Di Puri Cikeas, SBY Ceritakan Kenangan Masa Kecil dan Harapan untuk Indonesia
Pagi itu, langit Bogor sedikit berawan. Di sebuah sudut kediaman pribadi Puri Cikeas, seekor burung kutilang berkicau riuh di antara rindang pohon mangga.
Pagi itu, langit Bogor sedikit berawan. Di sebuah sudut kediaman pribadi Puri Cikeas, seekor burung kutilang berkicau riuh di antara rindang pohon mangga. Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, duduk di kursi rotan favoritnya, secangkir kopi hitam mengepul di meja kecil di sampingnya. Dengan kemeja batik lengan panjang bercorak cokelat lembut, pria yang akrab disapa SBY itu menyambut tim Liputan6.com dengan senyum yang sama—tenang, teduh, dan sarat pengalaman.
Jumat, 21 Februari 2025, menjadi saksi percakapan panjang yang jarang terjadi. Di usia 76 tahun, SBY kini lebih banyak menghabiskan waktu di kediamannya, jauh dari hiruk-pikuk politik praktis. Namun ingatannya masih setajam silet, dan kerinduannya pada Indonesia yang lebih baik tetap membara. “Saya tidak pernah benar-benar pensiun dari memikirkan bangsa ini,” katanya, setengah berkelakar, sebelum wawancara dimulai.
Kenangan dari Pacitan yang Tak Pernah Pudar
Ketika ditanya tentang apa yang membentuk karakternya sebagai pemimpin, SBY langsung tertuju ke masa kecilnya di Pacitan, Jawa Timur. Di sanalah, di sebuah rumah berdinding anyaman bambu—gedek—ia belajar tentang hidup. “Kami bukan keluarga miskin yang kelaparan, tetapi sangat sederhana. Ayah saya seorang pensiunan tentara, ibu saya membuka warung kelontong kecil. Dari merekalah saya belajar arti kerja keras dan jujur,” ungkapnya.
“Saya ingat betul, setiap pagi sebelum berangkat sekolah, saya harus membantu ibu menata barang dagangan. Tidak ada yang boleh jatuh atau rusak. Dari situ saya mengerti, setiap tindakan kecil punya konsekuensi besar. Itu yang saya bawa hingga ke Istana.”
Kenangan itu bukan sekadar nostalgia. Bagi SBY, kesederhanaan Pacitan adalah fondasi moral yang menopang seluruh perjalanan hidupnya. Ia bercerita tentang kali kecil di belakang rumah, tempat ia dan teman-temannya biasa mandi sambil bermimpi menjadi “orang besar”. Kini, impian itu telah berwujud lebih dari yang pernah ia bayangkan.
Dua Periode di Singgasana: Antara Keputusan dan Air Mata
Ketua Umum Partai Demokrat periode 2004–2013 itu tidak menampik bahwa memimpin negeri sebesar Indonesia adalah beban yang sering membuatnya terjaga semalaman. Wawancara berubah menjadi refleksi emosional saat ia menyinggung masa-masa krisis.
“Saat tsunami Aceh 2004, saya baru beberapa bulan menjabat. Saya terbang ke sana dan melihat langsung mayat bergelimpangan, tangis anak-anak kehilangan orang tua. Di situlah saya sadar, jabatan ini bukan tentang kekuasaan, melainkan pelayanan tanpa batas.”
SBY juga menyinggung gempa Yogyakarta, lumpur Lapindo, dan berbagai bencana lain yang menguji ketangguhannya. Ia memimpin Indonesia selama dua periode (2004–2014), membawa pertumbuhan ekonomi di atas 5% di sebagian besar masa pemerintahannya, sekaligus menjaga stabilitas politik di tengah riuhnya demokrasi yang baru tumbuh.
Satu hal yang paling menyayat hatinya adalah ketika harus mengambil keputusan yang tidak populer. “Menaikkan harga BBM di saat rakyat menjerit itu seperti menyayat daging sendiri,” ucapnya dengan suara bergetar, matanya menerawang ke taman. Namun ia percaya, subsidi yang salah sasaran justru akan menyengsarakan lebih banyak orang dalam jangka panjang.
Cikeas Kini: Sunyi Namun Penuh Makna
Setelah Ibu Ani Yudhoyono berpulang pada 2019, Puri Cikeas terasa lebih sunyi. SBY mengakui bahwa kehilangan pendamping hidup selama lebih dari 40 tahun adalah pukulan terberat dalam hidupnya. “Rumah ini tidak lagi sama tanpa suara beliau. Tapi saya bersyukur, anak dan cucu sering datang. Merekalah pelipur lara saya,” katanya sembari tersenyum getir.
Di usia senja, SBY memilih untuk menulis, membaca, dan sesekali menerima tamu terbatas. Studio musik kecil di sudut rumah masih sering ia kunjungi untuk bernyanyi atau sekadar mendengarkan lagu-lagu lama. SBY telah menulis lebih dari 10 buku, sebagian besar tentang demokrasi, kepemimpinan, dan pengalamannya sebagai presiden. “Menulis adalah cara saya tetap waras dan berkontribusi tanpa harus bersuara lantang di podium politik,” imbuhnya.
Pesan untuk Indonesia: Generasi Muda Pemegang Estafet
Salah satu momen paling bersemangat dalam wawancara itu adalah ketika SBY berbicara tentang anak muda Indonesia. Matanya berbinar, gesturnya lebih dinamis. “Saya optimistis. Generasi sekarang jauh lebih pintar, lebih berani, dan lebih terhubung dengan dunia,” katanya.
“Tapi ada satu yang harus diingat: teknologi tidak boleh membunuh nurani. Saya titip, jaga Indonesia dengan hati. Demokrasi kita masih muda, rawatlah dengan dialog, bukan dengan kebencian.”
Ia berpesan agar para pemimpin muda tidak terjebak dalam pragmatisme sesaat. Integritas dan keteladanan, katanya, adalah dua hal yang tidak bisa dibeli dengan uang atau jabatan. “Saya tidak ingin anak-cucu saya tumbuh di negeri yang lupa sopan santun, yang bangga dengan kemaksiatan. Itu tugas kita bersama,” tegasnya.
Saat mentari Bogor mulai condong ke barat, wawancara harus diakhiri. SBY berdiri, merapikan batiknya, lalu menggandeng tangan kami satu per satu. “Terima kasih sudah mendengarkan cerita orang tua ini,” ucapnya rendah hati. Sebelum berpisah, ia menambahkan, “Kalau nanti kalian menulis, tolong sampaikan bahwa saya hanya ingin Indonesia lebih baik. Hanya itu.”
Di gerbang Puri Cikeas, kami menoleh untuk terakhir kalinya. Sosok itu masih berdiri di teras, melambaikan tangan. Di langit Bogor, burung kutilang tadi kembali berkicau, seakan ikut mengamini harapan seorang negarawan.
[TAGS]: SBY, Puri Cikeas, wawancara eksklusif, Pacitan, kepresidenan, demokrasi, generasi muda [SOCIAL_TWEET]: “Saya hanya ingin Indonesia lebih baik.” Di kediamannya, SBY berbagi kenangan masa kecil di Pacitan dan harapan untuk generasi muda. Simak wawancara eksklusif penuh emosi ini. #SBY #IndonesiaLebihBaik #Kepemimpinan [SOCIAL_FB]: Dari rumah anyaman bambu di Pacitan hingga Istana Negara: SBY membuka hati tentang perjalanan hidup, kehilangan, dan pesan menyentuh untuk masa depan Indonesia. Klik untuk membaca kisah langka yang akan membuat Anda merenung. [SOCIAL_TG]: 🌿 “Jabatan ini bukan tentang kekuasaan, melainkan pelayanan tanpa batas.” SBY duduk bersama kami di Puri Cikeas, berbagi kisah yang jarang terungkap. Baca selengkapnya. 🇮🇩 [SOCIAL_THREADS]: Pagi di Cikeas, ngobrol santai sama Pak SBY. Cerita masa kecil, air mata saat tsunami, sampai pesan buat anak muda. Tenang tapi ngena banget. Baca, deh.
Comments (0)