Aug 25, 2026
Politik

Dedi Mulyadi: Profil dan Kinerja Gubernur Jawa Barat

Dedi Mulyadi: Profil dan Kinerja Gubernur Jawa Barat

Dedi Mulyadi: Profil dan Kinerja Gubernur Jawa Barat

Profil Singkat

Hari masih pagi ketika sebuah mobil dinas putih berhenti di pinggir sawah di kawasan Karawang. Seorang pria berpeci hitam turun, menggulung celana, lalu ikut menanam padi bersama para petani. Tidak ada pengawalan ketat. Tidak ada sambutan protokoler. Pria itu adalah Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat yang dilantik pada Februari 2025. Adegan itu bukan pencitraan sesaat — ia telah melakukannya sejak lama, sejak masih menjadi Bupati Purwakarta.

Lahir di Subang pada 11 April 1971, Dedi Mulyadi tumbuh dalam lingkungan keluarga sederhana. Ayahnya seorang guru, ibunya pedagang kecil. Dari keduanya, ia belajar tentang disiplin dan kepekaan terhadap rakyat kecil. Selepas SMA, ia melanjutkan pendidikan hukum di Universitas Pasundan Bandung dan kemudian meraih gelar magister di Universitas Padjadjaran.

Karier dan Riwayat Jabatan

Karier politik Dedi dimulai dari bawah. Ia pernah menjadi anggota DPRD Purwakarta, lalu menjabat Wakil Bupati Purwakarta pada 2003 mendampingi Bupati Lily Hambali Hasan. Pada 2008, ia terpilih sebagai Bupati Purwakarta dan memimpin daerah itu selama dua periode hingga 2018.

Selama memimpin Purwakarta, ia dikenal sebagai pemimpin yang eksentrik namun visioner. Ia melarang penggunaan mobil dinas mewah, memilih naik sepeda atau berjalan kaki ke kantor. Ia mengubah wajah Purwakarta menjadi kota seni dan budaya: membangun patung-patung tokoh pewayangan, merevitalisasi alun-alun, dan mewajibkan pegawai mengenakan pakaian adat Sunda pada hari tertentu. Kritik datang, tetapi hasilnya Purwakarta menjelma menjadi salah satu daerah paling berkarakter di Jawa Barat.

Setelah purna tugas sebagai bupati, ia melenggang ke Senayan sebagai anggota DPR RI periode 2019–2024 dari Partai Gerindra. Di parlemen, suaranya kerap tajam menyentil kebijakan yang dianggap tidak memihak rakyat kecil. Pada Pilkada Serentak 2024, ia maju sebagai calon Gubernur Jawa Barat dan memenangkan kontestasi dengan suara signifikan.

Kinerja dan Program Unggulan

Seratus hari pertama Dedi Mulyadi sebagai Gubernur Jawa Barat diwarnai gebrakan yang mencerminkan gaya kepemimpinannya: langsung, merakyat, dan tidak birokratis. Salah satu langkah awalnya adalah rebranding program "Jabar Caang", penerangan jalan di desa-desa yang selama ini gelap gulita. Ia turun sendiri memantau titik-titik yang belum terjamah listrik.

Berikut sejumlah program unggulan yang mulai berjalan:

  • Jabar Bedas Mulang ka Desa: Program penguatan ekonomi pedesaan dengan membuka akses permodalan untuk petani dan UMKM lokal.
  • Sekolah Rakyat Berbasis Budaya: Revitalisasi kurikulum muatan lokal Sunda di sekolah, lengkap dengan pelatihan guru dan pembangunan sanggar seni di setiap kecamatan.
  • Jalan Desa Mulus: Perbaikan infrastruktur jalan kabupaten dan desa yang rusak parah, dengan target 5.000 kilometer dalam dua tahun pertama.
  • Anti-Korupsi Birokrasi: Sistem digital terintegrasi untuk perizinan dan pengadaan, memangkas celah pungutan liar yang dikeluhkan warga.

Salah satu kebijakan yang paling banyak dibicarakan adalah larangan studi banding ke luar negeri bagi pejabat pemprov. "Kalau mau belajar, datanglah ke pesantren, ke petani, ke pasar. Di sana banyak ilmu," ujarnya dalam sebuah rapat koordinasi. Anggaran perjalanan dinas dialihkan untuk beasiswa anak-anak petani dan buruh tani.

Tantangan dan Harapan

Memimpin provinsi dengan 50 juta penduduk bukanlah perkara sederhana. Jawa Barat masih menghadapi persoalan klasik: kemacetan kronis di Bandung Raya, banjir musiman di Bekasi dan Karawang, serta pengangguran generasi muda yang angkanya masih di atas rata-rata nasional. Dedi menyadari bahwa gaya blusukannya tidak cukup — ia butuh kebijakan sistemik yang solid.

"Saya ini cuma tukang ledeng. Kalau ada yang mampet, saya buka. Kalau ada yang bocor, saya tambal. Tidak perlu retorika muluk-muluk," kata Dedi suatu ketika.

Harapan kini bertumpu pada kemampuan Dedi Mulyadi menerjemahkan keberanian personalnya menjadi kinerja birokrasi yang bersih dan efisien. Publik menanti apakah ia mampu mengulang sukses Purwakarta dalam skala raksasa bernama Jawa Barat. Satu hal yang pasti: di tengah lanskap politik yang makin transaksional, sosok yang masih sudi menanam padi bersama petani tetaplah pemandangan yang melegakan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User