Warga Rusun Pluit Diteror Bau Busuk, Sampah 2 Tahun Tak Terangkut

JAKARTA UTARA — Bau menyengat langsung menusuk hidung begitu memasuki kawasan Rumah Susun (Rusun) Waduk Pluit, Penjaringan. Bukan berasal dari selokan atau

Jul 16, 2026 - 07:16
0 0
Warga Rusun Pluit Diteror Bau Busuk, Sampah 2 Tahun Tak Terangkut

JAKARTA UTARA — Bau menyengat langsung menusuk hidung begitu memasuki kawasan Rumah Susun (Rusun) Waduk Pluit, Penjaringan. Bukan berasal dari selokan atau saluran air, melainkan dari timbunan sampah yang menggunung di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di dalam kompleks rusun tersebut. Mirisnya, gunungan sampah ini sudah dua tahun tidak terangkut, memaksa ribuan warga hidup berdampingan dengan lalat, tikus, dan ancaman penyakit.

Gunungan Sampah yang Tak Kunjung Sirna

Menurut keterangan warga, TPS yang semula difungsikan sebagai tempat transit sampah harian itu berubah menjadi gunungan permanen sejak 2023. Armada truk pengangkut yang dijadwalkan datang setiap dua hari sekali semakin jarang muncul. Kini, tumpukan sampah sudah mencapai ketinggian lebih dari dua meter dan menutupi hampir separuh area TPS, bahkan meluber hingga ke jalan setapak di sekitarnya.

“Setiap hari kami harus menutup hidung. Kalau malam, bau semakin parah. Anak-anak sering batuk dan gatal-gatal,” ujar Ika (37), warga Blok C Rusun Waduk Pluit saat ditemui di depan unitnya, Selasa (22/7/2025).

Armada Kurang, Petugas Angkat Bahu

Sumber dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta Utara mengakui, penyebab utama penumpukan sampah di rusun itu adalah kekurangan armada pengangkut. Idealnya, dibutuhkan 15 unit truk untuk melayani seluruh wilayah Penjaringan dan sekitarnya. Namun, di lapangan, hanya 7 unit yang laik jalan dan beroperasi penuh. Sisanya mogok atau sudah dimakan usia tanpa ada penggantian.

“Kami sangat kewalahan. Dengan sisa armada yang ada, prioritas tetap jalan protokol dan pasar. Rusun sering terpaksa kami lewati karena beban sampah di area prioritas sudah terlampau besar,” jelas Kepala Seksi Pengangkutan Sampah DLH Jakarta Utara, Hendra Kusuma, dalam wawancara telepon.

Dampak Kesehatan Merebak

Tidak hanya mengganggu penciuman, tumpukan sampah organik yang membusuk memicu ledakan populasi lalat dan nyamuk. Di musim hujan, air lindi bercampur genangan air, menciptakan kubangan kotor yang berpotensi mencemari air tanah. Puskesmas terdekat mencatat lonjakan kasus gangguan kesehatan di kalangan penghuni rusun:

  • Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) meningkat hingga 30% dalam enam bulan terakhir.
  • Diare dan gangguan pencernaan dilaporkan oleh puluhan warga, terutama anak-anak.
  • Demam berdarah dengue (DBD) mencatat 12 kasus sejak awal tahun, dengan dua di antaranya berasal dari rusun.

Janji Pengelola Rusun Tak Kunjung Terealisasi

Pengelola Rusun Waduk Pluit, UPT Rumah Susun Wilayah I Jakarta Utara, berulang kali berjanji akan menambah armada dan menerapkan pengangkutan bergilir. Namun, hingga pertengahan 2025, belum ada perubahan signifikan. Anggaran pengadaan truk baru tersendat karena defisit APBD. Sementara itu, warga terpaksa melakukan swadaya dengan membakar sampah, yang justru menimbulkan polusi asap dan protes dari warga lain.

Warga Berharap Ada Solusi Nyata

Sejumlah warga mulai menggalang petisi dan melaporkan kondisi ini ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta. Mereka berharap pemerintah daerah segera turun tangan, setidaknya dengan menyediakan kontainer tertutup dan penambahan armada sewa sementara. Salah satu usulan adalah melibatkan pihak swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk pengelolaan sampah terpadu.

“Jika tidak ada tindakan cepat, kami khawatir status darurat kesehatan akan terjadi di sini. Sampah sudah menjadi bom waktu,” tegas Ketua RW 04, Suparno.

Fenomena penumpukan sampah di rusun dan permukiman padat di Jakarta Utara sebenarnya bukan hal baru. Wilayah pesisir sering menjadi korban keterbatasan infrastruktur pengelolaan sampah. Data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menunjukkan, dari 7.500 ton sampah yang dihasilkan warga ibu kota setiap hari, sekitar 1.200 ton di antaranya tidak terangkut ke TPST Bantargebang akibat berbagai kendala teknis.

Dengan musim hujan yang diprediksi tiba bulan depan, kekhawatiran muncul meluasnya penyakit dan longsor sampah. “Kalau hujan deras, tumpukan ini bisa runtuh dan menyumbat saluran air. Kami khawatir banjir sampah,” tambah Suparno.

Situasi ini menuntut perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan, sebelum tragedi kesehatan dan lingkungan benar-benar terjadi.

[SOCIAL_TWEET]: 2 tahun tak terangkut, gunungan sampah di Rusun Waduk Pluit racuni warga dengan bau busuk dan ancaman penyakit. Armada minim, janji tak terwujud. #JakartaUtara #SampahMenumpuk #LingkunganHidup[SOCIAL_TG]: 😷💨 Bau sampah menyengat di Rusun Waduk Pluit, ternyata 2 tahun tidak diangkut! Armada truk kurang, warga jadi korban. Baca kronologinya. #sampahmenumpuk

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User