Gandeng Pemkot Depok, BPJS Ketenagakerjaan Perkuat Keluarga Pekerja

Di sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui sepeda motor di kawasan Sukmajaya, Depok, sore itu hujan rintik membasahi atap seng rumah-rumah kontrakan. Di teras mungil berukuran dua kali tiga meter, ...

Jul 14, 2026 - 20:18
0 0

Di sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui sepeda motor di kawasan Sukmajaya, Depok, sore itu hujan rintik membasahi atap seng rumah-rumah kontrakan. Di teras mungil berukuran dua kali tiga meter, seorang perempuan paruh baya, Ratih (43), sibuk mengaduk adonan kue di baskom plastik. Aroma pandan dan gula merah samar-samar menyeruak. Setahun lalu, Ratih hanyalah istri seorang pekerja pabrik sepatu yang penghasilannya pas-pasan. Suaminya terkena pemutusan hubungan kerja tanpa pesangon yang memadai. Hidup terasa gelap. Namun kini, dari dapur sederhana itu, ia bisa meraup omzet jutaan rupiah sebulan. Kisah Ratih adalah satu dari banyak cerita yang bermula dari Program Pemberdayaan Ekonomi dan Kemandirian (PEKA) BPJS Ketenagakerjaan yang kini menggandeng Pemerintah Kota Depok.

Mengubah Duka Jadi Daya

Ratih tidak sendiri. Di Depok, puluhan keluarga pekerja yang terdampak risiko sosial—kecelakaan kerja, kematian, atau PHK—seringkali kehilangan tumpuan ekonomi. Bantuan tunai dari program Jaminan Kecelakaan Kerja atau Jaminan Kematian biasanya habis untuk kebutuhan mendesak. Setelah itu, mereka rentan jatuh miskin. BPJS Ketenagakerjaan membaca celah ini: perlindungan tidak boleh berhenti pada kompensasi finansial, tetapi harus menyentuh akar persoalan, yaitu kemandirian ekonomi jangka panjang. Maka lahirlah PEKA, sebuah ekosistem pemberdayaan yang tidak cuma memberi pelatihan, tetapi juga mendampingi hingga peserta benar-benar bisa berdikari. “Suami saya meninggal karena serangan jantung saat bekerja. Uang santunan dari BPJS Ketenagakerjaan cepat habis buat bayar utang dan biaya sekolah anak. Saya bingung harus kerja apa. Lalu petugas BPJS datang, bukan untuk menagih, tetapi menawari saya ikut pelatihan membuat kue dan mengelola keuangan,” tutur Ratih lirih, sesekali menyeka sudut matanya.

Kolaborasi Dua Pilar

Momentum besar terjadi ketika BPJS Ketenagakerjaan resmi bermitra dengan Pemerintah Kota Depok. Wali Kota Depok, dalam pertemuan yang berlangsung hangat di Balai Kota, menekankan bahwa program ini sejalan dengan visi kota untuk menekan angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga yang terdampak guncangan ekonomi. Kolaborasi itu memperkuat PEKA di level akar rumput. Pemkot Depok membuka akses data warga yang membutuhkan, menyediakan tempat pelatihan, serta memfasilitasi perizinan dan pemasaran produk-produk yang dihasilkan para peserta. Sementara BPJS Ketenagakerjaan menyuntikkan modul kewirausahaan, akses permodalan melalui lembaga keuangan mitra, dan pendampingan intensif oleh mentor bisnis. Sinergi ini ibarat dua sayap yang mengangkat keluarga pekerja dari jurang kerentanan menuju kemandirian. “Kami tidak ingin perlindungan hanya berhenti di klaim. Filosofinya adalah melindungi hingga pekerja dan keluarganya bisa bangkit dan mandiri. PEKA adalah jembatan menuju ke sana, dan dengan Pemkot Depok, jembatan itu semakin kokoh,” ujar Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Depok dalam kunjungan ke sentra usaha binaan.

Dari Pelatihan ke Pasar

Para peserta PEKA tidak hanya dibekali skill teknis. Mereka juga diajari pengemasan yang menarik, pemasaran melalui media sosial, hingga cara menghitung harga pokok produksi. Di sebuah ruko sederhana yang diubah menjadi ruang pelatihan, belasan perempuan belajar membuat hidangan beku, kerajinan tangan, atau usaha laundry. Mereka tampak serius, sesekali bercanda, namun tatapan mereka penuh harap. Salah satunya adalah Juminten (38), istri seorang sopir angkot yang meninggal karena kecelakaan. Dengan program PEKA, ia kini memiliki usaha warung pecel dan menjadi pemasok katering acara RT setempat. “Dulu saya hanya menangis dan bertanya kenapa cobaan ini datang. Tapi sekarang saya sadar, suami saya pergi bukan untuk meninggalkan kami dalam penderitaan, melainkan memberi kami semangat untuk bertahan. PEKA mengajarkan saya bahwa saya bisa,” katanya terbata-bata, memeluk erat sertifikat pelatihannya.

Melampaui Bantuan, Menciptakan Ekosistem

Yang membuat PEKA berbeda dari program bantuan sosial pada umumnya adalah pendekatan ekosistemnya. Peserta yang sudah berhasil didorong menjadi mentor bagi peserta baru. Terbentuklah komunitas usaha kecil yang saling menguatkan. Di Depok, misalnya, terbentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang beranggotakan puluhan alumni PEKA. Mereka berbagi informasi peluang, saling membantu modal bergulir, dan kolektif menitipkan produk ke toko oleh-oleh dan e-commerce. Tak jarang, Pemkot Depok mengundang mereka dalam pameran produk UMKM, membuka akses ke pasar yang lebih luas. “Ini bukan sekadar memberi ikan atau pancing, tapi membangun koloni pemancing yang bisa saling menopang. Kemandirian sejati lahir dari sini,” ujar seorang pendamping program sambil tersenyum melihat para peserta yang semakin percaya diri.

Kini, ketika senja merunduk di langit Depok, rumah-rumah sederhana itu tak lagi sunyi oleh kegelisahan. Dapur-dapur kecil menyala, tangan-tangan cekatan bekerja, dan anak-anak kembali bisa bermimpi. Program PEKA telah menjelma menjadi denyut kehidupan baru bagi mereka yang hampir menyerah. Kolaborasi BPJS Ketenagakerjaan dan Pemkot Depok bukan sekadar nota kesepahaman di atas kertas, melainkan perjanjian hati untuk menjaga nyala harapan ribuan keluarga pekerja.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User