Direktur Human Capital BUMN Hadiri Sosialisasi Playbook Kerja Inklusif Danantara
Jakarta — Di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh para pemimpin sumber daya manusia perusahaan-perusahaan negara, suasana terasa berbeda. Bukan sekadar presen
Jakarta — Di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh para pemimpin sumber daya manusia perusahaan-perusahaan negara, suasana terasa berbeda. Bukan sekadar presentasi dan diskusi formal, ada semacam keheningan penuh refleksi ketika sejumlah direktur human capital BUMN menatap layar yang memutar kisah-kisah kecil tentang inklusivitas. Hari itu, untuk pertama kalinya, Danantara Respectful and Inclusive Workplace Playbook diperkenalkan kepada mereka yang memegang kunci transformasi budaya kerja puluhan ribu insan BUMN.
“Saya merasa terpanggil secara pribadi,” ujar Nadia Salsabila, Direktur Human Capital sebuah BUMN sektor energi, dengan mata masih berkaca-kaca. “Selama ini kami bicara soal KPI, produktivitas, dan efisiensi. Tapi hari ini saya diingatkan bahwa di balik semua angka itu, ada manusia yang butuh dihargai tanpa terkecuali.”
Playbook yang Lahir dari Keheningan
Acara yang digelar oleh Danantara bekerja sama dengan UN Women ini bukanlah seremoni biasa. Buku panduan setebal 120 halaman itu disusun selama hampir dua tahun, melibatkan ratusan wawancara dengan pekerja dari berbagai latar belakang: perempuan yang kerap dipandang sebelah mata, penyandang disabilitas yang sering terpinggirkan, hingga pekerja dengan orientasi seksual dan identitas gender yang berbeda.“Playbook ini bukan kumpulan teori. Ia lahir dari denyut nadi tempat kerja kita sendiri. Setiap bab adalah cermin dari keresahan yang selama ini tak terdengar,” kata Rizal Mahardika, Head of Culture and Inclusion Danantara, di sela-sela sesi.Ia bercerita tentang seorang staf administrasi di sebuah BUMN konstruksi yang selama 10 tahun bekerja dalam diam karena merasa tak punya ruang untuk menyampaikan gagasan. Hanya karena ia berkursi roda. “Ketika kami rekam kisahnya, ia menangis. Katanya, inilah pertama kali suaranya didengar.”
Lebih dari Sekadar Kepatuhan
Sosialisasi ini menyasar para direktur human capital dengan alasan strategis: merekalah arsitek kebijakan SDM di masing-masing perusahaan. Tanpa pemahaman dan komitmen dari level puncak, playbook secanggih apa pun hanya akan menjadi dokumen yang berdebu di rak.“Kami tidak ingin BUMN sekadar patuh pada regulasi keberagaman. Kami ingin mereka menjadi teladan bahwa tempat kerja yang saling menghormati bukanlah beban, melainkan kekuatan yang mendorong inovasi,” tegas Sari Pertiwi, perwakilan UN Women Indonesia yang hadir sebagai fasilitator.Data menunjukkan, BUMN yang memiliki iklim kerja inklusif cenderung mencatatkan tingkat retensi karyawan yang lebih tinggi dan skor kepuasan kerja yang lebih baik. Namun, di balik statistik itu, ada kisah-kisah personal yang lebih menggugah. Dian, seorang analis muda di sebuah BUMN perbankan, mengaku sempat ingin mundur karena lingkungan kerja yang tidak suportif. “Saya difabel netra, dan sering merasa rekan kerja tidak percaya pada kemampuan saya. Setelah perusahaan mulai menerapkan prinsip seperti yang ada di playbook ini, saya akhirnya merasa dianggap. Bahkan sekarang saya memimpin tim kecil,” ceritanya. Narasi inilah yang membuat sesi sosialisasi begitu menyentuh. Para direktur human capital tidak hanya mendengar teori, tetapi juga menyelami pengalaman manusia di balik kebijakan.
Kilasan Momen Penuh Emosi
Di tengah acara, peserta diajak melakukan simulasi: mereka menuliskan di secarik kertas satu identitas yang paling mereka sembunyikan di tempat kerja. Kemudian, secara sukarela, beberapa diminta membacakan.“Saya menulis ‘pernah mengalami gangguan kecemasan’. Selama 20 tahun karir saya, saya selalu menutupinya karena takut dianggap lemah. Baru hari ini saya berani mengakuinya di depan kolega,” ungkap Bramantyo, Direktur HC BUMN farmasi, dengan suara bergetar.Suasana hening. Lalu tepuk tangan perlahan merekah. Momen itu menjadi penegas: tempat kerja yang inklusif bukan hanya soal fasilitas fisik atau kebijakan cuti, tetapi soal menciptakan ruang aman bagi setiap orang untuk menjadi diri sendiri.
Peta Jalan Menuju BUMN Inklusif
Dalam sesi teknis, para direktur diajak menyusun rencana aksi implementasi playbook. Beberapa poin penting yang menjadi sorotan:- Kebijakan Zero Tolerance terhadap diskriminasi dan pelecehan: Bukan sekadar aturan di atas kertas, tetapi mekanisme pelaporan yang aman dan transparan.
- Fasilitas ramah disabilitas: Dari ramp fisik hingga software aksesibilitas digital.
- Fleksibilitas kerja: Memberi ruang bagi pekerja dengan kebutuhan khusus atau tanggung jawab pengasuhan.
- Pelatihan keberagaman berkelanjutan: Bukan seminar sekali setahun, melainkan program yang terintegrasi dalam pengembangan karir.
Comments (0)