Harum Angin Mammiri Menyambut Babak Baru Zakat
Baruga Anging Mammiri, Rumah Jabatan Wali Kota Makassar, Senin (6/7/2026) siang itu tak hanya menampung orang-orang penting. Ia juga menampung harapan. Ang
Baruga Anging Mammiri, Rumah Jabatan Wali Kota Makassar, Senin (6/7/2026) siang itu tak hanya menampung orang-orang penting. Ia juga menampung harapan. Angin yang menerpa atap rumbia terasa sakral saat lima orang maju satu per satu, menadahkan tangan, mengucap sumpah. Wali Kota Munafri Arifuddin memandang mereka lekat-lekat, seolah menitipkan sebuah kota yang ingin ia lihat lebih adil. Pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar periode 2026–2031 resmi mengemban amanah baru.
“Pelantikan ini bukan hanya mengganti pengurus lama dengan yang baru, tetapi menjadi momentum untuk meningkatkan apa yang masih kurang dan memperkuat berbagai program yang telah berjalan baik. BAZNAS harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembangunan Kota Makassar,” ujar Munafri, suaranya pelan namun tegas.
Di barisan depan, Usman Sofian—yang kini menjabat Ketua BAZNAS—menyeka peluh haru. Ia didampingi empat anggota: Yusran Sofyan, Abdul Azis Ilyas, Ahyar Amnur, dan Prof. Yusriani. Bagi Usman, ini bukan sekadar posisi. Ia ingat benar pesan sang Wali Kota: zakat harus menjadi instrumen strategis pengentasan kemiskinan. Bukan sekadar pengumpul dana, tapi jembatan bagi mereka yang tertatih di garis rentan.
Di lorong-lorong Makassar, harapan itu sesungguhnya sudah lama ditunggu. Sebut saja Ibu Hasnah (47), penjual gorengan di sekitar Pannampu. Setahun lalu, ia hanya bermodal satu wajan tua. Setelah menerima bantuan modal dari program zakat produktif BAZNAS, lapaknya kini punya etalase kecil dan bahkan bisa membiayai les bahasa Inggris anak bungsunya. “Dulu kami terbiasa menerima ikan. Sekarang kami diberi kail. Saya berani menyebut diri saya ‘petani zakat’,” katanya sambil tertawa kecil, sedikit malu namun matanya berbinar.
Cerita Ibu Hasnah bukanlah anomali. Laporan redaksi mencatat, selama periode sebelumnya, BAZNAS Makassar berhasil mengubah wajah ratusan mustahik menjadi muzaki. Namun, Wali Kota Munafri mengingatkan, ukuran keberhasilan bukan pada nominal rupiah yang dikumpulkan, melainkan seberapa dalam dampak yang dirasakan.
“Yang terpenting bukan hanya seberapa besar dana yang berhasil dihimpun, tetapi seberapa besar dana itu bisa dikembalikan kepada masyarakat secara tepat sasaran. Melalui BAZNAS kita bisa mengurangi kemiskinan, mengurangi kesenjangan sosial, dan menghadirkan empati kepada masyarakat,” tegasnya.
Ia meminta agar program BAZNAS beranjak dari sekadar bantuan konsumtif ke pemberdayaan ekonomi berkelanjutan. Data menjadi kata kunci. Munafri menginstruksikan agar seluruh program penghimpunan dan penyaluran disusun berdasarkan pemetaan mustahik yang akurat—bukan perkiraan. “BAZNAS harus bermain dengan data,” ujarnya, mengisyaratkan era baru zakat berbasis bukti.
Usman Sofian, yang ditemui usai pelantikan, mengaku terinspirasi oleh semangat kolaborasi. “Kami ibarat ranting-ranting di pohon kebaikan. Dana zakat adalah airnya, mustahik adalah daun yang harus menghijau. Kami akan pastikan setiap tetesnya sampai ke akar yang tepat. Tidak ada lagi tetangga yang kelaparan sementara kita tidur kenyang,” ucapnya, metaforis namun membumi.
Prof. Yusriani, anggota BAZNAS yang berlatar akademisi, menambahkan bahwa pihaknya akan menggandeng perguruan tinggi untuk riset kemiskinan partisipatif, memastikan bantuan tepat sasaran berdasarkan kondisi lapangan, bukan sekadar data administratif. Langkah ini diyakini akan menjawab keraguan publik tentang efektivitas zakat.
Kepengurusan baru ini lahir dari seleksi panjang yang melibatkan tokoh masyarakat, ulama, dan profesional. Prosesnya sendiri adalah cerminan harapan bersama: BAZNAS harus menjadi mitra strategis Pemkot Makassar, bukan sekadar pelengkap seremonial. Dalam sambutannya, Munafri menyampaikan apresiasi kepada pengurus periode 2021–2026 yang telah meletakkan fondasi, namun ia menantang inovasi lebih besar. “Zakat bukan hanya tentang mentransfer harta, tapi juga mentransfer empati menjadi energi sosial,” pesannya.
Kini, di Baruga yang teduh, harum anging mammiri seakan turut membisikkan doa. Babak baru zakat Makassar dimulai, dan warga seperti Ibu Hasnah menanti, bukan hanya kail, tapi lautan yang lebih tenang.
Comments (0)