Berhias Tari Dedari, Penjor ST Eka Jaya Tembus Empat Besar
Hiruk-pikuk persiapan sudah terasa sejak Umanis Galungan. Di sudut Banjar Abian Nangka Kaja, para pemuda Sekaa Teruna (ST) Eka Jaya sibuk menganyam daun en
Hiruk-pikuk persiapan sudah terasa sejak Umanis Galungan. Di sudut Banjar Abian Nangka Kaja, para pemuda Sekaa Teruna (ST) Eka Jaya sibuk menganyam daun ental, menyusun ornamen emas-merah, dan merangkai bilah bambu. Bukan sekadar rutinitas tahunan, pengerjaan penjor tahun ini bagi mereka adalah semacam “obat rindu” yang tertunda.
“Selama beberapa kali vakum itu, kami benar‑benar merindukan suasana berkarya bersama. Karena itu, tahun ini kami ingin memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin,” tutur I Made Ari Sudariyasa, koordinator tim penjor, mengenang masa‑masa senyap ketika lomba ditiadakan—mulai dari pandemi Covid‑19 hingga restorasi pura di akhir 2025.
Rindu itu dibayar tuntas dengan sebuah penjor yang bercerita. Bukan sekadar jajaran janur menjulang, penjor ST Eka Jaya kali ini menghadirkan visual Tari Dedari, warisan budaya khas banjar setempat. Sosok penari, gerak anggun, dan detail properti tari diukir dalam ornamen penjor, menjadikan karya itu semacam “panggung budaya” yang berdiri tegak di jalan.
“Kami ingin penjor tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menjadi media untuk mengenalkan warisan budaya yang dimiliki banjar kami. Harapannya, setiap banjar di Kesiman memiliki ciri khas yang dapat terus dilestarikan,” jelas Ari, yang juga pernah menjabat Ketua ST Eka Jaya. Konsep yang terinspirasi Tari Dedari ini sengaja dipilih untuk menegaskan identitas lokal di tengah festival yang sarat makna keagamaan dan sosial.
Untuk mewujudkan gagasan itu, ST Eka Jaya mengalokasikan anggaran sebesar Rp15 juta hingga Rp18 juta. Ari mengakui, kenaikan harga bahan baku—terutama daun ental dan material dekorasi—menjadi tantangan tersendiri. “Kami belajar dari pengalaman sebelumnya. Karena konsep tahun ini cukup rumit, pengerjaan kami mulai lebih awal agar waktu bisa dikelola dengan baik dan hasilnya sesuai harapan,” ujarnya. Tak heran jika tangan‑tangan para pemuda sudah sibuk jauh sebelum lomba dimulai.
Hasilnya, penjor mereka berhasil menempati posisi 4 besar—sebuah pencapaian yang membawa kebanggaan sekaligus kenangan akan kejayaan masa lalu. Dahulu, pada periode 2012–2019, ST Eka Jaya kerap menembus tiga besar. Setelah masa regenerasi dan sejumlah kendala, prestasi terbaik berikutnya adalah juara harapan II (5 besar) pada awal 2025, tepat sebelum pura menjalani restorasi. Kini, masuknya kembali ke jajaran empat besar menjadi sinyal bahwa semangat berkarya anak‑anak muda banjar itu tak pernah padam.
Di luar pengerjaan penjor, anggota ST Eka Jaya juga harus pandai membagi waktu. Rangkaian Pengrebongan tak hanya menghadirkan lomba penjor, tetapi juga lomba ngelawar dan lomba video vlog. “Padatnya agenda membuat seluruh anggota harus mampu mengatur waktu secara efektif,” kata Ari. Namun justru di situlah letak guyub dan gotong royong itu terasa—bahu‑membahu sejak subuh hingga larut malam, diiringi canda dan aroma bumbu lawar yang menyeruak dari dapur banjar.
Bagi Ari dan kawan‑kawan, penjor bukan sekadar tiang bambu yang diperebutkan piala. Ia adalah jejak visual yang menghubungkan generasi muda dengan akar budayanya. “Kami ingin penjor menjadi media untuk mengenalkan warisan budaya,” ucapnya, menandaskan bahwa lomba ini adalah momentum melestarikan seni dan budaya Bali, khususnya di Desa Adat Kesiman.
Perjalanan Prestasi yang Menyimpan Cerita
Meski sempat tenggelam, nama ST Eka Jaya sejatinya bukan pendatang baru di kancah lomba penjor Pengrebongan. Berikut kilas balik hasil yang mereka raih dari waktu ke waktu:
| Periode | Prestasi | Keterangan |
|---|---|---|
| 2012–2019 | Sering masuk 3 besar | Era keemasan sebelum pandemi |
| Awal 2025 | Juara Harapan II (5 besar) | Pasca regenerasi, sebelum restorasi pura |
| 2025 (Pengrebongan saat ini) | 4 besar | Setelah restorasi pura, kembali berprestasi |
Data di atas menunjukkan bahwa meski sempat melewati masa vakum dan regenerasi anggota, ST Eka Jaya perlahan kembali ke jajaran atas. Ini menjadi indikasi bahwa transfer pengetahuan dan semangat berkarya tetap terjaga di kalangan pemuda banjar.
Penggunaan Tari Dedari sebagai inspirasi juga menjadi langkah strategis: selain memberikan ciri khas visual yang berbeda dari penjor banjar lain, ia sekaligus menjadi alat kampanye budaya yang memperkenalkan kekhasan Banjar Abian Nangka Kaja kepada masyarakat lebih luas. Harapannya, penjor tak hanya dinilai dari sisi estetika semata, tetapi juga dari nilai naratif yang dikandungnya.
Ari dan timnya berharap penyelenggaraan lomba tahun ini menjadi momentum memperkuat pelestarian seni penjor di Desa Adat Kesiman. Mereka juga berdoa agar seluruh rangkaian piodalan di Pura Agung Petilan Pengrebongan berjalan lancar. Di ujung perbincangan, Ari tersenyum, “Yang terpenting, kami bisa berkumpul dan berkarya lagi. Itu sudah jadi kemenangan kami yang sesungguhnya.”
Comments (0)