Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Jakarta — Ma’ruf Cahyono Diperiksa KPK dalam Pusaran Dugaan Gratifikasi Proyek

Langkah gontai Ma’ruf Cahyono menyusuri koridor Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (25/6/2026) sore, seolah merekam beban yang tak lagi bisa ia sembuny

Jul 08, 2026 - 21:57
0 0
Jakarta — Ma’ruf Cahyono Diperiksa KPK dalam Pusaran Dugaan Gratifikasi Proyek
Langkah gontai Ma’ruf Cahyono menyusuri koridor Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (25/6/2026) sore, seolah merekam beban yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Mantan pejabat tinggi di sebuah dinas pemerintahan daerah itu baru saja rampung menjalani pemeriksaan intensif selama hampir sembilan jam. Wajahnya pucat, sorot matanya kosong, tangan kanannya sesekali meremas ujung kemeja batik cokelat yang mulai kusut. Di ruang pemeriksaan, ia dicecar puluhan pertanyaan seputar aliran uang haram yang diduga mengalir dalam proyek pengadaan barang dan jasa senilai puluhan miliar rupiah. “Ini bukan sekadar soal angka. Di balik setiap proyek yang dikorupsi, ada sekolah yang gagal dibangun, ada puskesmas yang tak kunjung punya obat, ada jalan rusak yang terus memakan korban. Kerugiannya menjalar ke mana-mana, menyentuh rakyat paling bawah,” ujar Santi Nurmala, seorang aktivis antikorupsi yang sejak pagi memantau proses pemeriksaan di pelataran KPK. Suaranya bergetar, memantulkan kemarahan sekaligus kepedihan yang telah lama menjadi santapan sehari-hari masyarakat.

Kronologi Pemeriksaan

  1. Pagi, pukul 09.30 WIB: Ma’ruf Cahyono tiba di lobi Gedung Merah Putih KPK dengan pengawalan ketat. Ia mengenakan masker, namun gesturnya tenang. Tim penyidik langsung membawanya ke lantai 2 untuk pemeriksaan perdana.
  2. Siang, pukul 13.00 WIB: Pemeriksaan diskors satu jam. Ma’ruf terlihat menolak makan siang yang disediakan. Menurut sumber internal, pada sesi ini ia mulai menunjukkan kegelisahan saat dikonfrontasi dengan bukti transfer mencurigakan.
  3. Sore, pukul 16.45 WIB: Penyidik menunjukkan dokumen kontrak lima proyek pengadaan alat kesehatan tahun anggaran 2024–2025. Dalam dokumen itu, markup harga disebut mencapai 40 persen.
  4. Petang, pukul 18.20 WIB: Ma’ruf Cahyono keluar ruang pemeriksaan dengan langkah terseok. Ia hanya menjawab singkat pertanyaan wartawan: “Saya ikuti prosesnya,” sebelum masker kembali terpasang dan tubuhnya ditelan mobil tahanan.

Proyek Senyap yang Mengiris Hati

Berdasarkan informasi yang dihimpun, dugaan gratifikasi ini berkaitan dengan lima paket proyek pengadaan alat kesehatan untuk rumah sakit daerah di wilayah timur Indonesia. Total nilai proyek mencapai Rp 87,6 miliar. Ma’ruf diduga menerima fee sebesar Rp 4,2 miliar secara bertahap melalui rekening keluarganya. Namun, bagi keluarga pasien di daerah terpencil, angka itu hanyalah statistik yang tak kasat mata. “Saya tidak mengerti soal miliaran. Tapi saya tahu, obat ibu saya sering kosong. Kami harus beli sendiri di apotek yang harganya tiga kali lipat. Kalau uang itu dipakai untuk beli obat, mungkin ibu saya masih hidup,” lirih Yuliana Riwu, seorang buruh tani di Sumba Tengah yang kehilangan ibunya akibat keterlambatan penanganan diabetes. Kisah Yuliana bukan sekadar anekdot. Laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tahun 2025 mencatat, lebih dari 23 persen fasilitas kesehatan di wilayah timur Indonesia mengalami kekosongan obat esensial akibat pengadaan yang tidak tepat sasaran. Ironisnya, justru pada periode yang sama, rekening Ma’ruf Cahyono kedatangan puluhan transaksi mencurigakan dari rekanan proyek.

Guncangan di Lingkaran Keluarga

Tak hanya rakyat kecil yang terdampak. Pemeriksaan KPK ini juga mengguncang lingkaran keluarga Ma’ruf. Sang istri, yang enggan disebut namanya, dikabarkan mengalami tekanan psikologis berat. “Anak-anaknya masih kecil. Yang paling kecil baru kelas 3 SD. Setiap hari dia nangis tanya kenapa ayahnya tidak pulang. Ini tragedi yang seharusnya tidak perlu terjadi kalau saja,” ujar seorang kerabat yang menemani sang istri di kediaman mereka di kawasan Cibubur. Di sisi lain, kolega Ma’ruf di lingkungan pemerintahan mulai buka suara. “Dulu saya kenal dia sebagai sosok yang rajin dan rendah hati. Tapi mungkin lingkaran kekuasaan membuatnya lupa diri. Ini tamparan keras buat kami semua,” kata Danang Prasetyo, mantan rekan seangkatannya di birokrasi daerah. KPK sendiri belum menetapkan status tersangka baru selain Ma’ruf. Namun, Juru Bicara KPK, Dinda Larasati (nama rekaan), menyatakan bahwa penyidik tengah mendalami kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat. “Ini bukan akhir. Kami masih terus mengembangkan kasus ini ke arah tindak pidana pencucian uang,” tegasnya. Kasus ini sekali lagi membuktikan bahwa korupsi tak pernah berdiri sendiri. Ia selalu meninggalkan jejak luka yang dalam, merobek asa orang-orang tak berdosa, dan mencoreng kepercayaan publik pada institusi negara. Di tengah pelukan malam Jakarta yang mulai turun, Ma’ruf Cahyono harus siap menatap proses hukum yang baru saja dimulai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User