Roti Masa Lalu yang Masih Hangat di Jakarta
Di sudut Jalan Cikini Raya, di antara gedung-gedung beton yang kian menjulang, sebuah toko roti tua masih setia membuka pintunya setiap pagi. Papan namanya bertuliskan "Roti Jaya Abadi", dengan cat pu...
Di sudut Jalan Cikini Raya, di antara gedung-gedung beton yang kian menjulang, sebuah toko roti tua masih setia membuka pintunya setiap pagi. Papan namanya bertuliskan "Roti Jaya Abadi", dengan cat putih yang sedikit mengelupas, namun tetap terbaca jelas. Begitu pintu kayu berderit didorong, hidung langsung disambut aroma mentega panggang yang hangat, seolah membawa kembali ingatan ke masa puluhan tahun silam. Di dalamnya, etalase kaca menampilkan roti-roti sederhana: roti sobek, roti isi cokelat, dan biskuit kering berbentuk bunga yang selalu jadi favorit.
Pemilik toko, Pak Darmono (71), duduk di balik meja kasir kayu yang sudah licin termakan usia. Rambutnya memutih, namun tangannya masih cekatan melayani pelanggan yang datang silih berganti. Toko ini ia warisi dari ayahnya, yang merintis usaha roti pada tahun 1955. "Dulu, ayah saya hanya menjual roti tawar dan roti manis dari gerobak. Lalu, sedikit demi sedikit, bisa menyewa toko kecil ini," kenangnya sambil menyeka keringat.
Resep Warisan yang Dijaga Mati-matian
Di bagian belakang toko, dapur kecil berukuran 3x4 meter menjadi saksi bisu perjuangan mempertahankan cita rasa asli. Di sana, adonan roti masih diuleni dengan tangan, tanpa bantuan mesin modern. "Kami tetap pakai resep turun-temurun, takaran tepung, gula, dan raginya tidak pernah berubah," ujar Pak Darmono. Ia percaya, sentuhan tangan justru menghasilkan tekstur roti yang lebih lembut dan empuk.
Proses pembuatan roti dilakukan setiap dinihari. Sejak pukul tiga dini hari, bau ragi dan mentega sudah memenuhi dapur. Oven batu bata besar yang sudah berusia 40 tahun menjadi andalan utama. Suhu panasnya lebih merata, dan roti yang dihasilkan punya lapisan kulit yang renyah khas. Rahasia lainnya, Pak Darmono masih menggunakan air kelapa muda untuk menghasilkan serat roti yang lebih halus.
Oven Tua, Jantung Dapur
Oven bata itu seperti anggota keluarga. Dindingnya menghitam, beberapa bagian sudah retak, tetapi tidak pernah mogok. "Kalau oven ini sampai rusak, saya tidak tahu lagi harus bagaimana," kata Bu Yanti (58), istri Pak Darmono yang bertugas memanggang. "Ini bukan sekadar alat, tapi jiwa dari toko roti kami." Setiap kali roti keluar dari oven, uap panas mengepul dan wangi yang khas langsung tercium hingga ke jalan. Banyak pelanggan yang mengaku, mereka datang bukan hanya untuk membeli roti, tapi untuk bernostalgia dengan aroma masa kecil.
Meski banyak tawaran untuk mengganti oven dengan yang lebih praktis, pasangan ini menolak. Mereka takut, perubahan alat akan mengubah rasa dan kenangan yang sudah melekat. Bagaimana pun, banyak pelanggan yang menyimpan cerita emosional dengan roti buatan mereka.
Pelanggan Lintas Generasi
Salah satu pelanggan setia adalah Ibu Maya, yang dulu sering diajak ibunya membeli roti sobek seusai sekolah. Kini, ia sendiri sudah menjadi nenek, dan justru membawa cucunya ke toko yang sama. "Rasanya tidak ada yang berubah, persis seperti yang saya ingat. Seperti kembali ke masa kecil," ungkapnya dengan mata berbinar. Ia sering memborong biskuit kering untuk oleh-oleh keluarga di luar kota.
Cerita serupa diungkapkan oleh Pak Hendro, yang sejak 1980-an menjadi pelanggan. "Dulu, ayah saya selalu membelikan roti isi cokelat tiap hari Minggu. Sekarang, saya meneruskan tradisi itu untuk anak saya," katanya. Bagi banyak orang, Roti Jaya Abadi adalah lebih dari sekadar tempat membeli sarapan; ia adalah penanda waktu yang menenangkan di tengah kota yang terus berubah.
Bertahan di Tengah Gempuran Zaman
Namun, jalan untuk bertahan tidak mudah. Krisis ekonomi, kenaikan harga bahan baku, hingga pandemi sempat membuat mereka nyaris menyerah. Ada masa di mana penjualan turun drastis, dan keluarga harus memutar otak agar usaha tidak gulung tikar. "Anak-anak menyarankan kami tutup saja. Tapi kami tidak tega. Toko ini sudah menjadi bagian hidup kami," kata Pak Darmono dengan suara bergetar.
Alih-alih menyerah, ia justru perlahan memperkenalkan kemasan baru yang lebih menarik, meski isi dan rasa tetap sama. Ia juga mulai menerima pesanan untuk acara-acara komunitas, sehingga toko ini tetap dikenang sebagai "roti zaman dulu".
Harapan di Ujung Senja
Kini, Pak Darmono dan Bu Yanti berharap salah satu dari keempat anaknya mau meneruskan usaha ini. Meski tak mudah, salah satu putra bungsunya, Doni, mulai menunjukkan minat. Setiap akhir pekan, ia pulang untuk belajar menguleni adonan dan membaca suhu oven. "Saya tidak mau resep keluarga ini hilang begitu saja," ujar Doni. "Bagi saya, roti ini bukan sekadar makanan, tapi warisan yang harus dijaga."
Di tengah terik matahari Jakarta yang semakin padat, cerita Roti Jaya Abadi terus berulang setiap pagi. Dari pintu kayu yang berderit, dari oven bata yang tetap hangat, dari tangan-tangan yang tak kenal lelah menjaga rasa. Toko itu bukan hanya menjual roti, tetapi juga memanggang kenangan, menyajikannya hangat-hangat untuk siapa saja yang ingin pulang ke masa lalu.
Baca juga:
Comments (0)