Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Indonesia Wajibkan Avtur Campur Minyak Nabati 1 Persen Mulai 2027

Langit Indonesia bersiap menyambut era baru penerbangan yang lebih hijau. Pemerintah secara resmi menetapkan bahwa mulai tahun 2027, seluruh pesawat terban

Jul 08, 2026 - 15:40
0 0

Langit Indonesia bersiap menyambut era baru penerbangan yang lebih hijau. Pemerintah secara resmi menetapkan bahwa mulai tahun 2027, seluruh pesawat terbang di Tanah Air wajib menggunakan avtur yang dicampur dengan minyak nabati sebesar satu persen. Kebijakan ini merupakan langkah awal dari peta jalan sustainable aviation fuel (SAF) yang lebih ambisius di masa depan.

Di balik angka satu persen itu, tersimpan cerita panjang tentang pergulatan Indonesia mencari keseimbangan: tetap terhubung via udara tanpa terus-menerus menyumbang emisi karbon yang kian mencekik. Ini bukan sekadar angka teknis di atas kertas kebijakan. Ini tentang masa depan anak-anak kita, tentang udara yang mereka hirup, tentang bumi yang mereka warisi.

Mimpi Besar di Balik Satu Persen

"Saya mungkin tidak akan merasakan langsung perbedaannya saat terbang nanti. Tapi mengetahui bahwa pesawat yang saya tumpangi mulai menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, rasanya ada harapan," ujar Sari (34), seorang ibu rumah tangga yang rutin terbang Jakarta-Surabaya untuk mengunjungi orang tuanya.

Bagi Sari dan jutaan penumpang pesawat lainnya, kebijakan ini mungkin tak terasa. Pesawat tetap lepas landas dan mendarat seperti biasa. Namun di balik layar, sebuah revolusi diam-diam sedang berlangsung.

"Ini adalah langkah awal yang krusial. Satu persen mungkin terdengar kecil, tapi itu fondasi yang akan menentukan apakah kita bisa melompat ke target yang lebih tinggi di tahun-tahun berikutnya," jelas Darmawan, seorang pengamat kebijakan energi yang telah mengikuti isu ini sejak satu dekade lalu.

Dari Lahan Tani ke Landasan Pacu

Yang menarik, kebijakan ini tak cuma mengubah lanskap industri penerbangan. Ia juga membuka pintu bagi ribuan petani di pelosok negeri. Minyak nabati yang jadi campuran avtur—entah itu dari kelapa sawit, jarak, atau tanaman potensial lainnya—berarti permintaan baru bagi hasil bumi Indonesia.

"Dulu saya cuma bisa jual sawit ke pabrik minyak goreng. Sekarang, bayangkan kalau panen saya bisa juga menggerakkan pesawat terbang. Rasanya seperti jadi bagian dari sesuatu yang besar," ujar Pak Ruslan (52), petani sawit di Kalimantan Tengah, dengan mata berbinar.

"Kami tidak ingin kebijakan ini jadi beban baru bagi rakyat. Justru sebaliknya, kami ingin petani kita yang menikmati manfaatnya. Dari lahan mereka, pesawat kita terbang. Dari langit, kesejahteraan mereka ikut terangkat," ungkap Kepala Pusat Penelitian Energi Baru Terbarukan saat ditemui di sela-sela diskusi publik pekan lalu.

Pemerintah menargetkan peta jalan ini akan terus berlanjut. Satu persen di 2027 hanyalah permulaan. Ke depan, persentase campuran akan ditingkatkan secara bertahap seiring dengan kesiapan infrastruktur, teknologi, dan pasokan bahan baku.

Bagi para pelaku industri penerbangan, ini adalah tantangan yang harus dihadapi bersama-sama. "Kami mendukung penuh. Biaya mungkin sedikit naik di awal, tapi ini investasi untuk keberlanjutan. Tidak ada gunanya maskapai untung besar kalau planet ini makin rusak," kata seorang perwakilan maskapai nasional yang enggan disebutkan namanya.

Tahun 2027 masih dua tahun lagi. Namun di hanggar-hanggar, di laboratorium, dan di kebun-kebun percontohan, persiapan sudah dimulai. Dari langit Indonesia, sebuah pesan akan dikirimkan ke dunia: terbang tak harus selalu meninggalkan jejak karbon yang merusak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User