Erlina Burhan: Pelacakan 100 Persen Kontak Erat TB Langkah Tepat

Pagi itu, matahari baru saja meninggi saat Sumarni—bukan nama sebenarnya—mengetuk pintu rumah bercat biru pudar di sebuah gang sempit di Jakarta Timur. Di tangannya, sebuah tas ransel lusuh berisi...

Jul 12, 2026 - 15:45
0 0

Pagi itu, matahari baru saja meninggi saat Sumarni—bukan nama sebenarnya—mengetuk pintu rumah bercat biru pudar di sebuah gang sempit di Jakarta Timur. Di tangannya, sebuah tas ransel lusuh berisi formulir, masker, dan alat tulis sederhana. Perempuan paruh baya itu adalah petugas pelacak kasus tuberkulosis (TB), sebuah profesi yang nyaris tak terdengar gemanya di tengah hiruk-pikuk kota, namun memikul peran krusial dalam memutus rantai penularan penyakit yang telah lama menjadi momok.

Di ruang tamu berukuran 3x4 meter yang pengap, seorang lelaki duduk dengan tatapan kosong. Ia baru saja dinyatakan positif TB paru. Nafasnya pendek, sesekali batuknya memecah sunyi. Sumarni duduk di hadapannya, membuka percakapan dengan nada lembut. Pertanyaan demi pertanyaan ia lontarkan: siapa saja yang tinggal serumah, siapa rekan kerja terdekat, siapa teman yang dalam dua bulan terakhir kerap berinteraksi tanpa jarak. Itulah titik awal pelacakan kontak erat, sebuah proses yang kerap terabaikan tetapi kini menjadi fokus utama pemerintah.

Beberapa pekan sebelumnya, di sebuah forum diskusi kesehatan, Dokter Spesialis Paru Erlina Burhan menyampaikan dukungan penuh terhadap kebijakan anyar yang mewajibkan penelusuran hingga 100 persen terhadap individu yang pernah berkontak erat dengan pasien TB. Baginya, langkah ini tak sekadar administratif, melainkan sebuah strategi fundamental untuk menekan laju epidemi yang selama ini seolah bergerak dalam senyap.

Menemukan yang Tak Kasatmata

Pelacakan kontak erat sering kali dianggap remeh. Banyak kasus TB laten—kuman yang berdiam di tubuh tanpa gejala—lolos dari perhatian. Padahal, dari sanalah letupan kasus berikutnya bermula. Erlina Burhan menekankan bahwa penelusuran yang menyeluruh ibarat menerangi sudut-sudut gelap yang selama ini menjadi tempat persembunyian Mycobacterium tuberculosis. "Kita tidak bisa hanya mengobati yang sakit, lalu mengabaikan mereka yang mungkin sudah tertular tetapi belum menunjukkan gejala," ujarnya dalam kesempatan itu. "Di sinilah pentingnya pelacakan 100 persen. Sebab satu pasien yang tidak terlacak kontak eratnya bisa menjadi sumber penularan bagi puluhan orang lainnya."

Kata-kata itu membumi dalam keseharian Sumarni. Ia mengisahkan, dalam satu bulan terakhir saja, ia mendatangi 23 rumah. Dari setiap rumah, rata-rata ia mencatat empat hingga enam kontak erat. Total, lebih dari 100 orang yang harus ia periksa dan edukasi. Bukan perkara ringan. Sebagian warga menolak, menganggap dirinya sehat dan tak butuh tes. Sebagian lain ketakutan, khawatir stigma yang melekat bakal mengucilkan mereka dari lingkungan.

Di Balik Layar Perjuangan Senyap

Di sudut lain kota, seorang ibu rumah tangga bernama Rina—bukan nama sebenarnya—mengisahkan perjalanan emosionalnya. Suaminya didiagnosis TB, dan seluruh anggota keluarga diwajibkan mengikuti tes. Awalnya, ia merasa muak dan marah. "Kenapa harus saya juga? Saya enggak sakit," kenangnya. Namun setelah menjalani tes dahak, hasilnya mengejutkan: Rina positif TB laten. Tanpa pelacakan, ia mungkin tak akan pernah tahu dan suatu hari bisa mengalami TB aktif yang membahayakan dirinya serta orang di sekitarnya. Kini, Rina menjalani terapi pencegahan dengan disiplin. Air matanya sempat menetes saat mengungkap, "Kalau bukan karena petugas yang datang dan memaksa kami periksa, mungkin saya sudah menulari anak-anak."

Kisah Rina adalah satu dari ribuan kisah serupa yang diam-diam terurai di pelbagai penjuru negeri. Erlina Burhan menangkap benang merah dari fenomena ini. Ia percaya bahwa pelacakan kontak erat adalah jembatan antara kesadaran dan tindakan. Pemerintah, melalui Kementerian Kesehatan, menargetkan deteksi dini melalui penapisan menyeluruh ini dapat meningkatkan angka penemuan kasus dan menekan transmisi di komunitas. Erlina menyambutnya dengan optimisme hati-hati. "Ini langkah tepat yang seharusnya sudah dilakukan sejak dulu. Tetapi yang tak kalah penting adalah bagaimana implementasinya di lapangan. Petugas pelacak harus dibekali pelatihan dan perlindungan memadai," ucapnya.

Jejaring yang Tak Kasatmata, Dampak yang Nyata

Kembali ke gang sempit di Jakarta Timur, Sumarni menyelesaikan tugas hariannya. Lelaki yang tadi pagi duduk lunglai kini membawa tiga anggota keluarganya ke puskesmas untuk pemeriksaan lanjutan. Di atas meja kecil, tumpukan formulir pelacakan mengisahkan jejaring manusia yang saling terhubung tanpa mereka sadari: rekan satu pabrik, tetangga sekamar kos, anak yang bermain bersama. Pelacakan 100 persen bukanlah sekadar angka. Ia adalah upaya memutuskan mata rantai yang sering kali tak terlihat, tetapi bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati bagi mereka yang rentan.

Erlina Burhan menutup pembicaraannya dengan sebuah refleksi yang menyentuh. "TB adalah penyakit yang bisa disembuhkan, dan yang lebih penting, bisa dicegah. Tetapi pencegahan itu hanya mungkin jika kita berani menelusuri setiap jejak yang ditinggalkan. Pelacakan kontak erat adalah bentuk kepedulian kita kepada sesama—mencari mereka yang mungkin tidak tahu bahwa mereka berisiko, lalu memberikan perlindungan sebelum terlambat."

Senja mulai turun ketika Sumarni menuntaskan catatan hariannya. Di balik lelahnya ada harap yang diam-diam tumbuh: bahwa setiap pintu yang diketuk, setiap nama yang tercatat, adalah langkah kecil menuju Indonesia bebas TB. Perjalanan masih panjang, tapi langkah itu kini mendapat sandaran kebijakan yang lebih tegas. Sebab, dalam perang melawan wabah yang sunyi ini, tak boleh ada satu pun yang tertinggal di belakang.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User