Inara Rusli Ajak Starla Pahami Kemanusiaan dari Jalanan

Di bawah rintik hujan sore itu, mobil Inara Rusli melaju pelan menyusuri jalan protokol. Dari balik jendela, Starla kecil—putri sulungnya yang berusia lima tahun—menempelkan telapak tangan ke kaca...

Jul 12, 2026 - 14:11
0 1
Inara Rusli Ajak Starla Pahami Kemanusiaan dari Jalanan

Di bawah rintik hujan sore itu, mobil Inara Rusli melaju pelan menyusuri jalan protokol. Dari balik jendela, Starla kecil—putri sulungnya yang berusia lima tahun—menempelkan telapak tangan ke kaca, matanya mengikuti seorang pemulung tua yang mendorong gerobak penuh kardus basah. Tanpa diminta, ia bertanya lirih, “Mami, kenapa kakek itu kehujanan? Kenapa dia enggak pulang?” Pertanyaan yang begitu polos namun menyimpan lapisan makna bagi Inara. Di momen itulah ia menyadari, putri kecilnya telah siap menerima pelajaran berharga tentang kemanusiaan.

“Anak-anak itu seperti spons,” ujar Inara beberapa waktu lalu. “Mereka menyerap apa yang kita tunjukkan, bukan apa yang kita suruh. Kalau saya ingin Starla tumbuh menjadi pribadi yang berempati, saya harus memberinya pengalaman, bukan sekadar kata-kata.”

Belajar Memberi Tanpa Diminta

Inara tak membiarkan momen itu berlalu sebagai obrolan sambil lalu. Ia sengaja menepikan mobil, mengajak Starla turun, dan membeli beberapa bungkus nasi hangat dari warung terdekat. Tangan mungil Starla sempat ragu saat mengulurkan bungkusan itu kepada sang kakek. Ada tatapan takut sekaligus ingin tahu yang bercampur. Namun ketika senyum penuh terima kasih merekah di wajah sang pemulung, Starla membalasnya dengan senyuman lebar yang tulus—satu momen yang membuat Inara nyaris berkaca-kaca.

“Saya bilang ke Starla, kakek itu mungkin tidak punya rumah seperti kita, tapi dia punya hati yang sama. Dia juga lapar dan kedinginan,” kenang Inara. “Saya ingin Starla paham bahwa memberi tidak harus menunggu kita berlebih dulu.” Sejak hari itu, Starla kerap mengingatkan ibunya untuk membawa bekal tambahan saat bepergian. Sebuah kebiasaan kecil yang lahir dari pengalaman langsung.

Menanamkan Akar Kebaikan

Di rumah, Inara punya ritual sederhana yang ia bangun bersama Starla: setiap akhir pekan, mereka memilah pakaian yang sudah tidak muat atau mainan yang masih bagus untuk disumbangkan. Bukan sekadar dimasukkan ke kardus, Inara mengajak Starla bercerita tentang siapa yang mungkin akan menerima barang-barang itu. “Mami, boneka ini buat adik yang sakit di rumah sakit ya,” ucap Starla suatu kali, tanpa diminta. Inara tersenyum mendengarnya. Pelajaran tentang berbagi telah menyusup ke dalam kesadaran putrinya.

“Empati adalah investasi jangka panjang,” tegas Inara. “Nggak instan, nggak bisa dipaksakan. Tapi kalau dari kecil kita biasakan anak melihat dan merasakan, itu akan jadi bagian dari karakternya.”

Dari Rumah untuk Dunia

Inara sadar betul, dunia anak-anak hari ini penuh distraksi. Gawai, konten digital, dan gaya hidup serba cepat kerap menjauhkan mereka dari realitas sosial. Oleh karena itu, ia sengaja menciptakan ruang-ruang kecil di rumahnya untuk diskusi tentang perasaan. Setiap kali Starla melihat berita duka atau melihat seseorang yang berbeda secara fisik, Inara tak menghindar. Ia justru duduk sejajar dengan putrinya, menatap mata, dan menjelaskan dengan bahasa yang bisa dicerna. “Semua orang punya cerita, Sayang. Tugas kita adalah mendengarkan, bukan menghakimi,” begitu kalimat yang sering ia ulangi.

Suatu sore, Starla menangis saat melihat seekor kucing liar yang pincang di depan rumah. Inara tak buru-buru menenangkannya dengan mengalihkan perhatian. Ia justru memeluk Starla, mengakui bahwa sedih itu wajar, lalu bersama-sama membawa kucing itu ke dokter hewan. Dari situ Starla belajar bahwa empati bukan hanya tentang merasa iba, tetapi juga tentang melakukan sesuatu.

Jejak Kecil yang Membekas

Hari ini, Starla mungkin belum sepenuhnya mengerti istilah “kemanusiaan”. Tapi dari caranya mengelus punggung teman yang jatuh di taman, dari caranya menyisihkan sepotong roti untuk dibagi, dan dari caranya bertanya tentang dunia di sekitarnya, Inara tahu bahwa benih-benih itu telah tertanam. “Saya tidak ingin Starla tumbuh jadi anak yang pintar akademis saja, tapi kosong secara emosi,” kata Inara menutup percakapan. “Karena dunia butuh lebih banyak manusia yang merasakan, bukan sekadar melihat.”

Pelajaran dari jalanan sore itu telah menjadi fondasi. Bukan dari buku mahal atau seminar parenting, melainkan dari perjumpaan sederhana yang dipilih Inara untuk tidak dilewatkan. Inara Rusli mungkin dikenal sebagai figur publik, tetapi di mata Starla, ia adalah mami yang mengajarkan bahwa kebaikan adalah bahasa yang bisa dipahami semua orang—bahkan tanpa perlu diucapkan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User