Tamagoyaki: Cinta Orang Tua dalam Lipatan Telur Bekal Anak
Di dapur mungil berukuran dua kali tiga meter, pukul lima pagi masih sunyi. Namun bagi Sari, 38 tahun, saat itulah harinya dimulai. Tangannya cekatan memecahkan tiga butir telur ke dalam mangkuk, mena...
Di dapur mungil berukuran dua kali tiga meter, pukul lima pagi masih sunyi. Namun bagi Sari, 38 tahun, saat itulah harinya dimulai. Tangannya cekatan memecahkan tiga butir telur ke dalam mangkuk, menambahkan sedikit garam, gula, dan kecap asin. Aroma khas Jepang itu perlahan memenuhi ruang, mengusir kantuk. Ia hendak membuat tamagoyaki—gulungan telur berlapis yang menjadi bekal favorit putra semata wayangnya, Bima.
“Awalnya Bima susah sekali makan telur. Katanya bau amis. Tapi sejak saya coba buat tamagoyaki, dia selalu minta lagi,” ujar Sari, matanya berbinar saat menceritakan perjuangan kecilnya. Di balik setiap lipatan telur yang rapi, tersimpan kisah cinta yang tak selalu mudah.
Ritual Pagi yang Menghangatkan Hati
Proses membuat tamagoyaki bukan sekadar aktivitas memasak bagi Sari. Ini adalah ritual yang ia jalani setiap pagi demi memastikan Bima mendapatkan bekal bergizi sekaligus penuh kasih. Dengan wajan persegi khusus—oleh-oleh dari temannya yang pulang dari Jepang—ia menuangkan lapisan pertama adonan telur, menunggu setengah matang, lalu menggulungnya perlahan ke tepi. Lapisan berikutnya dituang, digulung lagi, begitu seterusnya hingga terbentuk dadar telur tebal yang berpola lapisan anggun.
“Setiap gulungan itu kayak doa, gitu, lho. Saya selipkan harapan biar Bima kuat belajar, sehat, dan bahagia di sekolah,” kata Sari lirih.
Ketika Bima masih duduk di kelas dua SD, ia pernah pulang dengan mulut manyun karena bekalnya diejek teman sebagai “telur gulung aneh”. Sari sempat patah hati, namun justru momen itu yang membuatnya bertekad mempercantik tampilan tamagoyaki. Kini, selain orisinal, ia kerap menambahkan nori, wortel parut, atau sosis kecil di tengahnya agar lebih menarik. Hasilnya? Bima yang sekarang kelas lima justru sering berbagi potongan tamagoyakinya dengan teman-teman, dan pujian pun mengalir.
Kenangan dari Generasi ke Generasi
Bagi Sari, tamagoyaki bukan sekadar menu bekal. Makanan ini mengingatkannya pada sosok ibunda, yang dulu sering membuatkannya telur dadar gulung versi sederhana saat ia kecil. “Dulu Ibu saya bikinnya pakai wajan biasa, tanpa gula, pakai daun bawang. Nggak senikmat sekarang, tapi itu yang bikin saya kangen kalau ingat masa sekolah.” Kini, ia menyempurnakan resep warisan itu dengan sentuhan Jepang yang dipelajarinya dari internet dan komunitas ibu-ibu di grup WhatsApp.
Perjalanan Sari menguasai tamagoyaki tidak instan. Butuh puluhan kali percobaan hingga ia menemukan takaran pas: dua butir telur ayam kampung dicampur satu butir telur ayam negeri, agar teksturnya lembut tapi tetap kokoh saat digulung. Gula pasir sejumput, kecap asin setengah sendok teh, dan sedikit mirin tiruan dari air gula hangat. “Sampai sekarang, kalau gulungan pertama gagal, saya ulangi lagi. Nggak boleh ada yang bolong, soalnya Bima bakal nanya, ‘Kok hari ini tamagonya jelek, Ma?’” ceritanya sambil tertawa kecil.
Bukan Sekadar Masakan, Melainkan Pelajaran Hidup
Di tengah kesibukan sebagai pegawai administrasi di sebuah sekolah swasta, Sari tak pernah melewatkan kesempatan untuk menyiapkan bekal sendiri. Ia percaya, makanan buatan rumah membawa energi berbeda. Suatu pagi, Bima pernah berkata, “Ma, tamagoyaki ini bikin aku semangat, soalnya kayak ada pelukan Mama.” Kalimat itu membuat Sari nyaris meneteskan air mata di depan kompor. “Di situ saya sadar, anak-anak itu peka banget, ya. Mereka bisa merasakan cinta lewat makanan,” ujarnya.
Kini, ritual pagi itu tak lagi sunyi. Bima kadang ikut bangun lebih awal, duduk di meja dapur sambil mengamati ibunya menggulung telur. Kadang ia membantu memecahkan telur—meski masih sering belepotan. Sari membiarkannya, sebab ia ingin kelak, ketika dewasa, Bima mengingat bahwa cinta bisa diwujudkan dalam lipatan telur sederhana yang dibuat dengan ketulusan.
Tamagoyaki, makanan yang mungkin tampak biasa, telah menjadi jembatan antara kerja keras, kenangan masa lalu, dan harapan masa depan. Di setiap kotak bekal yang dibawa Bima, tersimpan bukan hanya protein dan karbohidrat, melainkan juga pesan bahwa dalam kesederhanaan, cinta orang tua selalu hadir—menghangatkan hati anak hingga jam istirahat tiba.
Baca juga:
Comments (0)