QRIS Jelajah Kuliner Tegal 2026, Merajut Cita Rasa Lewat Lensa Digital
Di sudut warung sederhana bercat biru pudar di kawasan Pasar Pagi Tegal, tangan keriput Mbah Sarmi, 67 tahun, gemetar menerima ponsel pintar putranya. Di hadapan wadah berisi nasi hangat dan aneka lau...
Di sudut warung sederhana bercat biru pudar di kawasan Pasar Pagi Tegal, tangan keriput Mbah Sarmi, 67 tahun, gemetar menerima ponsel pintar putranya. Di hadapan wadah berisi nasi hangat dan aneka lauk khas pesisir, terpampang secarik kertas bertuliskan kode batang hitam putih. Pagi itu, untuk kali pertama, pelanggan setianya membayar semangkuk kupat tahu bukan dengan lembaran rupiah, melainkan sapuan jari di layar kaca.
“Katanya uangnya langsung masuk ke bank, padahal saya nggak pegang uang sama sekali,” ucapnya lirih, setengah tak percaya. Degup haru menyelusup di sela sapa pagi warung mungil yang telah 35 tahun ia geluti bersama mendiang suaminya. Peristiwa ini bukan sekadar transaksi. Ia adalah gerbang baru yang menyambungkan tradisi kuliner lokal dengan denyut ekonomi modern yang terus berakselerasi.
Perjalanan Digital Menyapa Pelosok Kuliner
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tegal mengisahkan bahwa gelaran bertajuk QRIS Jelajah Kuliner Indonesia 2026 merupakan upaya merangkul lebih banyak pelaku usaha mikro di sektor makanan dan minuman. Berbeda dari program serupa di tahun-tahun sebelumnya, edisi kali ini menyasar warung-warung legendaris, pedagang pasar, hingga gerobak keliling yang selama ini luput dari jangkauan digitalisasi. Langkah ini ditempuh bukan tanpa alasan. Berdasarkan catatan internal, sektor kuliner menyumbang porsi signifikan terhadap perputaran uang di wilayah Tegal dan sekitarnya, namun tingkat adopsi pembayaran nontunai di kalangan pelaku usaha berskala mikro masih menyisakan ruang pertumbuhan yang lebar.
Beberapa titik disiapkan sebagai pusat kegiatan. Di sepanjang Jalan Veteran, misalnya, puluhan stan makanan tradisional dihias serempak dengan bendera kecil bertuliskan QRIS. Aroma sate kambing muda, sate kerang, dan olahan hasil laut berpadu dengan antusiasme warga yang ingin mencoba sendiri kemudahan membayar tanpa menyentuh uang fisik. Ada rasa bangga sekaligus canggung yang menyeruak di antara para pedagang. Sebagian mengaku baru pertama kali memegang stiker kode QR yang ditempelkan petugas bank. “Kayak warung di mal, padahal saya jualan pakai meja kayu begini,” seloroh Pak Dul, penjual nasi lengko yang lapaknya berada di Jalan AR Hakim.
Momen Mengharukan di Balik Layar
Di balik kemeriahan acara, terselip kisah-kisah sederhana yang menyentuh. Salah satunya datang dari Romlah, seorang ibu tunggal yang menghidupi tiga anaknya dari berjualan kue basah keliling. Sebelum program ini berlangsung, ia kerap kehilangan pembeli karena tidak memiliki uang kembalian. “Kadang sudah dibungkusin, eh pembelinya bilang nggak ada uang pas. Saya nggak bisa apa-apa,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Kini, ia tak lagi khawatir. Tim pendamping dari BI Tegal membantunya membuka rekening sederhana melalui ponsel dan mengajarinya cara memindai kode pembayaran. Romlah mengaku prosesnya tak semudah yang dibayangkan. “Jari saya sudah kaku, mata mulai rabun. Tapi anak saya yang paling kecil, yang masih SD, malah langsung bisa. Dia yang sekarang bantu saya kalau ada yang mau bayar pakai HP,” ucapnya seraya tersenyum. Kisah ini menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju inklusi keuangan bukan hanya tentang infrastruktur, melainkan juga tentang kesabaran, pendampingan personal, dan peran keluarga sebagai jembatan antargenerasi.
Inspirasi yang Melampaui Transaksi
Program ini tidak berhenti pada aspek teknis pembayaran. Bank Indonesia Tegal merangkai acara dengan berbagai kegiatan pendukung yang memperkuat ekosistem digital. Ada sesi berbagi pengalaman dari pelaku UMKM yang telah lebih dulu sukses berjualan lewat daring, pelatihan singkat pengelolaan keuangan berbasis aplikasi, hingga lomba kreasi menu khas Tegal yang wajib menerima pembayaran QRIS. Semuanya dirancang untuk membangun rasa percaya diri kolektif bahwa warung kecil pun layak dan mampu berdiri sejajar di panggung ekonomi digital.
Perluasan digitalisasi ini juga diharapkan menjadi benih baru bagi pertumbuhan pariwisata kuliner di wilayah eks Keresidenan Pekalongan. Data historis menunjukkan bahwa Tegal memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata kuliner, terutama dengan keberadaan aneka makanan khas seperti soto Tegal, tahu aci, dan olahan ikan asin yang telah dikenal luas. Dengan tersedianya infrastruktur pembayaran digital yang merata, wisatawan dari berbagai daerah tak perlu repot menyiapkan uang tunai dalam jumlah tertentu. Cukup dengan satu sapuan, mereka bisa menikmati kekayaan cita rasa lokal tanpa hambatan.
Namun, tantangan tetap membentang. Jaringan internet yang belum sepenuhnya stabil di beberapa titik pelosok, keterbatasan literasi digital pada pedagang lanjut usia, serta skeptisisme sebagian masyarakat terhadap keamanan transaksi daring menjadi pekerjaan rumah yang harus terus dituntaskan. Bank Indonesia Tegal mengakui bahwa program ini bukanlah solusi instan, melainkan bagian dari ikhtiar panjang yang memerlukan kolaborasi berkelanjutan dengan pemerintah daerah, perbankan, penyedia jasa teknologi finansial, dan tentu saja masyarakat itu sendiri.
Di akhir acara pembukaan, Mbah Sarmi kembali pada rutinitasnya. Kali ini, secarik kode QR telah tertempel rapi di sisi gerobaknya. Seorang pembeli muda mendekat, memindai kode, dan dalam hitungan detik telepon genggamnya bergetar menandakan pembayaran berhasil. Mbah Sarmi memandangi layar ponsel putranya, memperhatikan deretan angka yang bertambah. Tak ada lagi keraguan di matanya. Yang ada hanyalah secercah keyakinan bahwa warung kecilnya, yang dulu hanya mengandalkan kepercayaan dan rasa, kini telah memiliki tempat di masa depan.
Perjuangan merangkul digitalisasi mungkin masih panjang. Tetapi dari sudut-sudut warung di Tegal, telah lahir ribuan cerita tentang keberanian memulai, tentang bangkit dari keterbatasan, dan tentang mimpi-mimpi sederhana yang akhirnya menemukan jalannya sendiri.
Baca juga:
Comments (0)