Inara Rusli Ajarkan Starla Makna Kemanusiaan dengan Cara Sederhana

Senja belum sepenuhnya hilang ketika Inara Rusli duduk bersila di samping putri kecilnya, Starla. Di sudut ruang keluarga yang hangat oleh cahaya lampu meja, ibu dan anak itu tengah asyik membuka-buka...

Jul 12, 2026 - 14:53
0 0
Inara Rusli Ajarkan Starla Makna Kemanusiaan dengan Cara Sederhana

Senja belum sepenuhnya hilang ketika Inara Rusli duduk bersila di samping putri kecilnya, Starla. Di sudut ruang keluarga yang hangat oleh cahaya lampu meja, ibu dan anak itu tengah asyik membuka-buka buku cerita bergambar. Tapi malam itu bukan dongeng putri dan naga yang mengisi percakapan mereka. Inara justru memilih halaman tentang seorang petugas kebersihan jalan yang bekerja di tengah hujan. Starla menunjuk gambar itu dan bertanya, "Mama, kenapa bapak itu kehujanan? Kenapa dia nggak berteduh?"

Dari titik itulah, Inara perlahan menenun benang-benang empati di hati buah hatinya. Tanpa sadar, momen sederhana itu menjadi pintu masuk bagi Starla untuk memahami satu hal besar: makna kemanusiaan. Bagi Inara, pelajaran tentang peduli dan memahami orang lain tidak bisa ditunda. Justru sejak usia dini, nilai-nilai itulah yang paling penting ditanamkan.

Mengubah Pertanyaan Kecil Menjadi Pelajaran Besar

Starla bukan anak yang asing dengan rasa ingin tahu. Seperti kebanyakan bocah seusianya, ia gemar melempar pertanyaan yang terkadang tak terduga. Namun Inara memilih untuk tidak menjawab dengan klise. Ketika Starla bertanya mengapa ada orang yang tidur di pinggir jalan, Inara tidak langsung mengatakan "karena mereka tidak punya rumah" lalu berlalu. Ia justru mengajak Starla berdialog pelan-pelan.

"Mama bilang, setiap orang punya cerita yang berbeda. Ada yang sedang berjuang, ada yang belum dapat kesempatan," ujar Inara, mengisahkan percakapannya bersama Starla suatu siang. Dengan bahasa yang mudah dicerna, ia menjelaskan bahwa tidak semua orang beruntung memiliki tempat tinggal yang nyaman, makanan yang cukup, atau keluarga yang lengkap.

Dari situ, Inara mulai membangun kebiasaan kecil: setiap melewati pemulung atau pengemis di lampu merah, ia mengajak Starla untuk memberi sesuatu dengan tangan sendiri. Bukan sekadar uang, tapi juga senyuman dan sapaan. "Mama ingin Starla tidak hanya melihat dari jendela mobil. Tapi benar-benar melihat mereka sebagai manusia," katanya.

Belajar Empati dari Aksi Nyata

Inara percaya bahwa kata-kata saja tidak cukup. Maka ia pun mengajak Starla terlibat langsung dalam kegiatan sosial yang ringan dan menyenangkan. Suatu akhir pekan, mereka bersama-sama mengemas nasi kotak untuk dibagikan di sekitar lingkungan rumah. Tangan mungil Starla dengan telaten menyusun lauk ke dalam wadah, sesekali bertanya, "Bu, nanti siapa yang makan ya? Apakah mereka suka telur?"

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu menjadi sinyal bahwa Starla mulai menghubungkan apa yang ia kerjakan dengan perasaan orang lain. Ia tidak lagi sekadar melakukan tugas, melainkan membayangkan senyum di wajah orang yang menerima makanan itu. Inara menyebut momen ini sebagai "keajaiban kecil yang mengharukan".

"Yang saya tanamkan bukan rasa iba, tapi rasa hormat. Starla harus paham bahwa membantu bukan untuk dipuji, tapi karena kita sesama manusia punya tanggung jawab untuk saling menjaga," tegas Inara. Prinsip ini yang terus ia pegang dalam setiap langkah pengasuhannya.

Mengolah Rasa Lewat Cerita dan Dongeng

Selain aksi langsung, Inara juga memanfaatkan kekuatan cerita. Setiap malam sebelum tidur, ia sengaja memilih buku-buku yang mengangkat tema keberagaman, persahabatan, dan keberanian untuk membela yang lemah. Lewat tokoh-tokoh fiksi, Starla diajak mengenali emosi: sedih, senang, takut, dan yang terpenting, bagaimana cara menolong.

"Dari cerita, anak-anak bisa belajar tanpa merasa digurui," ujar Inara. Ia kerap berhenti di tengah bacaan untuk bertanya, "Menurut Starla, kalau jadi dia, apa yang harus kita lakukan?" Percakapan dua arah itu membuat Starla aktif memikirkan solusi dan merasakan apa yang dirasakan tokoh cerita. Tanpa disadari, dongeng menjadi jembatan emas menuju hati yang penuh empati.

Di era digital yang serba cepat, pendekatan ini bisa jadi cara efektif untuk meredam pengaruh buruk layar gawai. Inara sendiri membatasi waktu menonton Starla dan menggantinya dengan sesi membaca interaktif yang jauh lebih bermakna. "Saya tidak ingin Starla tumbuh dengan menganggap bahwa hidupnya paling penting. Dia harus tahu, dunia ini luas dan diisi oleh banyak orang dengan berbagai latar," imbuhnya.

Menghadapi Rasa Penasaran yang Kadang Mengejutkan

Perjalanan menanamkan nilai kemanusiaan tentu tidak selalu mulus. Inara mengisahkan, ada kalanya Starla melontarkan pertanyaan yang membuatnya tercekat. Suatu kali, setelah menyaksikan berita bencana di televisi, Starla bertanya, "Kenapa Tuhan izinkan rumah orang hancur?" Bagi Inara, pertanyaan itu adalah berkah terselubung.

Ia tidak buru-buru menjawab dengan doktrin. Justru ia memeluk Starla dan berkata, "Mama juga tidak tahu jawaban pastinya. Tapi yang Mama tahu, kita bisa jadi teman buat yang sedih." Dari situlah mereka lantas membuat kartu ucapan sederhana untuk dikirim ke posko pengungsian. Inara mengubah kebingungan menjadi aksi nyata, sekali lagi mengajarkan bahwa di tengah ketidakmengertian, yang terpenting adalah hadir dan peduli.

Starla kini berusia lima tahun. Di matanya yang jernih, Inara melihat tunas-tunas kebaikan mulai tumbuh. Gadis kecil itu sudah bisa berbagi bekal kepada teman yang lupa membawa makanan, atau spontan mengatakan "sudah ya, jangan nangis" saat melihat balita lain terjatuh di taman. Hal-hal sederhana yang mungkin terlewat bagi orang dewasa, tapi bagi Inara adalah pertanda bahwa empati telah benar-benar melekat.

Apa yang dilakukan Inara Rusli bukan sekadar pola asuh modern. Ini adalah sebuah investasi sunyi yang kelak akan membentuk manusia dewasa yang hangat, paham arti kemanusiaan, dan berani berbuat baik tanpa menunggu dipinta. Di tengah dunia yang kian riuh, Inara dan Starla membuktikan bahwa pelajaran paling berharga justru lahir dari momen-momen sederhana dan tulus dari rumah.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User