Jurnalis Hery Kurniawan Bertanya ke Pelatih Maroko, Rasakan Anthem Brasil di Piala Dunia 2026
Piala Dunia 2026 menyuguhkan pengalaman tak terlupakan bagi jurnalis KLY Sports, Hery Kurniawan. Dalam satu hari liputan di laga Maroko melawan Brasil, ia
Piala Dunia 2026 menyuguhkan pengalaman tak terlupakan bagi jurnalis KLY Sports, Hery Kurniawan. Dalam satu hari liputan di laga Maroko melawan Brasil, ia tidak hanya menyaksikan pertandingan sengit, tetapi juga merasakan atmosfer anthem Brasil yang menggetarkan jiwa dan mendapat kesempatan langka mengajukan pertanyaan langsung kepada pelatih kepala Maroko dalam konferensi pers pasca-pertandingan. Dua momen ini menjadi bukti mengapa Piala Dunia selalu terasa spesial, baik bagi pemain, pendukung, maupun insan media yang bertugas di garis depan.
Anthem Brasil: Ribuan Suara Menyatu di Stadion
Sebelum peluit kick-off dibunyikan di Stadion MetLife, New Jersey, Hery menyaksikan sendiri bagaimana anthem Brasil—"Hino Nacional Brasileiro"—mengubah suasana stadion menjadi lautan emosi. Lagu kebangsaan yang biasanya hanya berkumandang dua menit itu berubah menjadi nyanyian massal yang memekakkan telinga dan menusuk jantung. Lebih dari 60.000 pasang mata tertuju pada para pemain Seleção, tetapi bibir mereka ikut melantunkan bait demi bait dengan penuh semangat.
"Saya berdiri bersama rekan-rekan media di area press tribune, dan bulu kuduk saya langsung merinding. Ini bukan sekadar lagu, ini adalah deklarasi identitas dan kebanggaan sebuah bangsa," ujar Hery sesaat setelah pertandingan. Ia menambahkan bahwa momen paling menyentuh adalah ketika para pemain Brasil—mulai dari Vinícius Jr. hingga Ederson—menyanyi dengan mata terpejam dan tangan di dada, sementara suporter di belakang gawang mengibarkan bendera raksasa. "Atmosfer seperti ini yang tidak bisa diwarisi dari layar televisi. Ini alasan mengapa meliput langsung Piala Dunia adalah mimpi setiap jurnalis olahraga," tegasnya.
Kekuatan anthem Brasil memang legendaris. Dalam banyak turnamen, momen ini sering disebut sebagai "gol pertama" karena mampu membakar semangat tim dan mengintimidasi lawan. Namun, bagi Hery, yang hadir secara langsung, sensasi tersebut berlipat ganda: bunyi drum, teriakan kolektif, dan getaran tribun beton menciptakan simfoni yang sukar dilukiskan dengan kata-kata. Di saat itu pula, ia menyadari bahwa Piala Dunia bukan cuma soal gol dan taktik, melainkan juga festival kemanusiaan yang menyatukan perbedaan dalam satu nyanyian.
Pertanyaan Langsung ke Pelatih Maroko Usai Laga Dramatis
Pertandingan antara Maroko dan Brasil berakhir dengan skor 2-2 setelah adu ketat selama 90 menit. Maroko yang mengandalkan organisasi pertahanan disiplin berhasil menahan gempuran Brasil yang menguasai hingga 62% penguasaan bola. Hasil ini membawa kedua tim ke ruang ganti dengan kepala tegak, tetapi juga meninggalkan sejumlah tanda tanya yang harus dijawab oleh pelatih Maroko, Walid Regragui, di hadapan puluhan wartawan internasional.
Di ruang konferensi pers yang penuh sesak, Hery duduk di baris depan sambil memegang notes berisi catatan taktis. Kesempatan emas datang ketika moderator membuka sesi tanya jawab. Tangan Hery terangkat, dan ia pun diberikan mikrofon. Dengan suara tenang namun lugas, ia melontarkan pertanyaan dalam bahasa Inggris—sebuah momen yang menjadi sorotan kecil bagi delegasi media Indonesia.
"Coach, bagaimana Anda mengevaluasi transisi dari bertahan ke menyerang di babak kedua? Tampaknya ada celah yang dimanfaatkan Brasil lewat sisi sayap," tanya Hery kepada Regragui.
Regragui yang mengenakan setelan jas abu-abu mengangguk, lalu menjawab dengan analisis mendetail selama hampir tiga menit. Ia mengakui bahwa rotasi posisi di lini tengah memang membuat timnya sedikit terlambat menutup ruang, tetapi ia memuji determinasi Achraf Hakimi dan rekan-rekannya yang tak kenal lelah. "Kami bermain melawan salah satu tim terbaik di dunia. Respons saya positif karena para pemain menunjukkan karakter setelah tertinggal," ujarnya.
Bagi Hery, momen bertanya langsung kepada pelatih level dunia seperti Regragui bukan sekadar aksi jurnalistik biasa. Ia mencatat bahwa interaksi ini memperlihatkan akses dan kepercayaan yang diberikan kepada jurnalis Indonesia di panggung global. "Saya merasa ini adalah bentuk pengakuan terhadap kualitas jurnalisme olahraga Indonesia," kata Hery seusai sesi konferensi. Ia berharap pengalaman ini dapat menginspirasi jurnalis muda Indonesia untuk terus mengasah kemampuan dan berani tampil di forum internasional.
Refleksi: Dua Sisi Pesona Piala Dunia
Selepas dua momen penting tersebut, Hery kembali mengetik laporannya di media center yang dilengkapi teknologi mutakhir. Di sela-sela jari yang menari di atas kibor, ia merenungkan bahwa pengalaman meliput Piala Dunia 2026 bukan hanya tentang berita transfer rumor atau statistik pertandingan. Ada dimensi emosional dan manusiawi yang hanya bisa ditangkap jika kita hadir secara fisik.
Dari anthem Brasil yang memicu tangis haru hingga pertanyaan kritis di hadapan pelatih yang baru saja berlaga di laga hidup-mati, Hery telah memotret dua wajah Piala Dunia: yang merayakan semangat suporter dan yang menguji ketajaman analisis. Keduanya mengonfirmasi bahwa sepak bola adalah bahasa universal yang menjangkau logika dan rasa sekaligus.
Dengan sisa turnamen yang masih panjang, Hery bertekad untuk terus menyajikan cerita-cerita otentik dari balik layar—bukan sekadar angka dan fakta, tetapi juga denyut nadi dan detak jantung kompetisi sepak bola terbesar di muka bumi.
[SOCIAL_TWEET]: Meliput Piala Dunia 2026 bukan cuma soal gol. Jurnalis KLY Sports @herykurniawan rasakan langsung anthem Brasil yang menggetarkan dan bertanya ke pelatih Maroko usai laga. #PialaDunia2026 #TimnasBrasil #KLYSports[SOCIAL_TG]: 🎤✨ Hery Kurniawan dari KLY Sports tanya langsung ke pelatih Maroko dan rasakan anthem Brasil yang bikin merinding. Momen emas jurnalis Indonesia di Piala Dunia 2026!
Comments (0)