Bogor — Prabowo Minta Polri Membela dan Merasakan Penderitaan Rakyat
Langit Cikeas pagi itu cerah, tapi yang lebih menyilaukan adalah kilau seragam 15.000 personel Polri yang berbaris rapi di lapangan Satlat Brimob. Di tenga
Langit Cikeas pagi itu cerah, tapi yang lebih menyilaukan adalah kilau seragam 15.000 personel Polri yang berbaris rapi di lapangan Satlat Brimob. Di tengah upacara Hari Bhayangkara ke-80, Selasa (1/7), suara Presiden Prabowo Subianto menggema: “Polri harus selalu di tengah rakyat, membela rakyat, dan merasakan penderitaan rakyat.” Bagi Brigadir Satu Andi Pratama, 28 tahun, kalimat itu bukan sekadar arahan pimpinan—melainkan kilas balik ke setahun lalu, saat ia harus menggendong seorang nenek lumpuh sejauh tiga kilometer di pelosok Gunung Kidul agar bisa mendapat bantuan beras.
“Saya jadi ingat kenapa saya dulu ingin jadi polisi: bukan buat gagah-gagahan, tapi buat bantu orang yang kesusahan,” ujarnya lirih, mata menerawang. Seperti Andi, ribuan anggota Polri lainnya kini tak hanya sibuk mengatur lalu lintas atau mengungkap kejahatan—mereka turun ke sawah, mengelola gudang pangan, dan memasak di dapur-dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dari Pendekar Kemerdekaan ke Penjaga Dapur Rakyat
Presiden Prabowo mengingatkan bahwa Polri lahir dari rahim perjuangan kemerdekaan. Karena itu, “sifat selalu di tengah rakyat” sudah seharusnya menjadi DNA lembaga ini. Pidatonya di hadapan ribuan personel Brimob itu bukanlah seremoni kosong—ada jejak nyata yang sudah mulai terasa.
Di Desa Sidomulyo, Lampung Tengah, Siti Maryam, janda 45 tahun dengan tiga anak, kini tak lagi bingung memikirkan lauk-pauk setiap pagi. Berkat dapur MBG yang dibangun Polri, 1.050 Sekolah Dasar di desanya mendapat kiriman 320 porsi makanan bergizi setiap hari. “Anak saya jadi lebih semangat belajar, badannya juga makin berisi,” kata Siti sambil menunjuk putra bungsunya yang malu-malu di balik pintu.
Polri tidak sekadar membangun—mereka membangun dengan kualitas yang membuat lembaga internasional angkat topi. “Dapur-dapur yang dibangun Polri adalah yang terbaik. Banyak pengamat dan peninjau dari lembaga dunia yang datang ke Indonesia, dan sebagian besar yang mereka lihat adalah dapur Polri,” tegas Prabowo dalam pidatonya. Pengakuan itu diamini oleh Dr. Mariana Setyowati, pengamat kebijakan publik dari Universitas Gadjah Mada. “Ketika kepolisian mengerjakan fungsi non-tradisional dengan kualitas seperti ini, kepercayaan publik naik drastis. Ini investasi sosial paling cerdas yang pernah saya lihat,” katanya.
Gudang Pangan yang Menjawab Keraguan
Di sisi lain, program ketahanan pangan juga menjadi panggung baru bagi seragam cokelat. Prabowo menyebutkan bahwa dirinya melihat sendiri gudang-gudang pangan berkualitas yang dibangun Polri, termasuk pusat produksi jagung yang tersebar di berbagai daerah. Petani seperti Budi Hartono di Grobogan, Jawa Tengah, merasakan langsung dampaknya.
“Dulu panen jagung sering busuk karena gudang desa bocor. Sekarang Polri bangunkan gudang berstandar pabrik. Harga jual kami naik 40 persen,” ucap Budi, yang kini bisa menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi. Transformasi ini bukan tanpa tantangan, namun hasilnya mulai tampak dalam data ketahanan pangan nasional.
| Indikator | Sebelum Keterlibatan Polri (2024) | Setelah Intervensi (2026) |
|---|---|---|
| Jumlah dapur MBG (SPPG) | 320 unit (seluruhnya oleh sipil) | 1.650 unit (1.150 dibangun Polri) |
| Cakupan penerima MBG | 4,7 juta anak | 12,1 juta anak |
| Gudang pangan standar baru | 85 unit | 540 unit (73% dikelola Polri) |
| Produksi jagung nasional | 22 juta ton | 29,3 juta ton |
Data di atas menunjukkan bahwa pendekatan “membela rakyat” ala Prabowo bukan cuma slogan. Ketika seragam cokelat tak hanya hadir saat ada tilang atau penggerebekan, tetapi juga saat perut lapar dan harga pangan melonjak, jembatan kepercayaan antara polisi dan warga mulai terbangun kembali.
Hari Bhayangkara ke-80 ini, bagi banyak orang seperti Brigadir Andi, bukan cuma soal seremoni tahunan. “Saya merasa jadi polisi itu sekarang lebih berarti,” katanya. Mungkin itulah esensi dari pesan Presiden: bahwa membela rakyat, pada akhirnya, adalah tentang hadir di saat paling sulit, bukan dengan senjata, tapi dengan sepiring makanan hangat dan gudang yang kokoh.
Comments (0)