Donald Trump Ancam Serang Iran Lagi Malam Rabu Usai Pemakaman
Langit Teheran masih kelabu oleh asap duka, ketika gema ancaman baru meluncur dari Gedung Putih. Rabu petang waktu setempat, Presiden Amerika Serikat Donal
Langit Teheran masih kelabu oleh asap duka, ketika gema ancaman baru meluncur dari Gedung Putih. Rabu petang waktu setempat, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan melanjutkan gelombang serangan terhadap Iran—hanya berselang satu hari setelah serangan sebelumnya mengguncang negeri itu. Pernyataan ini seolah menjadi pukulan telak bagi keluarga-keluarga yang tengah berhimpun dalam ritual pemakaman Ayatollah Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang wafat beberapa hari silam.
“Kita serang lagi malam ini,” ujar Trump singkat di hadapan wartawan, dengan nada yang tegas namun tenang. Kalimat itu kini menggantung sebagai bayang-bayang mencekam bagi warga sipil yang sudah lama hidup di antara dentuman dan ratapan.
Wajah-wajah di Tengah Ratapan
Di sudut Jalan Valiasr, Maryam (34) menggenggam erat foto almarhum ayahnya yang gugur dalam serangan sebelumnya. Matanya sembab, bukan hanya karena kehilangan sang pemimpin, melainkan karena trauma yang terus berulang. “Setiap malam kami bertanya, apakah langit akan kembali merah? Apakah anak-anak kami akan selamat sampai subuh?” bisiknya lirih.
Maryam bukan satu-satunya. Ribuan warga berkumpul di Masjid Mosalla untuk memberikan penghormatan terakhir, namun pikiran mereka terbelah: mengenang Khamenei, sekaligus mengkhawatirkan serangan yang dijanjikan akan kembali meledak malam itu juga. Padahal, menurut laporan intelijen yang bocor ke media, Iran diduga telah meminta jeda kemanusiaan selama prosesi pemakaman berlangsung. Namun permintaan itu, menurut sumber Gedung Putih, tidak diindahkan.
Diplomasi yang Terkubur Suara Jet Tempur
Keputusan Trump melanjutkan serangan pada malam yang sama dengan pemakaman Khamenei memicu kecaman dari banyak pihak. Seorang analis hubungan internasional dari Universitas Teheran, Dr. Reza Ahmadi, menyuarakan keprihatinannya melalui sambungan telepon yang terputus-putus.
“Ini bukan sekadar taktik militer. Ini pesan simbolis yang sangat menyakitkan. Menyerang saat sebuah bangsa sedang berkabung—itu melukai jiwa kolektif rakyat Iran. Yang dikorbankan bukan hanya infrastruktur, tapi kemanusiaan itu sendiri.”
Di sisi lain, pemerintahan Trump bersikukuh bahwa operasi militer adalah respons atas dugaan keterlibatan Iran dalam serangan terhadap aset AS di kawasan. Juru bicara Pentagon menegaskan bahwa target serangan adalah fasilitas militer dan pusat komando, bukan permukiman warga. Namun, bunyi sirine dan getaran bom tetap merambat hingga ke kamar tidur anak-anak.
Malam Panjang di Balik Tirai Perang
Ketika azan magrib berkumandang, langit Teheran kembali diwarnai jejak rudal. Beberapa keluarga memilih berkumpul di ruang bawah tanah, sementara yang lain hanya bisa berdoa di rumah masing-masing. Bagi mereka, perang bukan lagi berita utama; ia telah menjadi irama hidup yang pahit.
“Kami hanya ingin satu malam tanpa ketakutan,” ujar Hossein, seorang buruh bangunan yang kehilangan rumahnya dalam serangan tahun lalu. Serangan yang dijadwalkan malam Rabu itu menjadi yang ketiga dalam dua pekan terakhir, menandai eskalasi terburuk antara kedua negara sejak perang proksi berkecamuk di berbagai front Timur Tengah.
Di tengah ketidakpastian itu, cerita-cerita kecil tentang keberanian dan solidaritas tetap muncul. Tetangga saling menawarkan tempat berlindung, para relawan muda membagikan air dan selimut, dan guru-guru mengajak anak-anak bernyanyi di bunker untuk meredam suara ledakan. Mereka sadar, di atas puing dan debu perang, yang paling berharga adalah nadi kemanusiaan yang masih berdetak.
Sementara dunia menanti apakah diplomasi akan menemukan celah di sela-sela gempuran, warga Iran kembali menatap langit malam dengan hati waspada. Sebab di luar sana, di seberang samudra, sebuah perintah telah diucapkan. Dan seperti yang ditegaskan Trump, “Kita serang lagi malam ini.”
Comments (0)