Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Bologna — Di tengah riuh mesin dan aroma karet terbakar yang selalu

Kritik itu muncul bak hujan di hari balapan: tak terduga, tapi langsung membekas. Ducati, pabrikan Italia yang identik dengan warna merah menyala dan waris

Jul 08, 2026 - 04:49
0 0
Bologna — Di tengah riuh mesin dan aroma karet terbakar yang selalu
Kritik itu muncul bak hujan di hari balapan: tak terduga, tapi langsung membekas. Ducati, pabrikan Italia yang identik dengan warna merah menyala dan warisan balap legendaris, dituding mulai kehilangan identitas nasionalnya. Sebutan sebagai "Timnas Spanyol" pun viral di kalangan penggemar dan media, menyusul keputusan mereka merekrut Pedro Acosta untuk mendampingi Marc Marquez musim depan. Padahal, bagi Davide Tardozzi, Manajer Tim Ducati Corse, keputusan itu ibarat memilih pisau paling tajam di dapur—semata-mata karena fungsinya, bukan karena asalnya.

Di Ruang Kerja yang Penuh Kenangan

Ruang kerja Tardozzi di markas Ducati adalah museum mini. Trofi-trofi berjejer rapi, foto-foto kejayaan dengan Casey Stoner dan Francesco Bagnaia menghiasi dinding. Di sanalah ia menerima kami, dengan ekspresi tenang namun matanya memancarkan api khas orang yang telah menghabiskan puluhan tahun di dunia balap. Di meja kerjanya, tergeletak data telemetri terbaru; grafik-grafik yang lebih fasih berbicara tentang performa dibanding opini-opini di media sosial.

"Saya mendengar semua itu," ujarnya, merujuk pada kritik yang menyamakan timnya dengan tim nasional sepak bola Spanyol. Ia berhenti sejenak, menyesap espreso-nya yang mulai dingin. "Dan saya hanya bisa bilang: kami tidak sedang membangun tim nasional. Kami sedang membangun tim balap."

Kritik yang Menggema

Kegeraman publik—terutama para tifosi Italia—sesungguhnya bisa dipahami. Duet Acosta-Marquez akan menjadi kali pertama Ducati mengandalkan dua pembalap Spanyol secara bersamaan. Ini terjadi setelah Francesco Bagnaia, sang juara dunia dua kali asal Turin yang menjadi ikon kebangkitan Italia di kelas premier, memutuskan menyeberang ke Aprilia. Kehilangan Bagnaia terasa seperti kehilangan anak emas; mengisi kekosongan itu dengan dua orang Spanyol seperti menabur garam di luka.

"Saya paham romantisme itu. Pecco adalah bagian dari keluarga kami. Tapi kami tidak bisa membiarkan romantisme mengaburkan fakta: kami harus menang. Kami tidak bisa memilih pembalap hanya karena paspornya," tegas Tardozzi.

Bukan Tentang Paspor, Tapi Lap Time

Acosta, yang baru berusia 21 tahun, dianggap sebagai generational talent—sebutan yang tak diberikan dengan ringan di paddock MotoGP. Data tidak pernah berbohong, dan di atas kertas, ia adalah masa depan yang tak ingin dilepas Ducati ke tim lain. Sementara Marquez, dengan delapan gelar dunianya, adalah masa kini yang masih sangat kompetitif.

Ketika ditanya mengapa tidak mempertahankan pembalap Italia lain atau memberi kesempatan pada talenta muda dari akademi VR46, Tardozzi merespons dengan analogi sederhana: "Ketika Anda harus terbang melintasi Atlantik, Anda memilih pilot terbaik, bukan pilot yang kebetulan lahir di kota Anda."

"Keputusan ini murni tentang performa. Marc telah membuktikan diri, dan Pedro... well, Pedro adalah sesuatu yang spesial. Kami melihat data, kami melihat cara dia membalap. Status kewarganegaraan adalah hal terakhir yang kami lihat."

Menerka Masa Depan di Balik Helm

Di garasi Ducati musim depan, akan ada dua helm dengan corak berbeda namun bendera yang sama: merah-kuning Spanyol. Tapi Tardozzi berharap publik bisa melihat melampaui itu. Nama besar Ducati Corse, yang lahir dari tanah Bologna, tidak akan luntur hanya karena warna bendera pembalapnya.

"Lagi pula," tambahnya sambil tersenyum tipis, "kita tetap punya motor merah, kru mayoritas Italia, dan pasta di menu makan siang. Lalu apa yang berubah?"

Mungkin benar. Di era di mana performa diukur dalam seperseribu detik, sentimen nasionalisme kadang harus rela diparkir di jalur pit. Yang tersisa hanyalah stopwatch, yang tak peduli dari mana pembalapmu berasal.

Warisan yang Tak Ingin Dikotori

Saat meninggalkan ruang kerjanya, mata kami tertumbuk pada sebuah foto lawas: Tardozzi muda, berdiri di samping Troy Bayliss—seorang Australia—yang baru saja memenangkan gelar World Superbike untuk Ducati. Sejarah memang mencatat, Ducati tak pernah benar-benar terikat pada sekat-sekat nasionalitas pembalapnya. Mereka terikat pada satu hal: kemenangan.

"Jika saya harus memilih antara membuat tifosi bangga atau membuat mereka menangis haru di podium, saya pilih yang kedua. Warna bendera tidak pernah tertera di trofi," kata Tardozzi menutup perbincangan.

Dan di luar sana, ribuan penggemar mungkin masih merajuk. Tapi Tardozzi tahu: suara mesin yang meraung lebih keras dari kritik mana pun, dan podium adalah jawaban paling elegan untuk semua pertanyaan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User