Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

AS dan Jepang Siap Masuk Pasar Karbon RI, Potensi Puluhan Miliar Dolar

Udara pagi di sebuah ruang pertemuan di sela konferensi iklim masih terasa dingin ketika Hashim Djojohadikusumo menyeruput kopinya. Di hadapannya, para del

Jul 09, 2026 - 22:02
0 0
Udara pagi di sebuah ruang pertemuan di sela konferensi iklim masih terasa dingin ketika Hashim Djojohadikusumo menyeruput kopinya. Di hadapannya, para delegasi dari berbagai negara duduk berhadapan, wajah-wajah mereka memantulkan campuran kelelahan dan harapan. Sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan, Hashim memahami betul bahwa setiap percakapan informal bisa mengubah arah kebijakan. Hari itu, obrolan ringan tentang cuaca berubah serius ketika perwakilan Amerika Serikat membuka topik: Bursa Karbon Indonesia. “Mereka bertanya, ‘Seberapa cepat kalian bisa mengakomodasi kami?’,” kenang Hashim sambil tersenyum tipis. “Saat itu saya tahu, ini bukan lagi sekadar kemungkinan. Mereka benar-benar serius.”

Geliat Baru dari Pasar Karbon

Indonesia resmi meluncurkan Bursa Karbon pada 26 September 2023 melalui Bursa Efek Indonesia, sebuah langkah ambisius untuk memperdagangkan kredit karbon dari proyek-proyek hijau nasional. Sejak awal, Hashim mengibaratkan pasar ini seperti “anak muda yang energinya baru mulai terlihat”. Namun, respons dunia ternyata lebih cepat dari dugaan. Dalam beberapa bulan terakhir, Hashim mengungkapkan bahwa Amerika Serikat dan Jepang secara tegas menyampaikan minat mereka untuk menjadi peserta aktif. Bahkan, beberapa negara Eropa seperti Norwegia dan Denmark ikut menjajaki mekanisme kerja sama. “Potensinya sangat besar. Saat ini kami berbicara tentang angka puluhan miliar dolar per tahun,” ucap Hashim dalam sebuah diskusi di Jakarta, pekan lalu.

Jejak Pertemuan dan Komitmen

Dari catatan yang dihimpun, berikut kronologi pernyataan dan perkembangan minat pasar karbon Indonesia:
  1. September 2023 – Bursa Karbon Diluncurkan: Presiden Joko Widodo meresmikan perdagangan kredit karbon di BEI, dengan nilai transaksi awal sekitar Rp 29,21 miliar dari 13 proyek energi terdaftar.
  2. November 2023 – Ketertarikan Awal: Delegasi Jepang dalam forum G20 menyampaikan keinginan eksplorasi pembelian kredit karbon berbasis alam dari proyek restorasi hutan Kalimantan.
  3. April 2024 – Pembicaraan Bilateral AS: Tim dari Departemen Energi AS bertemu Hashim di Washington, mendiskusikan potensi investasi dalam proyek blue carbon dan penghitungan karbon lintas batas.
  4. Juli 2024 – Komitmen Jepang Menguat: Perusahaan besar Jepang seperti Mitsubishi dan Sumitomo menyatakan minat membeli hingga 20 juta ton kredit karbon dari Indonesia dalam lima tahun ke depan.
  5. Agustus 2024 – Pernyataan Resmi Hashim: Hashim menyebut potensi transaksi mencapai puluhan miliar dolar dan membuka pintu bagi negara-negara lain untuk bergabung.
“Kami tidak hanya menjual angka,” jelas seorang analis pasar karbon yang enggan disebut namanya. “Indonesia menawarkan cerita: bagaimana desa-desa di hutan Kalimantan mendapat akses listrik bersih, bagaimana petani kecil didorong menjaga mangrove. Itu yang membuat investor global tertarik, karena mereka melihat dampak langsung pada komunitas.”

Di Balik Angka Puluhan Miliar Dolar

Menurut hitung-hitungan awal, setiap ton karbon yang diperdagangkan bisa dihargai antara US$5 hingga US$15, tergantung jenis proyek dan verifikasi. Jika seluruh proyek yang terdaftar beroperasi penuh, Indonesia diperkirakan mampu menyediakan 500 juta ton kredit karbon per tahun—angka yang mampu mendatangkan pendapatan antara US$2,5 miliar hingga US$7,5 miliar per tahun, dan dalam skenario optimistis bisa menembus US$10 miliar atau sekitar Rp 160 triliun. Namun, Hashim mengingatkan bahwa Bursa Karbon bukan sekadar mesin ekonomi. “Ini tentang masa depan anak-cucu kita,” katanya. “Setiap kredit karbon yang dibeli AS dan Jepang akan langsung mendanai proyek restorasi gambut, perlindungan hutan, atau pengembangan energi terbarukan di pelosok. Jadi, uang itu akan terasa oleh warga desa yang selama ini menjaga alam.” Seorang warga Desa Koto Mesjid, Riau, yang hutannya menjadi salah satu proyek karbon, mengisahkan bagaimana kredit karbon membawa air bersih dan pelatihan ekowisata. “Dulu kami hanya menebang kayu, sekarang kami jadi pemandu turis asing. Anak-anak bisa sekolah lebih lama,” ucapnya. Langkah selanjutnya, Hashim berencana membuat standar verifikasi yang diakui global agar transaksi berjalan lancar dan transparan. Jepang bahkan menawarkan bantuan teknologi pemantauan satelit untuk memastikan keberlanjutan proyek. Dengan ketertarikan AS dan Jepang yang terus menguat, Indonesia kian mantap memainkan peran kunci dalam diplomasi iklim dunia. Bukan hanya karena hutan tropisnya yang luas, melainkan juga karena narasi bahwa pasar karbon bisa menjadi jembatan antara kepentingan ekonomi dan keadilan ekologis.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User