Surya ‘Bang iSur’ Subagja Mengamati Perubahan Digital dari Gerobak Gorengan
Di sudut Jalan Merdeka, aroma pisang goreng dan tahu isi menguar dari gerobak sederhana milik Surya Subagja Putra—yang akrab disapa Bang iSur. Di sela-sela
Di sudut Jalan Merdeka, aroma pisang goreng dan tahu isi menguar dari gerobak sederhana milik Surya Subagja Putra—yang akrab disapa Bang iSur. Di sela-sela menggoreng dan melayani pembeli, ia punya kebiasaan unik: menyelipkan ponsel di balik toples sambal, memainkan gim kesayangannya. Namun, di balik kesibukannya sebagai penjual gorengan, Bang iSur menyimpan pengamatan tajam tentang bagaimana wajah masyarakat di sekitarnya perlahan berubah, terseret arus digital yang tak terbendung.
Awal Mula dari Sebuah Gim
Perjalanan Bang iSur menjadi “pengamat digital” bermula dari hobinya bermain gim mobile. Sejak 2019, ia rutin menghabiskan jam istirahat siangnya dengan gim daring. Dari gim itulah ia mulai memperhatikan interaksi sosial yang bergeser. “Dulu, pembeli ngobrol soal harga cabai atau gosip tetangga sambil nunggu gorengan. Sekarang, hampir semua orang sibuk sama layar,” ujarnya. Yang menarik, Bang iSur tidak hanya melihat fenomena itu, tetapi mulai mencatatnya secara mental—seperti seorang etnografer liar dari balik gerobak.
Kronologi Pengamatan: Dari Obrolan ke Transaksi
Berawal dari rasa penasaran, Bang iSur mulai menyusun semacam “kronik” tidak resmi tentang perubahan perilaku pelanggannya. Ia membagi pengamatannya dalam tiga fase penting yang ia alami sendiri.
- 2019: Dominasi Obrolan Fisik Masih Kuat. Sebagian besar pelanggan masih membayar tunai dan mengobrol langsung. Bang iSur hanya sesekali melihat orang sibuk dengan ponsel, biasanya anak muda.
- 2021: Ponsel Mulai Menguasai Antrean. Setelah pandemi, hampir semua orang menghindari kontak fisik, tapi lebih dari itu, Bang iSur melihat perubahan fundamental: “Orang lebih sering cerita soal belanja daring atau gim yang mereka mainkan. Topiknya berubah, sekarang soal kupon Shopee, bukan harga bawang,” katanya.
- 2023: Dompet Digital Menjadi Raja. Pelanggan mulai bertanya apakah Bang iSur menerima pembayaran via QRIS. “Saya sempat bingung, tapi akhirnya belajar. Sekarang 70% pembayaran di gerobak saya pakai GoPay atau QRIS, padahal dua tahun lalu masih nol,” ujarnya. Inilah momen pencerahan: Bang iSur sadar bahwa digitalisasi bukan lagi milik perkantoran atau mal besar, melainkan sudah menyusup ke gerobak pinggir jalan.
Makna di Balik Minyak Panas
Bagi sebagian orang, pengamatan ini mungkin terlihat sederhana. Namun Bang iSur melihatnya sebagai cermin pergeseran sosial yang luas. “Dunia digital itu seperti minyak panas—bikin orang renyah di luar, tapi di dalamnya ada perubahan yang mendalam. Omongan berubah, kebiasaan berubah, bahkan cara orang menunggu juga berubah,” ungkapnya. Ia mengaku sering mengobrol dengan pembeli tentang bagaimana platform digital kini memengaruhi kehidupan mereka—dari belanja kebutuhan pokok hingga mencari kerja.
Salah satu pembeli setianya, seorang ibu rumah tangga bernama Ratna, mengakui hal serupa. “Dulu saya ke sini bawa uang pas, dan cerita soal anak sekolah. Sekarang sering curhat soal pinjol atau lagi cari penghasilan tambahan lewat TikTok,” katanya sambil tertawa kecil. Momen-momen seperti ini yang membuat Bang iSur merasa gerobaknya adalah etalase mini perubahan zaman.
Pelajaran dari Gerobak Pinggir Jalan
Kisah Bang iSur mengajarkan bahwa transformasi digital tidak hanya bisa diamati lewat data statistik atau seminar teknologi. Ia hadir nyata di keseharian masyarakat kecil, di antrean gorengan, dan di antara ketukan jari di layar ponsel. Dari gerobaknya, Bang iSur menjadi saksi bagaimana manusia perlahan mendigitalkan kebiasaannya, tanpa meninggalkan aroma pisang goreng yang hangat.
Comments (0)