Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

[JAKARTA] — Desak Made Rita Klarifikasi Pernyataan Usai Raih Emas di Krakow

Ada yang berbeda dari sorot mata Desak Made Rita Kusuma Dewi ketika melangkah turun dari podium juara World Climbing Series 2026 di Krakow. Di balik kilau

Jul 08, 2026 - 04:48
0 0
[JAKARTA] — Desak Made Rita Klarifikasi Pernyataan Usai Raih Emas di Krakow

Ada yang berbeda dari sorot mata Desak Made Rita Kusuma Dewi ketika melangkah turun dari podium juara World Climbing Series 2026 di Krakow. Di balik kilau medali emas yang menggantung di lehernya, tersimpan beban yang mungkin tak kasatmata bagi sebagian orang. Hari ini, Selasa (7/7/2026), atlet panjat tebing kebanggaan Indonesia itu akhirnya angkat bicara, meluruskan apa yang ia sebut sebagai "kesalahpahaman yang tak perlu terjadi."

Bukan Kritik, Melainkan Kisah Perjuangan

Beberapa waktu lalu, pernyataan Desak pasca-kemenangan sempat menuai spekulasi liar. Banyak pihak menduga bahwa ia melontarkan kritik pedas terhadap pengurus atau sistem pembinaan olahraga Tanah Air. Namun pagi ini, dengan suara yang tenang namun tegas, Desak mengurai kembali makna di balik kata-katanya.

"Melalui pernyataan tersebut, saya hanya ingin mengekspresikan determinasi dan resiliensi saya sebagai seorang atlet. Sebagai juara, saya percaya bahwa setiap tantangan harus dihadapi dengan semangat pantang menyerah dan dijadikan motivasi untuk terus memberikan penampilan terbaik."

Kalimat itu disampaikan Desak dalam keterangan tertulis yang diterima Beritaseputar. Ada getaran ketulusan di sana—seorang atlet yang memilih jalur senyap untuk membela mimpinya sendiri, alih-alih menuding dengan telunjuk kesalahan.

Determinasi yang Lahir dari Keterbatasan

Ketika ditelusuri lebih dalam, cerita di balik emas Krakow ini memang bukan sekadar tentang kekuatan jemari mencengkeram hold. Ia adalah potret tentang bagaimana seorang atlet bertarung melawan keterbatasan:

  • Tantangan internal: adaptasi dengan format kompetisi baru, tekanan psikologis sebagai juara bertahan, hingga kekhawatiran akan cidera yang membayangi.
  • Tantangan eksternal: dinamika penyelenggaraan ajang yang berbeda dari biasanya, perbedaan zona waktu, hingga suasana kompetisi yang lebih ketat.

Semua ini ia lahap sendiri. Bukan sebagai keluhan, tapi sebagai bahan bakar untuk membuktikan bahwa atlet Indonesia tak mudah tumbang oleh situasi.

"Saya sadar, menjadi juara bukan cuma soal teknik memanjat. Ini soal mental. Ini soal bagaimana tetap tegak saat angin dari luar dan dari dalam mencoba merobohkan," ujarnya dalam sesi wawancara singkat yang kami lakukan di sela-sela jeda latihan di Jakarta, beberapa jam lalu.

Pernyataan ini sontak meluruhkan dugaan-dugaan yang sempat liar di media sosial. Desak memilih jalur elegan: ia tak ingin kemenangan ini dinodai prasangka. Ia hanya ingin masyarakat melihat bahwa di balik setiap medali yang ia raih, ada cerita tentang kegigihan yang patut dirayakan, bukan diributkan.

"Kritik itu penting, tapi bukan itu yang saya sampaikan saat itu. Saya cuma ingin jujur: pertandingan kali ini berat. Tapi justru karena berat, emas ini terasa lebih manis."

Sikap ini mungkin bisa menjadi cermin bagi kita semua. Bahwa di tengah budaya viral yang gemar menguliti dan mencari kesalahan, masih ada sosok yang memilih untuk berdiri di atas kakinya sendiri dan berkata, "Saya hanya ingin memanjat."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User