Di Balik Padel Bhayangkara, Hangat yang Tak Terucap

Pagi itu, suara bola padel yang terpukul raket terdengar seperti ketukan bersahaja di sudut Kemang. Di Padel Corner Kemang 27, Jakarta Selatan, sinar matahari menelusup di sela-sela dinding kaca, meny...

Jul 12, 2026 - 18:06
0 0

Pagi itu, suara bola padel yang terpukul raket terdengar seperti ketukan bersahaja di sudut Kemang. Di Padel Corner Kemang 27, Jakarta Selatan, sinar matahari menelusup di sela-sela dinding kaca, menyentuh wajah-wajah yang berbalut keringat. Bukan sekadar pertandingan yang berlangsung, melainkan sebuah perayaan diam-diam—ruang tempat jemari yang biasa memegang tugas negara, kini memilin raket dengan senyum yang lepas.

Di sanalah Polri menggelar Padel Bhayangkara Cup 2026. Di tengah lapangan berlapis rumput sintetis, batas antara seragam dan baju olahraga melebur. Seorang perwira tertawa kecil saat bolanya gagal menyeberang net, disambut tepuk tangan dari rekan-rekannya. Di sudut lain, seorang peserta dari kalangan umum, seorang ibu muda yang baru pertama kali memegang raket padel, tampak berbisik pada pelatih dadakan berpangkat brigadir, “Ternyata susah ya, Pak. Tapi saya senang sekali bisa main bareng.

Padel, Bahasa yang Lembut di Usia ke-80

Hari Bhayangkara ke-80 sebenarnya adalah momen yang bertabur seremoni kenegaraan. Namun di Kemang, peringatan itu menemukan terjemahan lain. Turnamen ini dirancang bukan sebagai seremoni kaku, melainkan ajang yang menyentuh relung personal. Di sela-sela set, tak jarang obrolan mengalir tentang keluarga, tentang masa kecil para polisi yang ikut bertanding, atau tentang mimpi anak-anak mereka. Lapangan padel seakan menjadi ruang pengakuan tanpa perlu kata-kata besar.

“Kami ingin merayakan usia Bhayangkara dengan cara yang berbeda. Bukan hanya defile dan upacara, tapi lewat keringat dan tawa yang sama-sama kami rasakan dengan warga,” ujar salah satu perwira panitia, suaranya parau karena terlalu banyak menyemangati tim. Matanya berbinar saat bercerita tentang antusiasme peserta. Sejak pendaftaran dibuka, kuota terpenuhi dalam hitungan hari. “Itu pertanda bahwa masyarakat rindu kedekatan yang sederhana,” tambahnya.

Dari Anggota Baru yang Gemetar Hingga Warga yang Berani Mimpi

Di antara deretan pemain, ada kisah Briptu Adit (26), yang baru sebulan bertugas di satuan lalu lintas. Baginya, Padel Bhayangkara Cup adalah pengalaman yang menggetarkan sekaligus melegakan. “Saya masih sering gugup kalau ngatur lalu lintas, apalagi dimarahin pengendara. Tapi di sini, saya merasa lebih diterima. Ada ibu-ibu yang dengan sabar ngajari saya servis,” tuturnya, setengah malu. Air mukanya berubah saat mengenang ibunya di kampung yang selalu berpesan agar dia menjaga hati dalam bertugas. “Ini mungkin hadiah kecil buat Ibu, bahwa anaknya bisa tersenyum di Hari Bhayangkara.”

Di sisi lain, ada kisah Pak Harun (58), warga sekitar Kemang yang sehari-hari bekerja sebagai penjaga toko kelontong. Dengan lutut yang mulai digerogoti usia, ia nekat ikut turnamen kategori fun. “Saya pengin ngerasain main bareng polisi. Selama ini cuma lihat dari jauh. Ternyata mereka seperti kita juga, bisa capek, bisa salah pukul, dan bisa ketawa lepas,” katanya. Di matanya yang mulai rabun, terpancar kebanggaan kecil. Momen sederhana itu adalah jembatan yang selama ini mungkin rekah oleh jarak dan prasangka.

Bhayangkara ke-80: Merajut Kembali Benang yang Terurai

Peringatan ulang tahun korps kepolisian sering kali diramaikan dengan angka dan capaian. Namun di Kemang, yang lebih menggema adalah cerita-cerita manusiawi. Saat matahari semakin tinggi, seorang polwan berhijab tampak memeluk lawan mainnya setelah pertandingan sengit. Keduanya berasal dari tim berbeda, tapi dalam dekap itu tak ada lagi sekat. “Kami semua menang hari ini,” bisiknya, sementara seorang anak kecil, mungkin putrinya, memandangi medali partisipasi dengan mata berbinar.

Padel, olahraga yang terbilang baru di Indonesia, seolah menjadi metafora yang pas. Di lapangan berpagar kaca ini, bola tak bisa lepas begitu saja; ia harus kembali, harus direspon, harus dijaga agar tetap hidup. Seperti hubungan antara Polri dan masyarakat, yang selalu membutuhkan pantulan, komunikasi, dan keinginan untuk terus bergerak bersama, meski kadang terpeleset atau gagal memukul bola.

Sore menjelang, lampu lapangan mulai dinyalakan. Suara pukulan bola masih terdengar, bercampur dengan suara azan dari kejauhan. Beberapa peserta berfoto bersama, berpelukan, atau sekadar duduk di bangku pinggir lapangan sambil menikmati es teh. Tidak ada pidato panjang, tidak ada arahan berformalin. Hanya ada manusia yang saling memandang sebagai teman, sebagai sesama yang punya cerita untuk dibagikan.

Padel Bhayangkara Cup 2026 mungkin hanyalah satu turnamen kecil di sudut Jakarta. Namun bagi mereka yang hadir, ia adalah isyarat bahwa Hari Bhayangkara ke-80 tak hanya milik korps, melainkan milik siapa saja yang memilih untuk hadir, berpeluh, dan berbagi tawa. Di Kemang, sebuah peringatan telah dirayakan dengan cara yang paling jujur: tanpa dinding.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User