WHO Peringatkan Satu dari Lima Orang Berisiko Terkena Kanker

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis laporan terbaru yang mengejutkan: satu dari lima orang di seluruh dunia berisiko mengalami kanker sepanjang hidup

Jul 12, 2026 - 17:35
0 0

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis laporan terbaru yang mengejutkan: satu dari lima orang di seluruh dunia berisiko mengalami kanker sepanjang hidup mereka. Ini berarti sekitar 20% populasi global akan menghadapi penyakit mematikan ini, sebuah angka yang menyoroti urgensi perbaikan sistem kesehatan dan penghapusan hambatan sosial-ekonomi.

Temuan Utama dari Laporan WHO

Berdasarkan data terkini yang dikumpulkan dari 194 negara, WHO menyatakan bahwa meskipun kemajuan pengobatan terus berkembang, ketimpangan akses terhadap layanan kesehatan masih menjadi penyebab utama tingginya angka kematian. Negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah menanggung beban terberat, dengan fasilitas diagnostik dan terapi yang sangat terbatas.

"Kanker bukan lagi vonis mati, tetapi hanya jika semua orang memiliki akses yang sama terhadap perawatan. Kenyataannya, banyak pasien meninggal bukan karena kanker, tetapi karena kemiskinan," ujar Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO, dalam konferensi pers daring.

Ketimpangan Akses Pengobatan di Seluruh Dunia

Laporan tersebut mengungkapkan bahwa lebih dari 70% kematian akibat kanker terjadi di negara berkembang, di mana layanan kesehatan dasar masih langka. Di Afrika sub-Sahara, misalnya, hanya ada satu mesin radioterapi untuk setiap 10 juta orang, sementara di Eropa rasionya 1:250.000. Biaya pengobatan yang mahal juga memaksa jutaan keluarga jatuh miskin setiap tahun.

WHO mencatat faktor-faktor utama yang memperburuk krisis ini:

  • Kurangnya program deteksi dini: Hanya 30% negara melaporkan adanya layanan skrining kanker umum seperti mammografi atau tes Pap.
  • Distribusi obat yang tidak merata: Obat-obatan esensial seperti opioid untuk pereda nyeri hanya tersedia di 20% negara anggota.
  • Sumber daya manusia terbatas: Proporsi tenaga onkologi di negara berpenghasilan tinggi mencapai 100 kali lipat dibandingkan negara miskin.

Stigma Sosial yang Menghambat Perawatan

Selain kendala struktural, stigma sosial menjadi penghalang besar bagi penanganan kanker. Dalam banyak budaya, kanker dianggap sebagai aib atau kutukan, sehingga penderitanya enggan mencari bantuan. WHO menemukan bahwa stigma ini paling kuat pada jenis kanker yang terkait dengan gaya hidup, seperti kanker paru-paru (dikaitkan dengan merokok) dan kanker serviks (berhubungan dengan infeksi menular seksual).

Di beberapa komunitas, perempuan yang didiagnosis kanker payudara kerap dikucilkan karena dianggap kehilangan feminitasnya. Sementara itu, pasien kanker hati di Asia yang berhubungan dengan hepatitis B sering diidentikkan dengan moralitas buruk. Akibatnya, banyak kasus terlambat ditangani sehingga tingkat kesintasan menurun.

Langkah Strategis WHO untuk Menurunkan Risiko

Untuk menekan angka prediksi ini, WHO menetapkan tiga pilar utama dalam Rencana Aksi Global Kanker 2025-2030:

  1. Peningkatan investasi pada sistem kesehatan primer: Setiap negara harus mengalokasikan minimal 5% GDP-nya untuk layanan onkologi.
  2. Edukasi publik dan kampanye anti-stigma: Kerja sama dengan tokoh masyarakat dan media untuk mengubah narasi tentang kanker.
  3. Kemitraan global untuk transfer teknologi: Negara maju diwajibkan berbagi pengetahuan dan peralatan dengan negara berkembang melalui skema lisensi terbuka.

WHO juga menyerukan kepada pemerintah agar segera menerapkan kebijakan pengendalian tembakau, pengurangan alkohol, dan vaksinasi luas untuk mencegah kanker hati dan serviks. "Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan pendekatan kuratif. Pencegahan adalah kunci, dan itu harus dimulai sejak dini," tegas Dr. Elisabete Weiderpass, Direktur IARC.

Harapan di Tengah Ancaman

Meskipun proyeksi ini menakutkan, kemajuan dalam imunoterapi dan pengobatan personal memberikan secercah optimisme. Angka kelangsungan hidup untuk leukemia dan melanoma, misalnya, meningkat drastis dalam dekade terakhir. Namun, manfaatnya hanya akan dirasakan jika akses merata.

Organisasi seperti Union for International Cancer Control (UICC) memperingati Hari Kanker Sedunia dengan tema "Close the Care Gap" untuk menggugah kesadaran global. Aktivis dari berbagai negara melakukan aksi damai menuntut subsidi pengobatan dan penghapusan diskriminasi.

[SOCIAL_TWEET]: 🚨 WHO: 1 dari 5 orang akan kena kanker! Ketimpangan akses & stigma masih hambat perawatan. 70% kematian di negara miskin. Saatnya tutup celah! #KankerGlobal #WHO #KesehatanUntukSemua[SOCIAL_TG]: 🔴 WHO Ringkas: 1 dari 5 orang berisiko kena kanker. Akses obat & alat timpang, stigma bikin pasien takut berobat. Yuk, cek kesehatan rutin!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User