Rubel Rusia Anjlok ke Level Terendah Sejak Invasi Ukraina

Nilai tukar rubel Rusia merosot tajam ke level terendah sejak invasi besar-besaran ke Ukraina pada awal 2022, memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas

Jul 11, 2026 - 18:47
0 0
Rubel Rusia Anjlok ke Level Terendah Sejak Invasi Ukraina

Nilai tukar rubel Rusia merosot tajam ke level terendah sejak invasi besar-besaran ke Ukraina pada awal 2022, memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi negara itu. Pada perdagangan Selasa (18/2/2026), rubel sempat menyentuh 120 per dolar AS, melemah lebih dari 15% dalam sebulan terakhir. Para analis menyebut kombinasi peningkatan belanja pertahanan, penurunan pendapatan ekspor, serta tekanan sanksi internasional sebagai pemicu utama.

Faktor Pendorong Pelemahan Rubel

Menurut laporan terbaru dari Bank Sentral Rusia, pelemahan rubel didorong oleh dua faktor utama: lonjakan impor yang dibiayai oleh belanja militer dan penurunan tajam penerimaan dari ekspor minyak dan gas bumi. Sejak perang Ukraina berkecamuk, Rusia meningkatkan pengeluaran pertahanan hingga 40% dari anggaran federal, memicu permintaan tinggi terhadap barang impor—mulai dari komponen militer hingga barang konsumsi—yang harus dibayar dalam mata uang asing.

"Pemerintah Rusia terpaksa mengalirkan devisa dalam jumlah besar untuk mengimpor teknologi dan suku cadang militer yang tidak lagi dipasok oleh negara-negara Barat. Ini menciptakan tekanan luar biasa pada rubel," ujar Alexander Kolyandr, ekonom senior di Center for European Policy Analysis (CEPA).

Di sisi ekspor, pendapatan dari minyak dan gas, yang menjadi tulang punggung ekonomi Rusia, terus menurun. Harga minyak mentah global yang stagnan di kisaran 60-70 dolar AS per barel, ditambah pembatasan produksi yang dilakukan Rusia sebagai bagian dari perjanjian OPEC+, telah mengurangi aliran dolar ke Moskow. Selain itu, sanksi energi terbaru dari Uni Eropa dan Amerika Serikat membatasi kemampuan Rusia menjual minyak ke pasar-pasar premium, sehingga Moskow harus memberikan diskon signifikan kepada pembeli seperti India dan Tiongkok.

Dampak bagi Ekonomi dan Warga Rusia

Pelemahan rubel langsung berimbas pada inflasi dalam negeri. Harga barang impor, termasuk elektronik, obat-obatan, dan bahan makanan, melonjak hingga 25% dalam setahun terakhir, membuat daya beli warga Rusia tergerus. Data Rosstat menunjukkan tingkat inflasi tahunan mencapai 12,7% pada Januari 2026, jauh di atas target bank sentral sebesar 4%.

  • Inflasi bahan makanan: Harga daging dan sayuran naik rata-rata 18% year-on-year.
  • Depresiasi tabungan: Rubel yang lemah mengikis nilai simpanan warga dalam mata uang lokal, mendorong banyak yang beralih ke dolar atau emas.
  • Krisis kepercayaan: Masyarakat mulai meninggalkan rubel sebagai alat penyimpan nilai, memperparah tekanan jual.

Meski demikian, pemerintah Kremlin berusaha menenangkan publik. Menteri Keuangan Anton Siluanov menyebut pelemahan ini bersifat sementara dan menguntungkan eksportir. "Eksportir kami menerima pendapatan lebih besar dalam rubel dari hasil ekspor yang dihitung dalam dolar, ini akan membantu anggaran," katanya dalam rapat Duma.

Respons Bank Sentral dan Prospek

Bank Sentral Rusia diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga acuan dalam rapat darurat pekan ini. Saat ini suku bunga sudah berada di level 18%, dan analis memprediksi kenaikan hingga 200 basis poin untuk menahan arus modal keluar. Namun, efektivitas kebijakan ini diragukan mengingat keterbatasan cadangan devisa yang terus tergerus oleh sanksi dan pembatasan akses ke sistem keuangan global.

Ke depan, prospek rubel sangat bergantung pada dinamika geopolitik. Jika ketegangan dengan Ukraina tetap tinggi dan sanksi Barat bertambah, rubel bisa menyentuh 150 per dolar AS pada pertengahan 2026, prediksi beberapa ekonom. Sebaliknya, jika terjadi gencatan senjata atau pelonggaran sanksi bertahap, rubel berpeluang menguat kembali. Namun, skenario tersebut dianggap masih jauh dari kenyataan.

[SOCIAL_TWEET]: Rubel Rusia jatuh ke level terendah sejak perang Ukraina—tembus 120 per dolar AS. Inflasi meroket, warga makin terjepit. Akankah Bank Sentral mampu menahan krisis? #Rubel #EkonomiRusia #PerangUkraina[SOCIAL_TG]: 📉 Rubel Rusia sentuh level terendah sejak perang Ukraina! Inflasi 12,7%, harga barang melonjak, dan Bank Sentral siap menaikkan suku bunga lagi. Akankah ekonomi Rusia mampu bertahan? Cek detailnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User