IKEA Tutup Dua Lokasi ‘Plan and Order’ di AS, Ini Alasannya
Beritaseputar.com, Jakarta – Raksasa furnitur global asal Swedia, IKEA, mengumumkan akan menutup dua lokasi layanan “Plan and order point with Pick-up” di
Beritaseputar.com, Jakarta – Raksasa furnitur global asal Swedia, IKEA, mengumumkan akan menutup dua lokasi layanan “Plan and order point with Pick-up” di Amerika Serikat pada 30 Agustus mendatang. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan aksesibilitas dan keberlanjutan bisnis di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin mengarah ke ranah digital.
Kronologi Pengumuman dan Penutupan
Informasi penutupan ini pertama kali diungkapkan oleh manajemen IKEA AS pada pekan ini. Dua gerai konsep tersebut akan berhenti beroperasi secara permanen akhir Agustus, menandai babak baru dalam restrukturisasi jaringan ritel IKEA. Berikut urutan peristiwanya:
- Pengumuman resmi: Manajemen IKEA AS merilis pernyataan bahwa dua lokasi “Plan and order point with Pick-up” akan ditutup mulai 30 Agustus.
- Alasan strategis: Perusahaan menegaskan bahwa keputusan ini sejalan dengan visi jangka panjang untuk memperkuat aksesibilitas layanan dan mendukung prinsip keberlanjutan, baik dari sisi lingkungan maupun efisiensi operasional.
- Proses penutupan: Penutupan dilakukan secara bertahap hingga akhir bulan. Seluruh pesanan yang sudah masuk akan tetap diproses dan diantar sesuai jadwal tanpa gangguan.
- Dampak pada karyawan: IKEA berkomitmen tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Staf di dua lokasi akan ditawari posisi di toko IKEA lain di wilayah terdekat.
- Fokus ke depan: IKEA akan mengalihkan sumber daya ke toko-toko besar dan platform daring untuk mengoptimalkan pengalaman belanja omnichannel yang lebih terintegrasi.
Apa Itu Layanan “Plan and Order Point with Pick-up”?
Konsep “Plan and order point with Pick-up” merupakan format toko berskala kecil yang dirancang untuk memudahkan pelanggan merencanakan desain interior—khususnya dapur, lemari pakaian, dan ruang penyimpanan—dengan bantuan konsultan ahli. Berbeda dari gerai IKEA konvensional yang menjual berbagai perabot siap bawa, lokasi ini lebih fokus pada konsultasi dan pemesanan produk yang kemudian diambil atau dikirim ke rumah pelanggan.
Format ini pertama kali diperkenalkan IKEA sebagai bagian dari ekspansi ke kawasan urban dengan keterbatasan luas lahan. Di AS, IKEA mengoperasikan kurang dari 10 lokasi serupa yang tersebar di berbagai negara bagian. Penutupan dua titik ini mengindikasikan adanya evaluasi terhadap efektivitas model bisnis tersebut pascapandemi, di mana interaksi tatap muka menurun drastis.
Alasan Strategis: Aksesibilitas dan Keberlanjutan
Dalam pernyataan resminya, IKEA menyebut bahwa “penghentian operasional di dua lokasi tersebut merupakan langkah strategis untuk memastikan setiap investasi toko memberikan dampak maksimal terhadap aksesibilitas pelanggan dan sejalan dengan komitmen keberlanjutan.”
“Kami terus mengevaluasi portofolio toko kami untuk memastikan kami hadir di tempat dan format yang paling relevan bagi pelanggan. Keputusan ini tidak mudah, namun penting agar kami dapat berinvestasi di area yang memberi nilai tambah lebih besar,” ujar juru bicara IKEA AS.
Frasa “keberlanjutan” di sini tidak hanya merujuk pada aspek lingkungan, melainkan juga keberlanjutan bisnis. Menurut analis ritel dari GlobalData, Neil Saunders, IKEA sedang beradaptasi dengan kenyataan bahwa konsumen kini lebih memilih kenyamanan belanja dari rumah dan pengalaman langsung di toko besar yang menawarkan inspirasi penuh. “Toko kecil konsultatif mungkin tidak lagi efisien jika biaya operasional tidak sebanding dengan volume penjualan. Langkah ini menunjukkan kedewasaan IKEA dalam membaca pasar,” kata Saunders.
Dampak terhadap Pelanggan dan Komunitas
Meskipun dua lokasi ditutup, IKEA menegaskan bahwa pelanggan tetap dapat menikmati layanan perencanaan secara virtual melalui situs web dan aplikasi IKEA. Selain itu, toko-toko besar IKEA di kota-kota besar AS tetap beroperasi penuh dan menyediakan layanan “Click & Collect” yang serupa. Transformasi ini diharapkan tidak mengurangi kenyamanan konsumen, justru memperluas jangkauan melalui kanal digital.
Komunitas sekitar lokasi yang ditutup mungkin akan merasakan kehilangan akses konsultasi tatap muka, tetapi IKEA menjanjikan peningkatan titik pengambilan barang di lokasi mitra untuk mengurangi ketidaknyamanan. Hingga berita ini ditulis, kedua lokasi yang akan ditutup belum disebutkan secara rinci oleh perusahaan, sehingga spekulasi berkembang di kalangan pegiat properti komersial bahwa pusat perbelanjaan kecil yang selama ini menampung gerai IKEA bakal kehilangan penyewa utama.
Konteks Lebih Luas: Restrukturisasi Ritel Global
Langkah IKEA bukanlah yang pertama. Selama dua tahun terakhir, banyak peritel global—termasuk Walmart, Macy’s, dan Bed Bath & Beyond—telah menutup puluhan gerai kecil dan berinvestasi pada platform digital. IKEA sendiri sebelumnya menutup toko di beberapa kota Eropa dan beralih ke format “City Store” yang lebih terbatas namun bertahan di pusat kota.
Secara global, IKEA mencatat penjualan daring yang tumbuh dua digit pada tahun lalu, mencapai lebih dari 25% dari total pendapatan. Maka, pengurangan titik fisik kecil bukanlah tanda kemunduran, melainkan transformasi menuju omnichannel yang lebih efisien. Analis menilai IKEA akan terus menyeimbangkan antara kehadiran fisik dan digital untuk tetap menjadi pemimpin pasar furnitur global.
[SOCIAL_TWEET]: IKEA umumkan penutupan dua lokasi ‘Plan and order point’ di AS per 30 Agustus. Ini bagian dari strategi aksesibilitas & keberlanjutan di era omnichannel. #IKEA #BisnisRitel #StrategiBisnis[SOCIAL_TG]: 🛒 IKEA tutup dua gerai “Plan and order point” di AS mulai 30 Agustus. Keputusan ini disebut bagian dari strategi aksesibilitas dan keberlanjutan. Apa dampaknya? Cek selengkapnya.
Comments (0)