I Wayan Koster: Profil dan Kinerja Gubernur Bali
I Wayan Koster: Profil dan Kinerja Gubernur Bali
Profil Singkat
Ketika I Wayan Koster duduk di pendopo sederhana rumah masa kecilnya di Desa Banyuatis, Buleleng, ia kerap menatap jejeran buku-buku yang disusun sang ayah dengan rapi di sudut kamar. Di sanalah, kata Koster, benih kecintaannya pada pengetahuan dan organisasi mulai tumbuh. Jauh sebelum namanya dikenal sebagai politisi nasional, ia adalah anak seorang guru yang terbiasa hidup disiplin dan bersahaja. Lahir pada 15 Oktober 1962, lelaki bertubuh tegap ini menempuh pendidikan teknik sipil di Universitas Udayana, lalu melanjutkan studi magister manajemen di Universitas Indonesia, dan meraih gelar doktor ilmu ekonomi dari Universitas Padjadjaran. Latar belakang akademisnya yang kuat kerap ia jadikan bekal saat merancang kebijakan berbasis data.
Perjalanan hidupnya sebagai aktivis dan organisatoris PDI Perjuangan membuat Koster paham betul seluk-beluk politik akar rumput. Ia menghabiskan waktu bertahun-tahun mendampingi masyarakat kecil, dari pelosok Bali hingga daerah transmigrasi. Hal inilah yang kemudian menempanya menjadi sosok pemimpin yang tenang namun tegas, yang selalu berusaha mendengar sebelum mengambil keputusan. Sosoknya yang cenderung kalem kadang mengundang anggapan bahwa ia lamban, tetapi orang-orang terdekatnya tahu bahwa di balik ketenangan itu terdapat kalkulasi tajam dan hasrat besar untuk memajukan Bali.
Karier dan Riwayat Jabatan
Karier politik Wayan Koster melejit ketika ia terpilih menjadi anggota DPR RI pada 2004. Tiga periode ia duduk di Senayan, mengemban tanggung jawab di Komisi X dan kemudian di Badan Anggaran. Di parlemen nasional, ia dikenal vokal memperjuangkan dana otonomi khusus untuk Bali serta mengawal berbagai regulasi strategis, termasuk Undang-Undang Desa dan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan. Pada 2018, ia memutuskan pulang kampung dan maju sebagai calon Gubernur Bali berpasangan dengan Tjok Oka Artha Ardana Sukawati. Pasangan ini menang mutlak, dan Koster dilantik menjadi Gubernur Bali periode 2018-2023. Pada Pilkada 2024, ia kembali terpilih untuk periode kedua—sebuah mandat yang menandai kepercayaan warga Bali terhadap arah pembangunan yang ia pimpin.
Kinerja dan Program Unggulan
Gaya kepemimpinan Koster sejatinya sudah tampak sejak awal masa jabatan pertamanya. Dengan program Nangun Sat Kerthi Loka Bali, ia merumuskan visi pembangunan berbasis harmoni antara alam, manusia, dan budaya Bali. Visi ini tidak tinggal slogan. Langkah berani ia tunjukkan dengan menerbitkan Pergub yang melarang penggunaan plastik sekali pakai—kebijakan yang sempat menimbulkan riak protes namun kemudian diapresiasi secara internasional. Larangan penggunaan air
Comments (0)