Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Alwi Farhan Terpukul Cristiano Ronaldo Gagal Juara Piala Dunia 2026

Suara peluit panjang wasit masih menggema di telinga Alwi Farhan, meski layar televisi di hadapannya telah berganti iklan minuman bersoda. Tangannya terkep

Jul 08, 2026 - 15:48
0 0

Suara peluit panjang wasit masih menggema di telinga Alwi Farhan, meski layar televisi di hadapannya telah berganti iklan minuman bersoda. Tangannya terkepal di atas meja, matanya masih terpaku pada titik kosong bekas siaran langsung. Lusail, Qatar. Stadion yang semula ia mimpikan akan menjadi panggung keabadian idolanya, berubah menjadi kuburan ambisi. Portugal tersingkir, dan Cristiano Ronaldo—seorang lelaki yang selama bertahun-tahun mengajarinya untuk percaya pada keajaiban—berjalan tertunduk tanpa trofi yang paling ia dambakan.

Malam Itu, Kedai Kopi Ikut Membisu

Alwi memilih menonton sendiri di kedai kopi langganannya di bilangan Depok. Ia sengaja tidak mengajak teman-teman satu grup futsal. “Kalau sampai kalah, aku nggak mau kelihatan nangis di depan mereka,” ungkapnya pagi itu, sebelum pertandingan dimulai. Tapi malam telah membawanya pada kenyataan pahit. Ketika gol penentu lawan bersarang di gawang Portugal, Alwi hanya bisa menunduk, kedua telapak tangannya menutupi wajah. Barista yang biasa melayaninya mengaku tak berani mendekat.

“Saya lihat dia bergetar. Bukan menangis berisik, tapi air matanya jatuh diam-diam. Saya letakkan segelas air hangat, dia bahkan tidak menyadarinya,”

cerita Rian, sang peracik kopi.

Idola yang Menjadi Bapak Kedua

Bagi Alwi, Ronaldo bukan sekadar pesepak bola. Tumbuh tanpa ayah sejak usia sembilan tahun, ia menemukan figur ketangguhan dalam diri pemain bernomor tujuh itu. Setiap gol Ronaldo dirayakan Alwi sebagai kemenangan pribadi. Setiap luka sang kapten—baik cedera lutut maupun air mata kegagalan di Piala Eropa 2004—menjadi pelajaran hidup. “Dia mengajarkanku bahwa bakat bisa kalah oleh kerja keras,” ujar Alwi, yang kini tercatat sebagai mahasiswa teknik dan penyerang sayap di liga kampus.

Malam itu, yang paling menyayat hati bukanlah kekalahan tim, melainkan pemandangan Ronaldo yang melepas ban kapten dan menatap langit Lusail seolah berbicara pada Tuhan. Seperti itukah rasanya harus merelakan mimpi terbesar? Alwi kembali teringat pesan yang pernah ia dengar dari sebuah wawancara: “Tuhan tidak akan memberimu ujian yang tak bisa kau lewati.” Tapi malam itu, ujian itu terasa begitu berat.

Secarik Tiket yang Tak Sampai

Alwi sebenarnya sudah memesan tiket pesawat ke Qatar enam bulan sebelumnya. Dengan tabungan hasil kerja sampingan sebagai fotografer acara wisuda, ia membeli tiket paling murah yang ia temukan. Sayangnya, ketika Portugal melaju ke perempat final dan peluang menonton langsung terbuka, harga tiket pertandingan tiba-tiba melambung hingga tiga kali lipat. Alwi pasrah. Ia memilih menonton dari kedai kopi, berharap kegembiraan tetap bisa ia rayakan walau dari kejauhan. Harapan itu menguap begitu saja.

“Mungkin ini memang jalan cerita yang harus diterima,” ujar Rian sang barista, yang malam itu ikut larut dalam duka Alwi. “Tapi katanya, Ronaldo masih akan main sampai 2030.” Alwi hanya terkekeh pahit. Ia tahu, Ronaldo akan berusia 45 tahun pada Piala Dunia berikutnya. Mungkin saja ini panggung terakhir.

Dini hari itu, Alwi pulang dengan langkah gontai. Ponselnya ia matikan, tak ingin membaca komentar lini masa. Di kamar indekosnya, poster Ronaldo yang terpampang di dinding tetap tersenyum—sebuah senyum yang malam itu terasa seperti penghiburan, sekaligus pengingat bahwa dalam setiap perjuangan, ada harga yang harus dibayar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User