Bobby Rasyidin: KA Wisata Jadi Jendela Budaya Nusantara
Suara deru roda baja yang berirama menyeret rangkaian kereta melintasi hamparan sawah di senja Jawa Tengah. Di dalam gerbong KA Wisata rute Yogyakarta-Jaka
Suara deru roda baja yang berirama menyeret rangkaian kereta melintasi hamparan sawah di senja Jawa Tengah. Di dalam gerbong KA Wisata rute Yogyakarta-Jakarta, Rabu (8/7/2026), Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, duduk bersila di kursi kayu berukir. Jendela besar di sampingnya membingkai pemandangan yang terus berganti. Sembari menyesap kopi tubruk dari cangkir tembikar, ia berbincang santai dengan awak media—bukan sebagai pejabat yang kaku, melainkan seperti seorang kawan lama yang tengah bernostalgia tentang perjalanan dan manusia di dalamnya.
Suasana gerbong terasa berbeda malam itu. Lampu temaram kekuningan memantul di dinding panel jati, sementara samar-samar alunan gamelan mengalun dari pengeras suara. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan, seakan kereta ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa depan.
Catatan dari Atas Rel
Bobby tampak reflektif. Matanya tak lepas memandang keluar jendela, menyusuri setiap detail lanskap yang melintas—dari Stasiun Lempuyangan yang bersejarah, atap-atap rumah penduduk yang mulai menyalakan lampu, hingga siluet Gunung Merapi di kejauhan. Perjalanan malam ini, katanya, bukan sekadar perjalanan dinas biasa. Ada misi yang lebih personal: mendengarkan langsung detak jantung layanan kereta api dari sudut pandang penumpang.
"Kita sering terjebak di ruang rapat, menatap angka dan grafik. Padahal, inti dari pelayanan publik ada di sini—di atas rel, di antara tempat duduk, di tatapan mata para penumpang. Mereka tidak peduli dengan laporan tebal kita. Mereka peduli apakah perjalanan mereka nyaman, aman, dan meninggalkan kenangan baik," ujar Bobby, suaranya pelan namun bertenaga.
Kalimat itu menggantung sejenak sebelum disambut anggukan dari beberapa wartawan yang duduk di sekitarnya. Bobby lalu menunjuk ke arah gerbong restorasi di depan. Ia bercerita tentang mimpi besarnya untuk menjadikan kereta wisata bukan hanya moda transportasi premium, tetapi panggung budaya yang bergerak.
Ruang Hidup yang Bergerak
Konsep yang ia paparkan sederhana namun ambisius: setiap rute kereta wisata harus mampu mencerminkan karakter wilayah yang dilewatinya. Yogyakarta-Jakarta, misalnya, bisa menghadirkan nuansa Mataram yang anggun di satu sisi, dan transisi menuju modernitas Jakarta di sisi lain. Makanan yang disajikan, dekorasi gerbong, hingga musik pengiring—semuanya harus bercerita.
"Bayangkan, begitu penumpang naik, mereka langsung merasa memasuki sebuah narasi. Dari pemandangan di jendela, dari piring yang mereka santap, dari lagu yang mereka dengar. Kereta bukan lagi sekadar pengantar dari titik A ke B. Ia adalah ruang hidup yang bergerak, tempat budaya dipertemukan," katanya dengan mata berbinar.
Ia lalu membuka buku catatan kecil dari saku jasnya. Di dalamnya, penuh sketsa kasar dan coretan ide. Salah satunya adalah rencana memperluas jaringan KA Wisata hingga ke 12 rute baru pada 2027, termasuk rute Trans-Sumatra yang akan menyajikan kisah Lintas Andalas. Ada pula catatan tentang kolaborasi dengan UMKM lokal di tiap stasiun pemberhentian. Bobby menyebutnya "ekosistem rel berkelanjutan".
Manusia di Balik Seragam
Namun, yang paling membuat Bobby bersemangat bukanlah infrastruktur atau teknologi. Ia berulang kali kembali pada satu kata: manusia. Dikisahkannya tentang seorang kondektur senior bernama Pak Suryo yang sudah 28 tahun berdinas. Di usianya yang menjelang pensiun, lelaki itu masih hafal nama-nama pedagang asongan di tiap stasiun, dan selalu menyempatkan menyapa mereka seperti keluarga sendiri.
"Pak Suryo adalah ruh dari KAI. Bukan saya, bukan direksi. Tapi orang-orang seperti beliau, yang setiap hari memastikan segelas kopi tersaji hangat untuk penumpang, yang mengingatkan anak kecil yang berlarian di lorong, yang tersenyum tulus meski shift-nya sudah 12 jam. Merekalah yang membuat perjalanan ini bernyawa," ucap Bobby, sedikit bergetar.
Cerita tentang Pak Suryo sontak menciptakan keheningan pendek di antara awak media. Seorang fotografer yang sejak tadi sibuk membidik jendela, menurunkan kameranya dan ikut termangu. Malam itu, di atas rel yang terus melaju, sebuah kebenaran sederhana kembali ditegaskan: teknologi boleh berganti, tetapi layanan terbaik selalu lahir dari sentuhan manusia yang peduli.
Menjelang Stasiun Cirebon, Bobby pamit untuk beristirahat sejenak. Namun sebelum berdiri, ia menyampaikan satu hal lagi—kali ini lebih lirih, nyaris seperti janji pada diri sendiri.
"Kita ini cuma titipan. Suatu hari nanti, saat saya dan jajaran ini sudah tidak di sini lagi, saya ingin orang tetap naik kereta dengan perasaan yang sama: bahwa mereka sedang di rumah, meski sedang bergerak sejauh ribuan kilometer."
Di luar, gelap makin pekat. Tapi di dalam gerbong KA Wisata malam itu, ada semacam cahaya yang sulit dilukiskan. Bukan dari lampu, melainkan dari harapan-harapan kecil yang ditanamkan seorang pemimpin, satu per satu, di sepanjang rel perjalanannya.
Comments (0)