Gajah Liar di Pelalawan Dipasangi Kalung GPS untuk Mitigasi Konflik

Seekor gajah betina liar Sumatra di kawasan konservasi Tesso Tenggara, Kabupaten Pelalawan, Riau, berhasil dipasangi kalung pelacak GPS (Global Positioning

Jul 11, 2026 - 18:09
0 0
Gajah Liar di Pelalawan Dipasangi Kalung GPS untuk Mitigasi Konflik

Seekor gajah betina liar Sumatra di kawasan konservasi Tesso Tenggara, Kabupaten Pelalawan, Riau, berhasil dipasangi kalung pelacak GPS (Global Positioning System Collar) oleh tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, awal November lalu. Pemasangan ini menjadi bagian dari upaya membangun sistem peringatan dini guna mengurangi interaksi negatif antara gajah liar dan masyarakat sekitar hutan.

Operasi yang melibatkan dokter hewan, teknisi wildlife tracking, dan jagawana itu dilakukan dengan metode pembiusan dari jarak dekat. Setelah dipingsankan, gajah betina dewasa yang diperkirakan berusia 25 tahun itu segera diperiksa kesehatannya dan dipasangi kalung GPS yang mengirim sinyal lokasi setiap dua jam ke pusat pemantauan BBKSDA. Yang mengharukan, seekor anak gajah masih menyertai induknya dan terlihat menunggui dari balik semak sebelum akhirnya ikut pergi setelah induknya sadar sepenuhnya.

Langkah Konkret di Tengah Maraknya Konflik Satwa-Manusia

Kepala BBKSDA Riau, Genman S. Hasibuan, menegaskan bahwa pemasangan GPS collar adalah strategi prioritas dalam cetak biru mitigasi konflik satwa-manusia di bentang alam Sumatera. “Dengan data pergerakan real-time, kami bisa memberi tahu masyarakat desa terdekat jika ada gajah mendekati permukiman atau lahan pertanian, sehingga bisa dilakukan penggiringan dini atau pengamanan sebelum konflik pecah,” ujarnya saat diwawancarai melalui sambungan telepon.

“Selama ini laporan masuk setelah tanaman sudah rusak atau gajah terluka. Sekarang kita bisa proaktif. Kalung GPS ini memberi waktu bagi petugas dan warga untuk bersiap,” jelas Hasibuan.

Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) berstatus kritis (Critically Endangered) dalam daftar merah IUCN. Populasinya terus menyusut akibat deforestasi, alih fungsi lahan, dan fragmentasi habitat. Tesso Tenggara sendiri merupakan koridor penting yang menghubungkan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, namun kawasan ini terus mendapat tekanan pembukaan perkebunan sawit dan hutan tanaman industri. Akibatnya, gajah kerap keluar dari habitatnya dan masuk ke areal garapan manusia, memicu konflik yang merugikan kedua belah pihak.

Teknologi Kalung GPS: Mata di Lapangan untuk Tim Mitigasi

Kalung yang dipasang memiliki bobot sekitar 12 kilogram dan dilengkapi baterai berdaya tahan 2-3 tahun, fitur geofencing, serta pengirim data satelit Iridium. Data pergerakan ditampilkan di dashboard berbasis peta digital yang bisa diakses petugas di lapangan melalui tablet. Jika gajah memasuki zona yang telah ditentukan (misalnya radius 2 km dari desa), sistem otomatis mengirim peringatan melalui SMS dan Whatsapp ke ketua kelompok tani, kepala desa, dan tim respons cepat BBKSDA.

Tidak hanya memberikan peringatan, rekaman pergerakan juga membantu peneliti memahami pola jelajah, daerah jelajah utama (home range), dan musim-musim rawan konflik. Data ini menjadi dasar untuk merancang tata ruang yang lebih ramah satwa, misalnya penempatan kanal buatan, pembangunan menara pantau, atau penanaman tanaman pakan di zona penyangga.

Kisah di Balik Pembiusan: Ketegangan dan Kasih Induk Gajah

Proses pemasangan berlangsung dramatis. Tim harus mendekat dengan hati-hati karena induk gajah sangat protektif terhadap anaknya. Setelah jarak aman tercapai, senapan bius melontarkan obat anestesi yang membuat gajah betina itu tertidur dalam waktu 15 menit. Selagi tim bekerja cepat melakukan pemeriksaan fisik, pemasangan collar, dan pengambilan sampel DNA, anak gajah sempat mondar-mandir cemas tak jauh dari lokasi. Dokumentasi dari fotografer AFP yang menyertai tim menunjukkan momen mengharukan ketika gajah betina itu bangun dan segera menyusui anaknya sebelum menghilang ke balik rimbunnya hutan.

BBKSDA menargetkan pemasangan lima collar tambahan sepanjang tahun ini pada individu gajah liar lain di kantong-kantong populasi yang rawan konflik, termasuk di kawasan Tesso Nilo dan Giam Siak Kecil. Program ini didukung pendanaan dari Asian Elephant Conservation Fund dan kemitraan teknis dengan sejumlah NGO konservasi internasional.

Menganyam Harmoni: Antara Konservasi dan Penghidupan

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Riau, Yulianti Santoso, menyatakan bahwa pendekatan teknologi hanya akan efektif jika dibarengi pemberdayaan masyarakat. “Mitigasi konflik harus adil. Gajah terlindungi, petani tidak dirugikan. Karenanya kami juga mengembangkan skema asuransi tanaman, pelatihan ekowisata berbasis gajah, dan patroli partisipatif bersama kelompok masyarakat peduli satwa,” paparnya.

Serangkaian upaya tersebut diharapkan dapat menekan angka kematian gajah akibat jerat, racun, atau akibat konflik langsung dengan manusia. Dalam lima tahun terakhir, BBKSDA Riau mencatat puluhan kasus kematian satwa dilindungi, dan lebih dari separuhnya melibatkan gajah Sumatra. Kalung GPS bukanlah solusi tunggal, melainkan satu simpul dari jejaring besar perlindungan hayati yang menghubungkan kebijakan, sains, dan kearifan lokal.

Bagi warga Pelalawan, kabar pemasangan collar ini disambut lega. Salah seorang kepala dusun di sekitar Tesso Tenggara, Arifin, mengaku sering mendengar suara gajah di malam hari. “Kalau sudah ada alat begini, kami bisa tidur sedikit nyenyak. Paling tidak kami dikasih tahu duluan, biar sempat menjauhkan hewan ternak dan keluarga dari jalur lintasan gajah,” ucapnya. Suara warga ini menegaskan bahwa konservasi bukan hanya perjuangan di atas kertas, tetapi keseharian yang mempertemukan manusia dan satwa dalam ruang hidup yang terus menyempit.

[SOCIAL_TWEET]: Seekor gajah liar di Pelalawan berhasil dipasangi kalung GPS untuk peringatan dini konflik. Teknologi jadi ujung tombak selamatkan satwa dan lindungi warga. #GajahSumatera #Konservasi #Riau[SOCIAL_TG]: 🐘📸 Seekor gajah betina di Tesso Tenggara kini pakai kalung GPS. Tim BBKSDA Riau berikan peringatan dini agar warga bisa antisipasi sebelum gajah masuk desa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User