Dokter Peringatkan Orang Kurus Tetap Rentan Gagal Ginjal
Hari itu, Dina (31) mengira rasa lelah yang menyerangnya hanyalah akibat kerja lembur. Perempuan bertubuh ramping yang rajin yoga dan menjaga pola makan in
Hari itu, Dina (31) mengira rasa lelah yang menyerangnya hanyalah akibat kerja lembur. Perempuan bertubuh ramping yang rajin yoga dan menjaga pola makan ini selalu yakin tubuhnya dalam kondisi prima. "Saya tidak pernah bermasalah dengan berat badan. Justru teman-teman sering bilang saya terlalu kurus, jadi saya pikir aman dari penyakit berat seperti gagal ginjal," kenangnya dengan suara bergetar. Keyakinan itu runtuh saat hasil laboratorium menunjukkan laju filtrasi glomerulus (eGFR) miliknya berada di angka 58 mL/min—jauh di bawah ambang normal 90. Dunianya seolah berhenti sejenak. Ia harus menerima kenyataan: ginjalnya bermasalah serius, dan berat badan bukanlah tamengnya.
Kronologi: Dari Gejala Ringan ke Diagnosis Mengejutkan
Berikut urutan peristiwa yang dialami Dina dan akhirnya mengungkap mitos lama bahwa orang kurus kebal terhadap gagal ginjal:
- Bulan Pertama: Tanda-Tanda yang Diabaikan. Dina mulai sering terbangun malam untuk buang air kecil. Ia juga merasa kulitnya lebih kering dan gatal tanpa sebab jelas. "Saya kira hanya karena kurang minum," ujarnya. Tak ada nyeri apa pun, sehingga ia melanjutkan rutinitas seperti biasa tanpa memeriksakan diri.
- Bulan Kedua: Kelelahan Ekstrem dan Bengkak di Pergelangan Kaki. Energi Dina terus menurun, bahkan setelah tidur cukup. Suatu pagi, ia mendapati kedua kakinya sedikit membengkak. "Saya pikir sepatu saya menyempit," katanya. Karena badannya tetap kurus, ia tidak berpikir bahwa gejala itu serius.
- Kunjungan Pertama ke Dokter Umum. Setelah seminggu kaki bengkak tidak kunjung reda, Dina memaksakan diri ke klinik. Dokter menduga alergi atau masalah vena dan meresepkan obat diuretik ringan. Tidak ada pemeriksaan fungsi ginjal saat itu.
- Bulan Ketiga: Tes Darah Rutin yang Mengubah Segalanya. Saat pemeriksaan kesehatan karyawan, Dina menjalani cek darah lengkap. Keesokan harinya, dokter perusahaan menelepon dengan nada serius: "Kreatinin Anda tinggi, BUN juga naik. Silakan ke spesialis ginjal secepatnya." Dina masih ingat tangan kanannya gemetar memegang ponsel.
- Diagnosis Nefrolog: Gagal Ginjal Stadium Awal. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi, dr. Andra Wijaya, Sp.PD-KGH (nama samaran), mengatakan bahwa ginjal Dina hanya berfungsi sekitar 56%. "Pasien sering kali tidak percaya, karena mereka mengira gagal ginjal hanya untuk orang gemuk. Kenyataannya, penyakit ini tidak memilih bentuk tubuh," jelasnya.
Penjelasan Medis: Kenapa Berat Badan Bukan Jaminan?
Dalam wawancara dengan tim Jurnalis Beritaseputar, dr. Andra mengungkapkan fakta yang masih jarang disorot: hipertensi, diabetes tipe 1, lupus, infeksi saluran kemih kronis, dan konsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) jangka panjang adalah penyebab umum gagal ginjal yang justru bisa menimpa individu kurus. Data dari Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) menunjukkan bahwa sekitar 27% pasien gagal ginjal stadium 3-4 memiliki indeks massa tubuh normal atau di bawah 20. "Jadi gambaran umum bahwa hanya orang obesitas yang berisiko sama sekali tidak akurat," tegasnya. Dina sendiri kemudian diketahui mengidap hipertensi tersembunyi yang tidak pernah terdeteksi karena tekanan darahnya cenderung rendah saat diperiksa di pagi hari.
Harapan Baru dan Pesan untuk Publik
Setelah diagnosis, Dina menjalani terapi obat pengontrol tekanan darah, diet rendah garam dan protein terukur, serta pemantauan eGFR setiap tiga bulan. "Sekarang saya sadar bahwa menjaga ginjal bukan soal kurus atau gemuk, tapi soal cek tekanan darah rutin, banyak minum air putih, dan tidak sembarangan minum obat pereda nyeri," ujarnya. Ia kini aktif mengedukasi di komunitasnya bahwa deteksi dini tidak memandang ukuran pinggang. "Jangan tunggu badan melar," kata Dina, setengah tersenyum, "karena ginjal tidak peduli apakah Anda bisa masuk baju ukuran kecil atau besar."
Comments (0)