Aug 29, 2026
Politik

Khofifah Indar Parawansa: Profil dan Kinerja Gubernur Jawa Timur

Khofifah Indar Parawansa: Profil dan Kinerja Gubernur Jawa Timur

Khofifah Indar Parawansa: Profil dan Kinerja Gubernur Jawa Timur

Suatu pagi di Pasar Tradisional Gresik, seorang perempuan berbalut blus sederhana tiba-tiba menghentikan langkah rombongannya. Ia bukan tertarik pada tumpukan sayur segar, melainkan pada seorang penjual kerupuk puli yang tengah tertidur lelap di sudut los losan. Perempuan itu menyentuh lembut bahu si penjual dan berbisik, "Lho, kok malah turu? Dagangane dipindah sini, lho. Ayo, biar laris." Penjual itu terbangun kaget, lalu tersenyum. Ia tak percaya yang membangunkannya adalah Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Adegan kecil ini, yang kerap terjadi dalam blusukan-blusukannya, seperti menangkap magnet kepemimpinan Khofifah: hadir tak sekadar menebar janji, melainkan menyentuh denyut kehidupan wong cilik yang paling jujur sekalipun.

Profil Singkat

Lahir di Surabaya pada 19 Mei 1965, Khofifah mewarisi darah pergerakan dari keluarga Nahdlatul Ulama. Ayahnya adalah seorang perwira TNI AL, sementara ibunya seorang aktivis Muslimat NU yang gigih. Lingkungan pesantren dan rumah yang disiplin menempa karakternya sejak bocah. Ketika teman sebayanya bermain lompat tali, Khofifah muda sudah terbiasa mendengar diskusi-diskusi sosial di kediaman keluarga besar Bani Muzayyin. "Saya sejak kecil diajari, hidup ini harus memberi manfaat," kenangnya pada suatu kesempatan. Prinsip itu yang membawanya menjadi aktivis PMII sejak masa kuliah di Fisipol Universitas Airlangga, lalu melebar menjadi anggota DPR termuda di era Orde Baru. Kini, di usianya yang menginjak akhir 50-an, ia adalah perempuan pertama yang memimpin provinsi berpenduduk 41 juta jiwa ini selama dua periode — meski periode keduanya sempat terhenti sesaat oleh kekalahan tipis di Pilgub 2024, yang akhirnya berbalik arah secara dramatis lewat putusan Mahkamah Konstitusi 2025, mengukuhkan kembali dirinya di Jalan Pahlawan 110.

Karier dan Riwayat Jabatan

Jejak politik Khofifah adalah mozaik panjang ketekunan. Ia melesat sebagai anggota legislatif termuda pada 1992 di usia 27 tahun, mewakili Partai Persatuan Pembangunan. Di era Reformasi, ia menjabat Menteri Pemberdayaan Perempuan era Presiden Abdurrahman Wahid, memperkuat reputasinya sebagai advokat gender tangguh. Ia lalu memimpin Kementerian Sosial pada 2014-2018 di kabinet Joko Widodo, meninggalkan cetak biru penanganan bencana yang lebih responsif dan Program Keluarga Harapan yang diperluas. Semua karier itu seolah menjadi pemanasan sebelum misi terbesarnya: memimpin Jawa Timur. Pada 2019, ia menang dengan kampanye sederhana namun merekat — "Nawa Bhakti Satya". Periode pertamanya diwarnai penanganan pandemi COVID-19 yang diakui Organisasi Kesehatan Dunia berkat strategi jaring pengaman sosial dan pembatasan mikro berbasis RT/RW. Lalu datang Pilgub 2024 yang melelahkan. Kalah hitung cepat, ia tak surut. "Perjalanan ini bukan tentang saya. Ini tentang amanah 41 juta warga Jatim yang tak boleh patah di tengah jalan," ucapnya lirih namun tetap dengan mata yang menyala, saat sidang sengketa pemilu yang memenangkannya. Pelantikan keduanya pada Juni 2025 menjadi tonggak bersejarah.

Kinerja dan Program Unggulan

Periode kedua Khofifah tak lagi disibukkan adaptasi pandemi. Ia langsung tancap gas dengan fokus besar pada transformasi ekonomi kerakyatan dan pendidikan vokasi. Berikut sejumlah tonggak utama yang menjadi napas pemerintahannya:

  • "Surabaya–Madura Integrated Economic Belt": Bukan sekadar Jembatan Suramadu yang sudah berdiri, Khofifah mendorong konektivitas logistik antarpelabuhan Tanjung Perak dan pelabuhan di Madura untuk menekan disparitas harga. Di akhir 2025, waktu tempuh distribusi bahan pokok ke Sumenep berhasil dipangkas 30% dibanding dua tahun sebelumnya.
  • Bantuan Modal Usaha Perempuan Pelosok (BMUP2): Inspirasi dari belasan ribu perempuan di desa yang kesulitan akses perbankan, Khofifah meluncurkan program ini dengan skema tanpa agunan dan bunga nol persen. Hingga triwulan pertama 2026, 127.000 ibu-ibu pelaku UMKM di Pacitan, Trenggalek, dan Bondowoso telah menerima manfaat, dengan tingkat pengembalian pembiayaan justru melampaui 98%.
  • Sekolah Vokasi Milenial (SVM) berbasis Industri 4.0: Khofifah meresmikan tujuh SVM baru di Malang, Kediri, dan Banyuwangi yang terhubung langsung kurikulumnya dengan pabrik-pabrik besar, menyiapkan siswa langsung terampil di bidang robotika ringan, teknik elektro, dan pengembangan gim.

Yang membuat sejumlah program ini tak sekadar angka adalah bagaimana Khofifah memantaunya. Ia punya catatan kecil bersampul hijau yang selalu dibawanya saat blusukan. Di situ tertulis nama-nama desa, janji spesifik pada warga, dan tenggat waktu. Seorang camat di Malang Selatan mengaku pernah ditelepon langsung oleh Gubernur hanya karena lupa mengirimkan laporan perbaikan sumur bor yang diminta seorang nenek petani kopi. "Saya takut, tapi juga kagum. Beliau ingat semua," kata camat itu.

Tantangan dan Harapan

Memimpin Jawa Timur tak ubahnya mengemudikan kapal besar di tengah selat yang semakin sempit. Tantangan 2025-2026 bertubi: ketimpangan antara mataraman selatan yang masih berkutat dengan kemiskinan dan daerah tapal kuda utara yang berlomba menjadi zona industri. Musim kemarau basah 2026 tak terduga telah memukul sektor pertanian di Ngawi dan Bojonegoro, memaksanya kembali memutar otak jaringan irigasi sekunder darurat. Belum lagi persoalan usia yang kian matang, menimbulkan pertanyaan bisik-bisik di kalangan partai: Akankah

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User