JAKARTA — Arbani Yasiz Bongkar Pengalaman Mistis Syuting Film Korea
Jakarta, Senin (6/7/2026) – Hujan rintik di luar gedung tak mampu meredam antusiasme puluhan awak media yang memadati ruang konferensi pers. Arbani Yasiz,
Jakarta, Senin (6/7/2026) – Hujan rintik di luar gedung tak mampu meredam antusiasme puluhan awak media yang memadati ruang konferensi pers. Arbani Yasiz, aktor muda Indonesia yang namanya kian melambung, duduk tenang di balik meja panjang. Kehadirannya siang itu bukan untuk proyek lokal, melainkan untuk sebuah film horor Korea bergenre psychological thriller bertajuk 402 Rumah Sakit Angker—dan ia menjadi satu-satunya pemain asal Indonesia yang dipercaya memerankan karakter utama.
Ruang konferensi mendadak hening ketika Arbani, mengenakan kemeja putih lengan panjang, mulai menceritakan detik-detik paling mencekam yang ia alami selama proses syuting di sebuah rumah sakit tua di pinggiran Seoul. “Saya nggak menyangka dapat tawaran ini. Tapi begitu baca naskah, langsung jatuh hati. Ceritanya kuat, karakternya gelap, dan horornya bukan sekadar jumpscare,” ujarnya, suaranya rendah namun penuh intensitas.
Titik Mula: Dari Audisi Virtual hingga Lokasi Syuting
- Februari 2026 – Arbani mengikuti audisi secara daring yang digelar oleh rumah produksi asal Busan, Haunting Pictures. Ia mengirimkan tiga monolog dalam bahasa Inggris dan satu adegan emosional dalam bahasa Korea sederhana.
- Maret 2026 – Pengumuman lolos casting tiba lewat surel pukul dua dini hari. “Saya kira mimpi. Sampai saya baca berulang-ulang dan telepon manajer saya,” kenang Arbani sambil tersenyum tipis.
- Mei–Juli 2026 – Selama tujuh pekan, Arbani menetap di Seoul. Lokasi syuting utama adalah Rumah Sakit Guryong, bangunan era kolonial Jepang yang sudah setengah abad terbengkalai.
Kejadian yang Tak Masuk Akal
Arbani mengaku, pengalaman di rumah sakit itu melampaui ekspektasi terburuknya. Dalam konferensi pers, ia membagi kronologi kejadian mistis yang dialami langsung olehnya dan para kru:- Malam pertama – Saat pengambilan gambar adegan lorong basement, lampu utama mati serempak, padahal generator dalam kondisi prima. Seorang kru teknisi menemukan tiga unit lampu LED dalam posisi menyala sebelum padam—tanpa alasan teknis.
- Hari ke-12 – Arbani yang sedang break di dalam ruang pasien nomor 402 mendengar suara perempuan menangis di balik dinding bata kosong. “Saya rekam pakai ponsel. Waktu saya putar lagi, suaranya jelas banget. Sampai sekarang rekamannya masih saya simpan,” kata Arbani, dengan raut wajah serius.
- Puncak ketegangan – Pada hari ke-23, saat pengambilan adegan klimaks, seorang aktris pendukung tiba-tiba berhenti di tengah dialog, menatap ke sudut ruangan, lalu pingsan. Sutradara terpaksa menghentikan syuting selama dua hari. “Dia bilang lihat bayangan hitam berdiri tepat di samping saya,” ujar Arbani pelan.
- Pembuktian – Proses penyelidikan internal oleh tim produksi menemukan bahwa suhu di ruang 402 konsisten 11°C, jauh lebih dingin dibanding ruangan lain di lantai yang sama—meski pendingin udara sudah dicabut. “Tim produksi sempat memanggil paranormal lokal untuk ‘ngomong baik-baik’,” tambahnya.
Comments (0)