BI Tegal Ganti Uang Rusak Korban Banjir Rob Batang Senilai Rp1,51 Miliar
Genangan air laut yang merangsek masuk ke rumah Ida Murlija pada banjir rob lalu bukan hanya menyisakan lumpur dan bau anyir. Bagi warga Jalan Yos Sudarso,
Genangan air laut yang merangsek masuk ke rumah Ida Murlija pada banjir rob lalu bukan hanya menyisakan lumpur dan bau anyir. Bagi warga Jalan Yos Sudarso, Kabupaten Batang itu, air pasang yang merendam tempat tinggalnya juga merusak tumpukan uang rupiah yang selama ini ia simpan sendiri. “Saya hanya bisa menatap lembaran-lembaran yang sudah lengket dan luntur itu,” kenang Ida, suaranya bergetar. “Rasanya seperti melihat bagian hidup saya lenyap begitu saja.” Uang simpanannya yang rusak itu totalnya mencapai Rp1,54 miliar—sebuah angka yang, bagi seorang warga biasa, adalah hasil bertahun-tahun kerja keras dan mimpi yang ditabung.
Harapan di Balik Aplikasi PINTAR
Di tengah keputusasaan, secercah harapan datang dari informasi sederhana: Bank Indonesia memiliki layanan penukaran uang rusak. Ida segera membuka laman https://pintar.bi.go.id dan mendaftarkan permohonannya. “Saya daftar malam itu juga, berharap masih ada yang bisa diselamatkan,” ujarnya. Keesokan harinya, ia membawa semua uang rusak itu ke Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tegal—lembaran-lembaran yang sebagian sudah robek, luntur tinta, atau menyatu dalam balok-balok lembap.
“Saya hanya bisa menatap lembaran-lembaran yang sudah lengket dan luntur itu. Rasanya seperti melihat bagian hidup saya lenyap begitu saja.”
Ketelitian di Balik Setiap Lembar Uang
Dengan tangan telaten, petugas BI memeriksa setiap lembar satu per satu. Mereka bukan sekadar menghitung, melainkan meneliti: apakah ciri keaslian masih bisa dikenali? Apakah fisik uang masih menyisakan lebih dari dua pertiga ukuran aslinya? Apakah serpihan yang ada bisa dipastikan berasal dari satu lembar yang sama? “Tidak seluruh uang rusak dapat langsung diganti,” jelas Bimala, Kepala Perwakilan BI Tegal. “Penggantian hanya diberikan untuk uang rupiah asli yang memenuhi persyaratan, antara lain kondisi fisiknya masih tersisa lebih dari dua pertiga, ciri keaslian masih dapat dikenali, serta merupakan satu kesatuan atau dapat dibuktikan berasal dari satu lembar uang yang sama.”
Dari total Rp1,54 miliar yang diajukan Ida, hasil penelitian menyatakan Rp1,51 miliar memenuhi syarat dan langsung diganti dengan uang rupiah layak edar. Selisih Rp30 juta yang tak lolos barangkali mewakili lembaran-lembaran yang benar-benar hancur, tak lagi bisa dikenali. “Ini tetap jadi keajaiban buat saya,” kata Ida, kali ini dengan nada lega. “Dari yang awalnya saya kira semua hilang, ternyata hampir semuanya kembali.”
Pesan di Balik Musibah: Simpan Uang di Tempat Aman, Beralih ke Non-tunai
Kisah Ida menjadi pengingat bagi banyak orang tentang pentingnya perlindungan aset. Bimala mengimbau masyarakat untuk menyimpan uang rupiah dan dokumen berharga di tempat yang aman guna meminimalkan risiko kerusakan akibat banjir, kebakaran, maupun bencana lainnya. Lebih jauh, ia mendorong pemanfaatan layanan perbankan sebagai sarana penyimpanan dana yang lebih aman dan terlindungi. “Gunakan instrumen pembayaran non-tunai—transfer bank, uang elektronik, QRIS—sebagai alternatif yang cepat, mudah, dan andal,” tegas Bimala. Layanan penukaran uang rusak sendiri, tambahnya, tersedia secara terbuka dan tidak dipungut biaya, sepanjang persyaratan terpenuhi. “Ini wujud komitmen BI agar masyarakat semakin memahami haknya serta peduli merawat rupiah sebagai simbol kedaulatan negara,” tutupnya.
Cara Mudah Menukarkan Uang Rusak
Masyarakat yang ingin menukarkan uang rupiah rusak cukup mengikuti langkah mudah: lakukan pemesanan melalui https://pintar.bi.go.id, pilih lokasi layanan, tanggal, dan jam penukaran yang tersedia, lalu bawa uang rusak sesuai jumlah yang diajukan pada waktu yang telah dipilih. Layanan ini rutin dilaksanakan setiap hari Selasa dan Kamis di Kantor Perwakilan BI Tegal, dan dapat diakses oleh seluruh warga.
Comments (0)