Aroma Rindu dan Sepiring Kenangan di Mandalika Street Food Festival

Hari belum genap pukul lima sore ketika lelaki itu, dengan punggung sedikit membungkuk, menuangkan adonan putih ke atas tungku tanah liat. Tangan tuanya yang keriput bergerak lincah, meratakan adonan ...

Jul 12, 2026 - 16:06
0 0

Hari belum genap pukul lima sore ketika lelaki itu, dengan punggung sedikit membungkuk, menuangkan adonan putih ke atas tungku tanah liat. Tangan tuanya yang keriput bergerak lincah, meratakan adonan hingga menjadi lembaran tipis yang kemudian menggelembung diterpa api. Di sekelilingnya, asap mengepul membawa wangi khas yang dalam sekejap membangunkan memori siapa pun yang pernah mencicipi serabi, jajanan pasar sederhana yang telah ia pertahankan selama lebih dari empat dekade. Di tengah ingar-bingar Mandalika Street Food Festival yang digelar di Area Bazaar Mandalika dan Kuta Lane pada 10–12 Juli 2026, lelaki bernama Amaq Rawi itu hadir bukan sekadar sebagai penjual, melainkan sebagai penjaga warisan.

Festival yang memadati kawasan pesisir selatan Lombok itu menjadi lebih dari sekadar ajang berburu cita rasa. Bagi sebagian pengunjung, ini adalah perjalanan pulang—kembali ke aroma dan rasa yang dulu menemani masa kecil mereka. Bagi yang lain, ini adalah pengantar menuju kekayaan kuliner Pulau Seribu Masjid yang kerap tersembunyi di balik popularitas destinasi wisata kelas dunianya.

Di Sudut Gerobak, Ada Cerita yang Panjang

Di sudut lain area festival, tepat di bawah pohon waru yang rindang, seorang perempuan paruh baya sibuk mengaduk bumbu di dalam kuali besar. Aroma pedas dan gurih langsung menusuk hidung. Dialah Inaq Sahnim, yang sudah 35 tahun menggiling sendiri cabai dan rempah-rempah untuk membuat sate pusut—sate khas Lombok berbahan kelapa parut yang dibumbui, lalu dibakar dengan tusuk bambu. "Dulu, waktu kecil, saya makan sate pusut begini hanya sekali setahun, waktu Lebaran," ujarnya, sembari sesekali menyeka keringat di dahi. Kini, di usianya yang ke-60, Inaq Sahnim justru hadir di tengah festival modern, dikelilingi wisatawan mancanegara yang antusias menunggu giliran mencicipi jualannya.

Di balik setiap gerobak, ada kisah panjang tentang ekonomi rumahan yang bertahan dari generasi ke generasi. Banyak dari penjual di festival ini adalah wajah-wajah yang sama yang mengisi pasar tradisional dan gang-gang kecil di pelosok Lombok. Mereka bukanlah pengusaha kafe atau restoran besar. Mereka adalah para pejuang dapur rumahan yang setiap hari bangun sebelum subuh untuk menyiapkan dagangan, mengandalkan resep warisan keluarga yang tak pernah dicatat, hanya dihafalkan dan dirasakan.

"Setiap suapan adalah doa ibu saya dulu. Dia titipkan rasa ini supaya saya bisa hidup. Sekarang, di festival ini, saya lihat orang dari Prancis, dari Jepang, ikut menyukai masakan ibu saya. Rasanya ingin menangis," tutur Inaq Sahnim dengan suara yang tiba-tiba bergetar.

Ketika Lidah Menjadi Penunjuk Jalan Pulang

Bagi wisatawan lokal seperti Dinda, seorang karyawan asal Jakarta, festival ini menjadi momen yang tak terduga. Saat mencicipi sepiring nasi balap puyung—nasi dengan lauk ayam suwir pedas, kacang panjang, dan sambal khas—ia langsung terdiam. Matanya berkaca-kaca. "Ini rasa persis masakan nenek saya. Saya nggak nyangka bakal ketemu lagi di sini," katanya pelan. Nenek Dinda berasal dari Lombok, namun sudah lama tiada. Rasa yang ia kira sudah hilang selamanya, tiba-tiba hadir kembali dari sebuah tenda sederhana di tengah festival jalanan.

Kisah seperti Dinda bukan satu-satunya. Beberapa pengunjung lain mengaku menemukan kembali memori masa kecil mereka melalui seporsi sate rembiga, mie lombok, atau sekadar segelas es kopyor kelapa muda. Ada semacam sihir yang bekerja di sana—bukan sulap, melainkan kekuatan rasa yang terhubung langsung ke ingatan emosional. Hal inilah yang menjadikan festival ini bernapas lebih dalam dari sekadar ajang kuliner. Ia menjadi ruang temu antara masa lalu dan masa kini, antara perantau dan kampung halaman, antara cerita yang hampir pudar dan semangat untuk menghidupkannya kembali.

Mempertahankan Resep di Tengah Arus Modern

Menariknya, di tengah gempuran tren makanan kekinian yang viral di media sosial, para penjual ini tetap teguh pada cara lama. Mereka tak tertarik menambahkan keju mozzarella atau saus truffle pada hidangan tradisional mereka. "Mau zaman berubah bagaimana pun, resep ini nggak boleh saya ubah. Ini bukan punya saya, ini titipan leluhur," tegas Amaq Rawi, seraya membalik serabi di atas tungku.

Namun demikian, kesederhanaan justru menjadi kekuatan magnetis. Wisatawan asing yang datang tak hanya mencari pemandangan pantai yang memesona, tetapi juga pengalaman autentik yang terekam dari piring-piring yang disajikan tanpa banyak polesan. Festival ini seakan menyodorkan jawaban: bahwa kemewahan tak selalu berasal dari kemasan yang mewah, melainkan dari ketulusan dan sejarah yang dikandung oleh sebuah resep.

Malam semakin larut, lampu-lampu kelap-kelip di Kuta Lane menciptakan suasana yang hangat. Ratusan orang masih hilir mudik, beberapa duduk lesehan di tikar yang digelar, menikmati makanan sambil mendengar alunan musik tradisional yang mengalun dari panggung kecil. Di antara mereka, ada yang tertawa, ada yang asyik bercerita, dan ada pula yang diam-diam menyimpan keharuan setelah menemukan kembali sebuah kenangan yang telah lama hilang. Di Mandalika Street Food Festival, tiap suapan memang mampu menjadi perjalanan batin yang tak terduga. Dan bagi para penjaga tradisi, setiap piring yang ludes menjadi penegasan bahwa perjuangan mereka selama puluhan tahun tak berakhir sia-sia.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User