Lombok Barat, NTB — Prabowo Resmikan Lima Bendungan Serentak

Rina (42) berdiri di antara hamparan sawah yang menguning di Desa Kuripan, Lombok Barat. Ia menyeka keringat dengan ujung jilbabnya, lalu tersenyum tipis s

Jul 10, 2026 - 21:39
0 1
Lombok Barat, NTB — Prabowo Resmikan Lima Bendungan Serentak

Rina (42) berdiri di antara hamparan sawah yang menguning di Desa Kuripan, Lombok Barat. Ia menyeka keringat dengan ujung jilbabnya, lalu tersenyum tipis saat menatap deretan tanaman padi yang mulai merunduk. Senyum itu bukan sekadar tanda panen akan tiba, melainkan tanda kemenangan setelah bertahun-tahun berjibaku dengan musim kemarau yang selalu membuat sawahnya kering kerontang. Pada Jumat pagi (10/7/2026), Presiden Prabowo Subianto meresmikan lima bendungan secara serentak dari kawasan Bendungan Meninting di Lombok Barat. Momen itu menjadi jawaban bagi ribuan petani seperti Rina yang selama ini menggantungkan hidup pada hujan.

“Dulu, kalau kemarau panjang, kami hanya bisa pasrah. Sumur kering, irigasi mati. Tanam padi hanya setahun sekali pun sering gagal,” kata Rina dengan suara yang nyaris bergetar. “Sekarang, air selalu ada. Saya bisa panen dua kali setahun. Anak saya bisa terus sekolah tanpa saya harus numpang utang sama tengkulak.”

Peresmian itu dipusatkan di halaman Bendungan Meninting, tapi keempat bendungan lain—Bendungan Temef di Nusa Tenggara Timur, Bendungan Passeloreng di Sulawesi Selatan, Bendungan Kuwil di Sulawesi Utara, dan Bendungan Lausimeme di Sumatera Utara—terhubung lewat sambungan video. Dengan satu tombol digital, Presiden Prabowo membuka katup secara simbolis, memicu gemuruh tepuk tangan dari ribuan warga yang hadir di setiap lokasi. Air mulai mengalir ke saluran irigasi primer, dan dari layar besar terlihat petani di lima daerah itu mengangkat cangkul serta sekop mereka ke udara, menyambut air yang telah lama dinanti.

Kisah serupa datang dari Dian (35), petani jagung di Kecamatan Poco Ranaka, NTT. Di ujung video call, ia memperlihatkan kebun jagungnya yang hijau segar. “Saya dulu harus berjalan dua kilometer untuk mengambil air dari sungai yang sering kering,” ujarnya. “Sekarang air sudah di depan rumah. Saya bisa tanam tomat dan cabai juga, tidak cuma jagung.” Sementara dari Sulawesi Selatan, Marsuki (60), seorang petani padi tadah hujan, menunjukkan bukunya yang sudah lusuh penuh catatan utang. “Ini buku utang saya. Semoga setelah ini, saya bisa menabung, bukan melunasi utang terus,” katanya lirih, disambut tepukan di pundak oleh penyuluh pertanian yang mendampinginya.

Presiden Prabowo dalam sambutannya menekankan bahwa momen ini adalah bukti bahwa negara hadir di tengah rakyat kecil. “Ini bukan hanya tentang bendungan, tapi tentang masa depan petani kita. Tentang anak-anak yang bisa mendapat gizi lebih baik karena orang tuanya panen cukup. Tentang desa-desa yang tidak lagi kehilangan warganya ke kota karena tidak ada air,” tegasnya. Di podium, ia memegang sehelai kertas berisi data: total 26.340 hektare lahan akan teririgasi baru, dan lebih dari 120.000 keluarga petani akan merasakan langsung manfaatnya. Suasana haru dan penuh syukur menyelimuti area peresmian. Ibu-ibu menyanyikan lagu daerah, anak-anak berlarian di bawah percikan air dari pipa irigasi yang baru mengucur, dan para orang tua terlihat saling berangkulan.

Dari Infrastruktur Fisik ke Jaring Pengaman Sosial

Pembangunan lima bendungan ini tidak sekadar menambah angka di laporan statistik kementerian. Lebih dalam, proyek multilokasi ini adalah jawaban atas salah satu akar masalah kemiskinan struktural di pedesaan: ketidakpastian air. Menurut data Badan Pusat Statistik, lebih dari 40 persen rumah tangga petani di daerah tanpa infrastruktur irigasi memadai masih hidup di bawah garis kemiskinan nasional. Ketika bendungan hadir, rantai kemiskinan itu dipotong di hulu: air tersedia sepanjang tahun, frekuensi tanam naik, pendapatan naik, dan konsumsi rumah tangga menjadi lebih stabil.

“Bendungan adalah fondasi ekologis dari ketahanan pangan. Tanpa kontrol air, kita hanya bisa berharap pada cuaca,” kata Dr. Niken Palupi, ekonom pertanian dari Universitas Gadjah Mada. “Ketika satu bendungan mampu mengubah pola tanam dari satu kali menjadi dua atau bahkan tiga kali setahun, dampak ekonominya setara dengan memberi kenaikan pendapatan 80–120 persen per keluarga tani. Belum lagi efek turunannya pada distribusi pangan dan harga di perkotaan.”

Di Lombok Barat sendiri, Bendungan Meninting yang memiliki kapasitas tampung 12,3 juta meter kubik kini mengairi lahan seluas 1.850 hektare. Sebelum bendungan beroperasi, lahan tersebut hanya bisa ditanami padi sekali setahun dengan risiko gagal panen mencapai 30 persen. Kini, intensitas tanam naik menjadi 250 persen pada tahun pertama pasca-pengisian awal. Cerita serupa bergulir di NTT, di mana Bendungan Temef menjadi oase di tengah bentang alam yang kering dan berbatu. Di desa-desa sekitar bendungan, muncul sentra-sentra sayur baru yang sebelumnya tidak pernah ada. Petani yang tadinya hanya menanam jagung dan kacang hijau kini mulai berani mencoba komoditas bernilai tinggi seperti cabai, tomat, dan semangka.

Perubahan ini juga menyentuh dimensi sosial. Dalam banyak kasus, petani kecil kerap terjebak dalam lingkaran utang pada tengkulak karena harus membeli benih dan pupuk di awal musim tanam tanpa jaminan hasil. Ketika akses air terjamin dan panen lebih sering, ketergantungan pada tengkulak menurun drastis. Sebuah studi kecil oleh LSM lokal di Lombok Barat mencatat bahwa 72 persen petani penerima air irigasi dari bendungan baru melaporkan bahwa mereka tidak lagi berutang pada tengkulak dalam setahun terakhir, dibandingkan dengan hanya 24 persen sebelum bendungan berfungsi.

Perbandingan Kapasitas dan Dampak Lima Bendungan

Lima bendungan yang diresmikan memiliki karakteristik yang berbeda, sesuai dengan topografi dan kebutuhan lokal masing-masing. Tabel berikut merangkum data kapasitas tampung dan luas lahan teririgasi sebagai gambaran dampak langsung proyek ini.

Bendungan Lokasi Kapasitas (juta m3) Luas Irigasi (hektare) Perkiraan KK Penerima Manfaat
Meninting NTB 12,3 1.850 7.200
Temef NTT 22,8 4.540 11.300
Passeloreng Sulawesi Selatan 17,1 6.120 9.800
Kuwil Sulawesi Utara 15,6 2.980 6.400
Lausimeme Sumatera Utara 28,4 10.850 15.200

Dari data di atas, total kapasitas tampung mencapai 96,2 juta meter kubik dengan luas irigasi baru lebih dari 26.300 hektare. Jumlah keluarga penerima manfaat langsung diperkirakan mencapai 49.900 KK, yang jika dikalikan rata-rata empat jiwa per keluarga, maka lebih dari 199.600 jiwa akan merasakan perubahan nyata. Angka ini belum mencakup efek tidak langsung seperti terbukanya lapangan kerja di sektor pengolahan hasil tani, perdagangan, dan jasa transportasi yang mengiringi peningkatan produksi pertanian.

Kini, ketika air telah mengalir dan bibit telah ditanam, petani seperti Rina dan Dian tidak lagi menengadah ke langit dengan cemas. Mereka memandang saluran irigasi yang penuh, mendengar gemericik air yang stabil, dan mulai menghitung hari menuju panen berikutnya. Di balik megahnya dinding beton dan pipa-pipa besar, ada sepotong hidup yang kembali mendapatkan kepastian. Sebab bagi mereka, bendungan ini bukanlah sekadar proyek infrastruktur, melainkan janji yang akhirnya ditepati setelah puluhan tahun menunggu.

[TAGS]: Prabowo Subianto, Bendungan Meninting, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Ketahanan Pangan [SOCIAL_TWEET]: Air kini mengalir ke sawah-sawah yang dulu kering. Presiden Prabowo resmikan lima bendungan serentak dari Lombok Barat. Lebih dari 26.000 hektare lahan teririgasi, 120.000 keluarga petani tersenyum. Ini bukan cuma infrastruktur, ini jawaban atas doa petani yang puluhan tahun menunggu. #Prabowo #BendunganUntukNegeri #KetahananPangan [SOCIAL_FB]: Setelah puluhan tahun berharap, akhirnya air itu datang juga. Lima bendungan serentak diresmikan, membawa perubahan nyata bagi lebih dari 120.000 keluarga petani di lima provinsi. Baca kisah petani yang kini bisa panen dua kali setahun dan meninggalkan buku utang mereka. [SOCIAL_TG]: 🚰 Lima bendungan baru diresmikan serentak dari Lombok Barat. Lebih dari 26 ribu hektare sawah kini terairi. Petani bisa panen dua kali setahun. Air adalah kehidupan. 💧🌾 [SOCIAL_THREADS]: Petani di Lombok Barat nangis haru pas air dari bendungan baru mengalir. Dulu cuma panen setahun sekali, sekarang bisa dua kali. Utang ke tengkulak pun mulai ditinggalkan. Sehat-sehat selalu buat para pahlawan pangan kita. 🥹✨

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User