Bonnie Triyana Ajak Gen Z Hidupkan Diskusi Lewat Bedah Buku

Di sudut sebuah kafe kecil di bilangan Lebak, suara antusias kaum muda memecah senja. Puluhan pasang mata tertuju pada seorang pria berkacamata yang tengah memegang buku lusuh bersampul merah. Buku it...

Jul 12, 2026 - 15:50
0 0

Di sudut sebuah kafe kecil di bilangan Lebak, suara antusias kaum muda memecah senja. Puluhan pasang mata tertuju pada seorang pria berkacamata yang tengah memegang buku lusuh bersampul merah. Buku itu bukan sembarang cetakan; ia adalah saksi bisu dari perjalanan panjang gagasan kerakyatan yang nyaris terlupakan di tengah gemerlap layar gawai. Bonnie Triyana, sejarawan dan penulis yang kiprahnya tak asing di dunia pemikiran, duduk di tengah lingkaran diskusi itu, memandu sebuah perbincangan yang hangat sekaligus tajam: bedah buku Marhaenisme. Malam itu, ia tak hanya mengulas isi buku, tetapi juga menyalakan kembali api dialog yang mulai redup di kalangan generasi digital.

Menghidupkan Gagasan Bung Karno di Era Digital

Bonnie membuka sesi dengan sebuah pertanyaan sederhana yang menyentak: "Siapa yang masih ingat siapa Marhaen?" Keheningan sejenak menyelimuti ruangan, sebelum akhirnya beberapa tangan terangkat ragu. Di era ketika algoritma lebih sering menyodorkan konten hiburan ketimbang renungan, nama Marhaen—si petani miskin yang menginspirasi Bung Karno merumuskan Marhaenisme—seakan tenggelam dalam arus deras kapitalisme digital. Bonnie lantas mengisahkan bagaimana ia menemukan kembali relevansi gagasan itu justru melalui kegelisahannya melihat ketimpangan ekonomi berbasis platform. "Sekarang, kita tidak hanya dijajah oleh bangsa asing, tapi juga oleh algoritma yang membuat kita bergantung pada ekosistem digital yang tidak adil," ucapnya lirih, disambut anggukan pelan dari peserta.

Melalui bedah buku ini, Bonnie mengajak generasi muda untuk membaca ulang Marhaenisme bukan sekadar sebagai dokumen sejarah, melainkan sebagai lensa untuk mengkritisi realitas hari ini. Ia mencontohkan bagaimana pekerja lepas (freelancer) dan pengemudi daring kerap terjebak dalam relasi kuasa yang timpang—mirip dengan hubungan buruh dan majikan di masa kolonial. Bedanya, penjajahan kini berlangsung secara halus lewat aplikasi yang menjanjikan kemudahan. "Marhaenisme mengajarkan kita untuk terus mempertanyakan: siapa yang diuntungkan dari kerja kita?" tegas Bonnie, mengajak hadirin untuk tidak sekadar menjadi konsumen pasif, melainkan warga digital yang kritis.

Kudatuli dan Pentingnya Merawat Ingatan Kolektif

Diskusi kemudian bergeser ke sebuah peristiwa kelam yang menjadi latar penting bagi gerakan kerakyatan: Kudatuli. Bonnie dengan hati-hati mengisahkan kembali serangan terhadap kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro pada 27 Juli 1996, sebuah tragedi yang menewaskan dan melukai banyak aktivis pro-demokrasi. Ia menuturkan, ingatan akan Kudatuli bukan hanya milik Megawati atau para kader partai, melainkan milik seluruh rakyat yang merindukan keadilan. "Setiap kali kita diam terhadap ketidakadilan, kita mengkhianati darah yang tumpah di sana," katanya. Di tengah hening yang mencekam, seorang peserta muda berbisik kepada temannya, "Saya baru tahu detailnya… ternyata begitu besar perjuangan mereka."

Bonnie lantas menghubungkan keberanian para aktivis era reformasi dengan tantangan anak muda masa kini. Jika dulu perjuangan dilakukan dengan turun ke jalan dan mempertaruhkan nyawa, kini perjuangan bisa dimulai dari ruang-ruang diskusi kecil seperti yang sedang mereka lakukan. Menurutnya, membaca buku dan berdiskusi adalah bentuk perlawanan terhadap kebodohan dan sikap apatis yang ditumbuhkan oleh budaya konsumsi digital. "Jangan sampai kita cuma pandai membuat konten viral, tapi lupa cara berpikir jernih," ujarnya, seolah menyentil sekaligus merangkul semangat Gen Z.

Merawat Pikiran Kritis di Tengah Banjir Informasi

Menjelang akhir sesi, Bonnie berbagi tips sederhana untuk menjaga kebiasaan berpikir kritis di tengah gempuran berita palsu dan konten dangkal. Pertama, ia menekankan pentingnya membaca buku secara utuh, bukan sekadar mengandalkan ringkasan atau utas pendek di media sosial. "Membaca itu ibarat menyelam; kita perlu masuk ke kedalaman, bukan cuma berbasah-basah di permukaan," susur katanya, memakai metafora yang mengena di hati anak muda yang terus scrolling.

Kedua, ia meminta para peserta untuk membentuk kelompok diskusi kecil di komunitas masing-masing—di kampus, di tempat kerja, atau bahkan di grup daring. Bonnie percaya, ruang diskusi adalah laboratorium demokrasi yang paling dasar. Di situlah orang belajar mendengar, berbeda pendapat, dan menemukan solusi bersama tanpa saling melukai. "Kita tidak butuh pahlawan besar. Kita butuh banyak ruang kecil yang diisi orang-orang yang mau berpikir," ucapnya, sebelum menutup acara dengan ajakan untuk memulai bedah buku rutin di Lebak dan kota-kota lain.

Senja telah berganti malam ketika para peserta meninggalkan kafe dengan buku di tangan dan semangat baru di dada. Di tengah riuh rendah zaman, Bonnie Triyana telah mengingatkan bahwa secercah obrolan sederhana bisa menjadi benih yang menumbuhkan pemikiran kritis, menghidupkan kembali Marhaenisme yang tak lekang oleh digitalisasi, serta menjaga nyala ingatan agar peristiwa seperti Kudatuli tak berakhir sebagai catatan kaki yang dilupakan. Di sudut itulah, sebuah generasi mulai belajar kembali mendengarkan—bukan hanya notifikasi gawai, melainkan suara hati dan nurani mereka sendiri.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User