia justru lebih hangat dari biasanya. Dua perusahaan—produsen jeli legendaris INACO dengan kode saham JELI, dan jaringan klinik mata JEC yang melantai sebagai JECX—resmi mencatatkan diri di papan perdagangan. Gong dipukul. Tepuk tangan bergemuruh. Namun di antara riuh rendah setelan jas dan dasi, ada satu sudut yang layak disimak lebih dalam: kisah manusia-manusia kecil yang ikut menanti momen ini.

Dari Gerobak Kecil ke Lantai Bursa

Di deretan tamu undangan, tampak seorang pria paruh baya berkemeja batik lusuh, matanya berkaca-kaca. Ia adalah Budi Santoso, 52 tahun, pedagang kaki lima di kawasan Pasar Minggu yang sudah 20 tahun menjual aneka minuman kemasan, terutama jeli INACO.
“Saya enggak ngerti saham, Mas. Tapi waktu dengar INACO mau jual saham, saya ikut beli sedikit. Ini merek yang sudah ngasih makan anak-anak saya,”
ujarnya lirih, sembari menggenggam ponsel yang menampilkan aplikasi sekuritas. Budi bercerita, dua dekade lalu ia hanyalah buruh serabutan yang terpaksa berdagang karena PHK. Modal pertama ia dapat dari menjual kalung istrinya. Kini, dari menjual produk INACO, ia bisa menyekolahkan dua anaknya hingga perguruan tinggi. Bagi Budi, membeli saham JELI bukan sekadar investasi—ini adalah caranya berterima kasih.

Bisa Melihat Lagi, Kini Ingin Jadi Bagian dari Solusi

Di sisi lain ballroom, seorang nenek berkerudung putih duduk tenang di kursi roda. Namanya Siti Marni, 68 tahun. Dua tahun lalu, ia menjalani operasi katarak gratis yang difasilitasi oleh program tanggung jawab sosial JEC. Penglihatannya yang nyaris hilang kini pulih sepenuhnya.
“Waktu itu saya cuma bisa nangis, karena enggak percaya bisa lihat cucu saya lagi. Sekarang, saya beli saham JECX. Siapa tahu, dari sini saya bisa bantu orang lain yang senasib,”
kata Marni, tangannya sesekali menyeka genangan di pelupuk mata. Marni membeli saham menggunakan uang pensiun almarhum suaminya. Ia tak paham analisis teknikal, apalagi laporan keuangan. Yang ia tahu, JEC adalah tempat yang mengembalikan dunianya yang gelap menjadi terang kembali.

Lebih dari Sekadar Pencatatan Saham

IPO INACO dan JEC boleh jadi hanyalah salah satu dari belasan pencatatan tahun ini. Namun di balik angka-angka valuasi, ada cerita yang mengajarkan bahwa pasar modal sebenarnya bisa menyentuh hati. Beberapa poin penting yang mencuat dari kisah di atas:
  • Demokratisasi kepemilikan: Investor ritel seperti Budi dan Marni kini bisa ikut memiliki perusahaan yang akrab dalam keseharian mereka.
  • Dampak sosial merek lokal: INACO membuktikan bahwa produk sederhana seperti jeli dapat menjadi tulang punggung ekonomi keluarga kecil.
  • Inklusivitas layanan kesehatan: JEC menunjukkan bahwa mata bisnis dan misi sosial bisa berjalan beriringan, dan kini pasien bisa menjadi pemilik.
Menjelang siang, saat sesi foto dengan jajaran direksi selesai, Budi dan Marni tak saling mengenal. Tapi di lantai bursa itu, mereka mewakili ribuan cerita serupa: tentang mimpi yang akhirnya tercatat, bukan cuma di papan saham, tapi di hati.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User