Aksi arogan seorang pengendara motor yang memanfaatkan trotoar sebagai jalur pribadinya kembali viral dan menuai kecaman
Ditegur, Malah Mengaku Anggota TNI Peristiwa ini menjadi sorotan tajam setelah seorang wanita pejalan kaki yang merasa haknya direbut, berani menegur dan menghadang laju pemotor tersebut. Namun, bu
Ditegur, Malah Mengaku Anggota TNI
Peristiwa ini menjadi sorotan tajam setelah seorang wanita pejalan kaki yang merasa haknya direbut, berani menegur dan menghadang laju pemotor tersebut. Namun, bukannya menunjukkan rasa bersalah atau segera menepi, pemotor yang tidak diketahui identitasnya itu justru melontarkan pengakuan mengejutkan. Ia dengan entengnya mengaku sebagai seorang tentara saat dimintai pertanggungjawaban oleh pejalan kaki tersebut.
Alih-alih turun dari trotoar dan meminta maaf, pengendara motor ini malah gaya-gayaan mengaku sebagai anggota tentara. Seolah-olah profesi terhormat itu bisa dijadikan tameng untuk melakukan pelanggaran hukum di jalan raya.
Beruntung, aksi saling senggol argumen di atas trotoar itu berhasil direkam secara utuh oleh wanita pejalan kaki tersebut menggunakan telepon genggamnya. Rekaman yang menunjukkan jelas sosok dan percakapan pemotor itu pun dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial dan menjadi viral.
Dalam tayangan video yang beredar luas, terlihat bagaimana pemotor tersebut tetap bersikeras berada di atas trotoar dan bersitegang dengan perekam. Padahal, selain merebut ruang pejalan kaki, tindakan berkendara melawan arus di trotoar jelas merupakan pelanggaran lalu lintas yang sangat membahayakan, baik bagi dirinya sendiri maupun pengguna jalan lainnya, khususnya para pejalan kaki yang kerap menjadi korban paling rentan.
Fenomena Trotoar yang Tergerus
Media kami mencatat, ini bukanlah kali pertama trotoar di wilayah Depok disalahgunakan oleh pengguna kendaraan bermotor. Trotoar yang seharusnya steril dari kendaraan bermotor sesuai Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), kerap kali beralih fungsi menjadi 'jalur tikus' ilegal bagi pemotor yang tidak sabaran menghadapi kemacetan. Normalisasi perilaku 'menjajah trotoar' ini sangat merugikan para pejalan kaki, terutama lansia dan anak-anak, yang dipaksa beradu fisik dengan kendaraan bermotor di zona yang seharusnya aman.
Terkait klaim sepihak sebagai anggota tentara yang dilontarkan oleh pemotor tersebut, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari pihak terkait. Namun, aksi viral ini telah memicu kemarahan warganet yang mendesak aparat penegak hukum untuk segera menindak tegas pemotor tersebut, baik atas pelanggaran lalu lintas maupun potensi pencemaran nama baik institusi militer jika pengakuannya terbukti palsu.
Pemerintah Kota Depok bersama jajaran kepolisian diharapkan tak hanya menindak satu kasus viral ini, tetapi juga memperkuat patroli serta memasang pembatas fisik yang humanis agar trotoar benar-benar kembali ke fungsi esensialnya sebagai hak pejalan kaki, bukan arena pamer kuasa para pemotor tak bertanggung jawab.
Comments (0)