Kisah SD Negeri 8 Kranji yang Hanya Punya Tiga Siswa Baru
Di sudut Kecamatan Purwokerto Timur yang masih dihiasi rimbun pohon, sebuah sekolah dasar negeri menyambut tahun ajaran baru dengan sunyi. Senin, 13 Juli lalu, SD Negeri 8 Kranji hanya dihuni tiga ana...
Di sudut Kecamatan Purwokerto Timur yang masih dihiasi rimbun pohon, sebuah sekolah dasar negeri menyambut tahun ajaran baru dengan sunyi. Senin, 13 Juli lalu, SD Negeri 8 Kranji hanya dihuni tiga anak yang duduk manis di bangku kelas satu. Tak ada riuh tawa berlarian, tak ada kerumunan orang tua yang antre mendaftarkan buah hatinya. Hanya tiga pasang mata kecil yang memandang papan tulis dengan rasa ingin tahu yang besar, namun juga menyimpan tanya: mengapa hanya kami bertiga?
Suasana itu begitu kontras dengan ingatan masa lalu, saat halaman sekolah ini dipenuhi puluhan anak yang bermain kejar-kejaran sebelum bel berbunyi. Kini, lorong kelas yang dulu ramai terasa lengang. Bangku-bangku kosong berbaris rapi, seolah ikut menunggu kehadiran yang tak kunjung datang. Di ruang guru, segelas teh hangat tak tersentuh, menemani para pendidik yang saling melempar senyum penuh harap, namun di sudut mata mereka terselip kegelisahan yang sulit disembunyikan.
"Setiap kali tahun ajaran baru, saya selalu berdoa semoga ada lebih banyak anak yang datang," ujar Sri Mulyani, kepala sekolah yang telah mengabdi di SD Negeri 8 Kranji selama hampir dua dekade. Suaranya bergetar, bukan karena lelah, melainkan oleh rasa sayang yang mendalam pada sekolah yang ia anggap rumah kedua. "Tiga siswa ini adalah mutiara kecil. Mereka berhak mendapatkan pendidikan terbaik, sama seperti anak-anak di sekolah besar."
Kegelisahan di Balik Heningnya Sekolah
Di balik hening yang menyelimuti SD Negeri 8 Kranji, tersimpan kisah panjang tentang pergeseran zaman. Sekolah yang berdiri sejak tahun 1970-an ini perlahan kehilangan daya tariknya, terutama akibat menjamurnya sekolah swasta yang menawarkan fasilitas lebih modern. Banyak keluarga muda di sekitar Purwokerto memilih menyekolahkan anak-anak mereka ke lembaga pendidikan yang dikemas dengan program bilingual, laboratorium komputer, dan gedung bertingkat. Sementara SD Negeri 8 Kranji tetap setia pada kesederhanaannya: dinding cat minyak yang mulai pudar, papan tulis kapur, dan perpustakaan mungil yang hanya diisi beberapa rak buku.
Namun, bagi sebagian warga yang memilih bertahan, kesederhanaan ini justru menjadi kekuatan. Sunarti, orang tua salah satu siswa baru, mengaku sengaja memasukkan anaknya ke sekolah ini karena percaya pada kualitas pengajaran yang penuh perhatian. "Di sini, guru bukan hanya mengajar, tapi juga merawat. Saya sendiri alumni SD ini. Memang tidak mewah, tapi nilai-nilai kebaikan ditanamkan setiap hari," katanya sambil mengelus kepala putra kecilnya yang tengah asyik menggambar di buku tulis.
Perjuangan para pendidik di sekolah ini pun tidak main-main. Dengan jumlah murid yang kian sedikit, mereka harus pandai membagi peran: satu guru bisa merangkap mengajar beberapa mata pelajaran sekaligus, bahkan sesekali turun tangan membersihkan ruang kelas. "Kami tidak bisa hanya mengandalkan dana BOS. Jadi, apa pun kami lakukan agar pembelajaran tetap berjalan," tambah Sri Mulyani, sembari menunjukkan taman kecil di belakang sekolah yang ia tanami cabai dan tomat untuk tambahan gizi siswa.
Mimpi yang Tak Pernah Padam
Meski hanya memiliki tiga siswa di kelas satu, semangat belajar di SD Negeri 8 Kranji tidak pernah redup. Pagi itu, Bu Yanti, guru kelas satu, memulai pelajaran dengan mendongeng. Ketiga anak duduk melingkar di dekat jendela, mata mereka berbinar mendengar kisah si Kancil. "Kecil bukan berarti kalah. Justru dengan kelompok kecil, kami bisa lebih mengenal setiap anak, memahami keunikan mereka satu per satu," tuturnya. Ia percaya, pendidikan bukan soal jumlah, melainkan tentang seberapa dalam sentuhan hati yang diberikan.
Di sudut lain, dua siswa kelas lima tengah serius berlatih membaca puisi untuk lomba antarsekolah. Meski lawan mereka berasal dari sekolah besar dengan segudang prestasi, Bu Yanti terus menyemangati: "Kita buktikan bahwa dari sini juga bisa lahir juara." Air mata haru sempat menetes ketika salah satu murid, Arif, membacakan puisi tentang cita-citanya menjadi guru. "Saya ingin mengajar di sini, Bu. Biar sekolah ini kembali ramai," katanya polos. Kata-kata itu menjadi cambuk bagi seluruh guru untuk terus bertahan.
Kisah SD Negeri 8 Kranji sesungguhnya adalah cermin dari banyak sekolah negeri di pelosok yang berjuang melawan arus urbanisasi dan perubahan selera masyarakat. Mereka tidak menyerah pada sunyi. Justru dalam keheningan, mereka menemukan alasan paling kuat untuk tetap berdiri: bahwa setiap anak, sekecil apa pun jumlahnya, adalah masa depan yang harus dijaga.
Jalan Panjang Mempertahankan Pendidikan Negeri
Harapan masih menyala, meski tantangan membentang di depan. Pemerintah daerah, melalui Dinas Pendidikan Banyumas, telah melakukan berbagai upaya, mulai dari memperbaiki sarana hingga memberikan beasiswa bagi siswa kurang mampu. Namun, mengubah persepsi masyarakat tidak semudah membalik telapak tangan. Dibutuhkan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan komunitas untuk kembali menumbuhkan keyakinan bahwa sekolah negeri tetaplah pilihan utama yang bermartabat.
Di penghujung hari, ketika bel pulang berdentang dua kali, ketiga siswa baru itu berjalan bergandengan tangan menuju gerbang. Langit sore memayungi langkah kecil mereka, seolah merestui perjalanan panjang yang akan ditempuh. Bu Sri memandang dari balik jendela, lalu berbisik lirih, "Selama masih ada satu anak yang mau belajar, lantai sekolah ini masih akan kami pel, papan tulis ini masih akan kami penuhi ilmu." Kalimat itu bukan sekadar janji, melainkan sumpah para penjaga pendidikan yang tak kenal lelah, menyalakan lilin-lilin kecil di tengah sunyi, agar tak ada mimpi anak bangsa yang padam begitu saja.
Baca juga:
Comments (0)