Jakarta — Niramas Utama Resmi Melantai, Bawa Misi Pemberdayaan Petani Lokal
Gedung Bursa Efek Indonesia siang itu dipenuhi senyum dan haru. Di tengah denting gong yang menandai pencatatan perdana saham PT Niramas Utama Tbk (JELI),
Gedung Bursa Efek Indonesia siang itu dipenuhi senyum dan haru. Di tengah denting gong yang menandai pencatatan perdana saham PT Niramas Utama Tbk (JELI), seorang perempuan paruh baya berdiri diam, menggenggam erat kain batik lusuh milik ibunya. Ia adalah Sri Wahyuni, pendiri perusahaan yang dua dekade silam hanya bermodal panci dan tungku kayu di dapur sederhana Magelang. Tanggal 7 Juli 2026 menjadi puncak perjalanan yang tak pernah ia bayangkan: membawa produk jamu tradisional ke panggung bursa, menggandeng belasan ribu petani gula aren di lereng-lereng gunung.
“Dulu saya hanya ingin anak-anak bisa minum jamu yang enak, tidak pahit. Siapa sangka resep ibu saya bisa jadi perusahaan go public,” ujar Sri dengan suara bergetar, seraya menceritakan bagaimana merek JELI—singkatan dari “Jamu Elektrik”—lahir dari keprihatinan melihat anak-anak enggan mengonsumsi herbal. Kini, produk minuman kesehatan itu mengisi rak minimarket di seluruh Indonesia, bahkan diekspor ke Malaysia dan Jepang.
Dapur Desa yang Mengubah Lanskap
Sebelum IPO, PT Niramas Utama bukan sekadar perusahaan minuman. Ia adalah ekosistem ekonomi kerakyatan yang mengakar di 42 desa di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lebih dari 12.000 petani gula aren, pemetik jahe, dan pengumpul rempah bergantung pada pasokan ke pabrik Niramas. Perusahaan membina mereka dengan sistem kemitraan berkeadilan: harga beli di atas pasar, pelatihan budidaya organik, dan akses permodalan mikro.
Sukirno, 53 tahun, petani aren asal Desa Getasan, menjadi salah satu saksi perubahan itu. Pagi itu ia diundang ke Jakarta untuk menyaksikan pencatatan saham, duduk di barisan depan. Ia bukan sekadar pemasok; ia kini pemegang saham, karena Niramas mengalokasikan 5% saham IPO untuk koperasi petani mitra. Dengan kemeja baru yang masih kaku, Sukirno berkata lirih:
"Lima tahun lalu saya masih bingung bayar sekolah anak. Sekarang anak saya bisa kuliah, dan saya punya bagian di perusahaan ini. Ini bukan lagi milik Bu Sri saja, ini juga milik kami."
Dampak sosial inilah yang menjadi perhatian Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menghadiri seremoni. Dalam sambutannya, ia menyebut Niramas sebagai contoh nyata UMKM naik kelas yang sukses menjembatani modal dan kesejahteraan petani. "Yang kita saksikan hari ini bukan sekadar angka di papan bursa, tetapi bukti bahwa ekonomi gotong royong bisa bersanding dengan pasar modal," ujar Airlangga.
Dari Ruang Tamu ke Lantai Bursa
Kisah Niramas dimulai tahun 2005 di ruang tamu Sri yang disulap menjadi dapur produksi. Ia meracik jamu dengan formula pewarna alami dari buah bit dan daun suji, menciptakan tampilan menarik yang disukai anak-anak. Dibantu suami, produk itu dijajakan dari pintu ke pintu. Perubahan besar terjadi ketika seorang investor lokal tertarik mendanai ekspansi pabrik skala kecil pada 2012. Sejak itu, inovasi kemasan dan sertifikasi BPOM melejitkan penjualan.
Pandemi 2020 menjadi titik balik lain; permintaan produk herbal kesehatan melonjak 300%. Niramas memanfaatkan momen untuk mendigitalisasi rantai pasok dan memperkuat kemitraan petani. Hasilnya, pendapatan tumbuh rata-rata 35% per tahun dalam tiga tahun terakhir. Dana hasil IPO, sekitar Rp420 miliar, akan digunakan untuk membangun pabrik kedua di Sumatera, menyasar pasar ekspor baru, dan memperdalam program desa binaan.
"Ini bukan hanya tentang ekspansi bisnis. Setiap rupiah dari bursa akan kembali ke desa, kembali ke petani yang selama ini menjaga kami," tambah Sri.
Analis pasar menyambut baik pencatatan saham JELI yang oversubscribed 3,5 kali pada penawaran awal. Namun bagi para petani di Magelang, momen itu lebih berarti: ia mewakili harapan bahwa kerja keras mereka diakui setara, bahkan oleh lantai bursa.
Hari itu, sebelum mengakhiri sambutannya, Airlangga menimpali dengan pesan reflektif: "Kalau dapur desa bisa ke bursa, artinya tidak ada mimpi yang terlalu besar. Tapi yang lebih penting, tidak ada sumbangan yang terlalu kecil—setiap petik nira, setiap iris jahe, adalah bagian dari cerita besar negeri ini."
Comments (0)