Dari Hati yang Terpikat: Sherina Ajukan Diri demi Peran di Film Filosofi
Di suatu senja yang biasa saja, ketika langit Jakarta mulai memudar ke jingga, Sherina Munafik sedang duduk di sudut kamar sambil memeluk secangkir teh hangat. Lelah setelah seharian mengurus putri ke...
Di suatu senja yang biasa saja, ketika langit Jakarta mulai memudar ke jingga, Sherina Munafik sedang duduk di sudut kamar sambil memeluk secangkir teh hangat. Lelah setelah seharian mengurus putri kecilnya dan menuntaskan sesi rekaman, matanya nyaris terpejam. Namun, dering ponsel yang hanya berisi pesan singkat dari seorang sahabat seketika membangunkan seluruh antusiasmenya. Pesan itu berbunyi sederhana: "Filosofi Teras mau dijadiin film, lho."
Seketika, teh hangat itu terlupakan. Sherina, yang sejak lama mengagumi buku karya Henry Manampiring tersebut, merasa seperti baru saja diberi hadiah tak terduga di tengah rutinitas. Bukan sekadar ketertarikan biasa, melainkan dorongan kuat yang langsung memenuhi seluruh rongga dadanya. "Saya enggak mau cuma jadi penonton," bisiknya pada diri sendiri malam itu. Ia ingin menjadi bagian dari perjalanan visual yang akan menerjemahkan kebijaksanaan tersebut ke layar lebar.
Ketika Buku Menyapa Jiwa
Bagi penggemar Filosofi Teras, buku ini bukan sekadar bacaan ringan. Ia adalah teman yang menyelamatkan di masa-masa sulit, peta yang memandu kembali ke arah yang lebih tenang. Sherina mengisahkan bagaimana buku itu hadir di fase hidupnya yang penuh kegelisahan. Di tengah tuntutan karier yang tak pernah berhenti, peran sebagai ibu baru, dan hiruk-pikuk dunia hiburan, ia menemukan ketenangan yang tak disangka. "Tiap kali merasa diburu ekspektasi, saya ingat kembali soal dikotomi kendali. Sebagian besar kecemasan kita sebenarnya terletak pada hal-hal di luar kendali. Buku itu mengajarkan saya untuk berdamai," ujarnya dengan nada suara yang melembut.
Maka, ketika adaptasi film diumumkan, respons Sherina bergerak di luar kelaziman. Bukan manajer yang mencari peran, bukan panggilan dari produser, melainkan dorongan tulus dari hati. "Saya merasa karakter Nea punya pesan yang harus disampaikan. Dia bukan sekadar tokoh; dia adalah representasi dari perjuangan kita sehari-hari," kata Sherina dengan mata yang berbinar.
Melangkah Tanpa Diminta
Tidak butuh waktu lama bagi Sherina untuk mewujudkan niatnya. Dalam hitungan hari setelah mendengar kabar itu, ia menghubungi langsung salah satu produser. Dengan kerendahan hati yang tulus, ia menyampaikan keinginannya untuk terlibat, bahkan jika harus mengikuti audisi. "Saya kirim pesan panjang, isinya lebih mirip surat cinta pada proyek ini daripada tawaran profesional," kenangnya sambil tersenyum malu. Di era ketika banyak aktor menunggu dijemput, langkah Sherina ini menjadi kejutan tersendiri bagi kru produksi.
Sikap proaktif ini bukan dilandasi ambisi untuk menambah daftar filmografi, melainkan keyakinan bahwa cerita semacam ini harus diceritakan. Bahwa di balik kisah sinematik, ada ruang untuk setiap orang merefleksikan bagaimana mereka memaknai hidup. Bagi Sherina, Nea adalah cermin dari proses itu, tokoh yang mengajak penonton bukan hanya menonton, tetapi ikut merenungi. "Saya bisa saja pasif, menunggu tawaran, tapi kali ini hati saya benar-benar berbisik, 'Kamu harus ada di sini,'" tegasnya.
Pesan di Balik Karakter Nea
Lalu, apa yang membuat Nea begitu istimewa bagi Sherina? Menurutnya, Nea adalah sosok yang merepresentasikan perjalanan menemukan ketenangan di tengah kekacauan. "Dia bukan tokoh yang sempurna. Justru di situlah kekuatannya. Dia rapuh, dia jatuh, tapi dia belajar bahwa kebahagiaan itu bukan tentang mengubah dunia di luar, melainkan mendamaikan dunia di dalam," papar Sherina. Perjuangan semacam ini, katanya, adalah napas yang terus ia rasakan dalam hidupnya sendiri.
Sepanjang proses penggarapan film, Sherina mengaku mengalami banyak momen mengharukan. Ada adegan-adegan yang membuatnya menangis tanpa bisa dicegah, bukan karena kesedihan, melainkan karena merasa begitu terhubung. "Air mata itu muncul begitu saja. Saya merasa bukan hanya memerankan Nea, melainkan sedang mengisahkan kembali perjalanan saya sendiri," ungkapnya. Tim produksi pun sering mendapati Sherina tenggelam dalam diskusi panjang tentang buku aslinya, memastikan setiap detail karakter tetap setia pada ruh filosofi stoa yang menjadi pondasi cerita.
Di balik layar, cerita tentang aktor yang rela "melamar" peran jarang terjadi. Namun, kisah Sherina justru menjadi pengingat bahwa sebuah karya yang menyentuh akan selalu menemukan jalannya untuk dihidupkan oleh hati-hati yang tepat. Ketika ketertarikan murni bertemu dengan kesempatan, yang lahir bukan sekadar film, melainkan persembahan yang tulus. Dan bagi Sherina, Filosofi Teras lebih dari sekadar proyek; ia adalah bagian dari ikhtiar panjang untuk menyebarkan pesan bahwa di tengah segala keterbatasan, manusia selalu punya ruang untuk memilih sikap yang damai.
Baca juga:
Comments (0)