Umat Muslim Perbanyak Ibadah Ramadhan di Masjid Kubah Emas
Langit Jumat petang di kawasan Depok, Jawa Barat, berubah jingga lembut. Di bawah kubah berlapis emas yang berkilau diterpa sisa mentari, derap langkah jem
Langit Jumat petang di kawasan Depok, Jawa Barat, berubah jingga lembut. Di bawah kubah berlapis emas yang berkilau diterpa sisa mentari, derap langkah jemaah tak pernah benar-benar sepi. Inilah Masjid Kubah Emas, yang setiap Ramadhan menjelma menjadi rumah kedua bagi ratusan Muslim yang ingin merasakan kedamaian spiritual yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Deru kendaraan dari jalan raya seolah meredup, dikalahkan lantunan ayat suci yang mengalun dari sudut-sudut serambi.
Jumat, 16 April 2021, menjadi potret keseharian Ramadhan yang berbeda di tengah pandemi. Protokol kesehatan tetap dijaga—masker menutupi separuh wajah, jarak antar jemaah diatur—namun semangat untuk memperbanyak amalan tak sirna. Sejak pagi hingga menjelang magrib, masjid ini tak pernah sepi dari mereka yang datang untuk sholat sunah, berzikir, dan yang paling utama: bertadarus Alquran.
Tadarus: Meresapi Kalam Ilahi di Bawah Kubah Emas
Di salah satu sudut serambi yang dikelilingi pilar marmer, sekelompok ibu duduk bersila membentuk lingkaran. Satu per satu mereka membaca ayat Alquran secara bergantian, suara mereka berpadu seperti orkestra yang menenangkan. Kegiatan tadarus rutin ini diikuti oleh puluhan jemaah setiap sore selama Ramadhan. Ada yang sudah khatam berkali-kali, ada pula yang masih terbata-bata, namun suasana saling mendukung begitu terasa.
"Ramadhan adalah bulan Alquran, dan menjelang berbuka adalah waktu yang paling kami rindukan. Duduk bersama, mendengarkan lantunan ayat, rasanya hati benar-benar lapang," ujar Ibu Sari, warga sekitar yang telah tiga tahun terakhir rutin mengikuti tadarus di masjid ini.
Pantulan cahaya dari kubah emas yang meneduhkan interior masjid memberi semacam kehangatan visual yang menyatu dengan suasana khusyuk. Bagi banyak jemaah, Masjid Kubah Emas bukan sekadar tempat ibadah, melainkan ruang untuk menenangkan diri dari hiruk-pikuk kota.
Ibadah Sunah dan Zikir: Mengisi Setiap Detik Ramadhan
Tidak hanya tadarus, masjid ini juga menjadi saksi para jemaah yang berlomba-lomba mengejar pahala sunah. Di beberapa sisi, tampak orang-orang khusyuk mengerjakan sholat Dhuha berjamaah, sholat Rawatib, hingga Qiyamul Lail yang digelar pada sepertiga malam terakhir. Zikir pagi dan petang terdengar seperti detak jantung yang teratur.
Ustaz Ahmad Fauzi, salah satu pengurus masjid, mengamati fenomena ini dengan mata berbinar. Menurutnya, Ramadhan tahun ini terasa begitu istimewa justru karena keterbatasan yang ada.
"Pandemi tidak mengurangi gairah ibadah, justru banyak yang merasa lebih dekat kepada Allah. Mereka mencari ketenangan dan berharap setiap doa lebih mudah dikabulkan. Masjid kami buka dengan protokol ketat, dan syukur alhamdulillah, jemaah sangat tertib," tuturnya.
Setiap menjelang berbuka, suasana semakin syahdu. Jemaah membawa takjil sederhana untuk dibagikan, dan tak jarang air mata menetes saat doa-doa dipanjatkan sebelum azan Magrib berkumandang. Ada semacam keintiman spiritual yang terjalin di antara mereka yang mungkin baru bertemu di masjid.
Memaknai Ramadhan dengan Kehadiran Fisik dan Hati
Bagi Masjid Kubah Emas, Ramadhan bukan hanya tentang ritual, tetapi tentang kehadiran—fisik dan hati. Dari anak muda yang baru belajar membaca Alquran dengan tartil, hingga lansia yang berjalan tertatih-tatih, semuanya menemukan tempat di sini. Pengurus masjid bahkan menyediakan panduan tadarus dan zikir bagi mereka yang masih ingin belajar lebih dalam.
Ramadhan di Masjid Kubah Emas mengajarkan bahwa memperbanyak ibadah bisa diwujudkan dalam banyak bentuk: membaca Alquran, berzikir, memperbanyak sedekah, atau sekadar hadir dan merasakan kebersamaan dalam iman. Semuanya menjadi amal jariah yang tak ternilai di bulan suci.
Comments (0)