FIFA Jelaskan Gol Kontroversial Bellingham di Perempat Final Piala Dunia 2026
Stadion yang bergemuruh tiba-tiba terbelah dalam keheningan dan sorak-sorai. Di menit ke-67, saat Inggris masih tertinggal 0-1 dari Norwegia, Jude Bellingham menyambar bola liar di kotak penalti dan m...
Stadion yang bergemuruh tiba-tiba terbelah dalam keheningan dan sorak-sorai. Di menit ke-67, saat Inggris masih tertinggal 0-1 dari Norwegia, Jude Bellingham menyambar bola liar di kotak penalti dan melepaskan tendangan keras yang merobek jala. Bola bersarang di pojok kiri gawang. Namun, euforia itu segera dibayangi keraguan. Para pemain Norwegia mengerumuni wasit, memprotes sesuatu yang mereka anggap tidak adil. Tangan Bellingham sempat terlihat menyentuh bola sebelum ia melepaskan tembakan, meski hanya sekilas. Momen itu menjadi awal dari salah satu kontroversi terbesar di perempat final Piala Dunia 2026.
Di tengah lapangan, kapten Norwegia Martin Ødegaard tampak berdebat sengit dengan sang pengadil. Ribuan pasang mata di tribun dan jutaan di depan layar kaca menanti keputusan VAR. Setelah peninjauan yang terasa begitu panjang, wasit mengisyaratkan gol sah. Stadion kembali riuh, kali ini dengan kemarahan dari pendukung Norwegia dan kelegaan luar biasa dari kubu Inggris. Skor menjadi 1-1, dan membalikkan moral tim asuhan Gareth Southgate yang akhirnya menang 2-1 lewat gol kemenangan di menit-menit akhir.
Klarifikasi Resmi dari FIFA
FIFA tidak tinggal diam. Melalui pernyataan resmi yang dirilis beberapa jam setelah pertandingan, badan sepak bola dunia itu menjelaskan bahwa gol Bellingham dinyatakan sah berdasarkan aturan terbaru tentang handsball. “Setelah memeriksa rekaman dari berbagai sudut, kami memutuskan bahwa kontak bola dengan tangan Bellingham terjadi dalam posisi yang tidak memperbesar area tubuh dan tidak disengaja,” demikian bunyi pernyataan yang ditandatangani oleh Ketua Komite Wasit FIFA. Lebih lanjut, FIFA menyebut bahwa tangan Bellingham berada dekat dengan tubuhnya saat bola menyentuhnya, sehingga tidak memenuhi kriteria pelanggaran handsball berdasarkan Laws of the Game edisi 2025/2026.
Dalam penjelasannya, FIFA mengungkapkan bahwa tim VAR telah melakukan pengecekan menyeluruh, termasuk memanfaatkan teknologi sensor AI yang menempel di jersey pemain. Data menunjukkan bahwa titik kontak terjadi di area lengan atas yang dianggap sebagai bagian bahu, bukan lengan yang terhitung sebagai handsball. “Teknologi membantu kami membuat keputusan yang akurat dan transparan,” tambah juru bicara FIFA, menegaskan bahwa keputusan tersebut final dan tidak akan mengubah hasil pertandingan.
Kekecewaan Norwegia yang Mendalam
Sementara itu, kubu Norwegia tidak bisa menyembunyikan rasa getir. Pelatih mereka, Ståle Solbakken, dalam konferensi pers pasca pertandingan, menyebut keputusan itu sebagai “kesalahan besar yang mencoreng semangat permainan.” Air mata tampak menggenang di mata para pemain muda Norwegia yang telah berjuang keras hingga titik darah penghabisan. “Kami merasa dicurangi,” ujar Ødegaard dengan suara bergetar. “Kami hanya ingin keadilan, tapi malam ini sepak bola terasa begitu kejam.” Meski demikian, sang kapten tetap menghormati keputusan akhir dan berharap timnya bisa bangkit di masa depan.
Bellingham: Gol Itu Murni Perjuangan
Jude Bellingham, yang tampil sebagai pahlawan, tetap rendah hati. “Saya tidak merasa ada yang salah. Bola memang mengenai tubuh saya, tapi itu bukan handsball,” katanya usai laga. Pemain berusia 23 tahun itu mengungkapkan bahwa momen tersebut adalah buah dari perjuangan tim yang tak kenal lelah. “Kami tertinggal, tapi tidak pernah menyerah. Gol ini untuk semua pendukung yang terus percaya.” Baginya, yang terpenting adalah Inggris berhasil melangkah ke semifinal.
Perdebatan Aturan yang Tak Kunjung Usai
Insiden ini kembali memantik diskusi global tentang aturan handsball yang kerap membingungkan. Sejak perubahan besar pada 2019, banyak pihak menilai bahwa interpretasi “posisi tubuh alami” masih menyisakan ruang abu-abu. Pengamat sepak bola ternama, Gary Lineker, menulis di media sosial, “Sekali lagi, teknologi menyelamatkan kita dari subjektivitas, tapi juga meninggalkan luka bagi yang kalah.” Sementara itu, netizen terbelah antara yang mendukung keputusan FIFA dan yang menganggapnya tidak adil. Perdebatan ini mungkin akan terus berlanjut, tetapi satu hal yang pasti: malam itu, di bawah sorot lampu stadion, sepak bola menunjukkan sisi paling emosionalnya—perpaduan antara kemenangan yang manis dan kekalahan yang pahit, semuanya berawal dari satu sentuhan kontroversial di kotak penalti.
Di sudut ruang ganti Norwegia, hening mencekam. Namun di balik itu, ada tekad yang mulai tumbuh. Kisah ini bukan hanya tentang gol kontroversial atau penjelasan FIFA. Ini tentang seberapa kuat mimpi bisa diuji, dan bagaimana bangkit dari kekecewaan adalah bagian dari perjalanan menuju kejayaan. Di sisi lain, Inggris melangkah dengan keyakinan bahwa perjalanan mereka belum usai. Bellingham, dengan golnya yang mengguncang, mungkin telah menulis satu babak yang akan terus dikenang—bukan hanya karena kontroversinya, tetapi karena semangat pantang menyerah yang ia tunjukkan. Di Piala Dunia, setiap detik menyimpan kisah, dan malam itu, kisah itu bertutur tentang batas antara aturan dan hati.
Baca juga:
Comments (0)