Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Jakarta — Ribuan Jamaah Istiqlal Berburu Keberkahan Malam 25 Ramadan

Langkah-langkah kecil menyusuri marmer dingin Masjid Istiqlal malam itu terasa begitu ringan, seolah ada magnet tak kasatmata yang menarik ribuan hati menu

Jul 08, 2026 - 06:32
0 1
Jakarta — Ribuan Jamaah Istiqlal Berburu Keberkahan Malam 25 Ramadan

Langkah-langkah kecil menyusuri marmer dingin Masjid Istiqlal malam itu terasa begitu ringan, seolah ada magnet tak kasatmata yang menarik ribuan hati menuju satu arah. Tepat pada malam ke-25 Ramadan, masjid terbesar di Asia Tenggara ini berubah menjadi lautan manusia yang khusyuk, tenggelam dalam gelombang ibadah yang mengalir sejak senja hingga fajar menjelang. Lantunan ayat suci Alquran menggema dari sudut-sudut saf, bercampur dengan isak tangis yang tertahan—sebuah simfoni kerinduan yang hanya pecah setahun sekali.

Tidak ada panggung mewah, tidak ada selebrasi. Hanya ada barisan tubuh yang sujud serentak, tangan-tangan yang terangkat memohon ampunan, dan wajah-wajah yang basah oleh air wudu sekaligus air mata. Istiqlal menampung lebih dari 50.000 jamaah malam itu, membludak hingga ke pelataran dan koridor, menjadikan kompleks seluas 9,5 hektare ini ibarat satu nadi besar yang berdenyut oleh dzikir.

Menjemput Malam Seribu Bulan

Bagi umat Islam, Lailatul Qadar adalah misteri agung—malam yang lebih baik dari seribu bulan, di mana Alquran pertama kali diturunkan. Tidak ada yang tahu persis kapan ia hadir, tetapi malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan menjadi perburuan spiritual yang tiada tara. Di Masjid Istiqlal, panitia telah menyiapkan rangkaian ibadah sejak pukul 21.00: sholat Isya dan Tarawih berjamaah, tadarus Alquran, kajian malam, hingga qiyamullail yang memuncak pada sepertiga malam terakhir.

“Saya sudah tiga tahun berturut-turut sengaja datang ke Istiqlal di malam ke-25. Bukan hanya karena kemegahannya, tapi di sini saya merasa jadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar—doa ribuan orang yang mungkin lebih mustajab daripada doa saya sendirian di rumah,” ujar Fatimah (42), seorang ibu rumah tangga asal Bekasi yang rela berkendara dua jam bersama suami dan dua anaknya.

Panitia dan relawan berjibaku mengatur arus jamaah yang terus mengalir. Dari pintu Al-Fattah hingga Al-Malik, kerumunan bergerak perlahan, saling memberi jalan dengan senyum yang tulus. Beberapa jamaah terlihat membawa mushaf kecil, yang lain hanya menggenggam tasbih yang butir-butirnya sudah mengilap karena bertahun-tahun menyertai doa. Suara Syaikh membaca Alquran dengan irama yang mendayu-dayu seakan memeluk setiap pendengarnya, menenangkan jiwa yang gelisah.

Masjid yang Tak Pernah Sepi

Keistimewaan Istiqlal bukan hanya pada arsitekturnya yang megah tanpa kubah, tetapi pada energi kebersamaan yang tercipta setiap kali Ramadan tiba. Jika siang hari masjid ini menjadi tempat berteduh kaum dhuafa yang menunggu takjil gratis, maka malam harinya ia bertransformasi menjadi rumah bagi para pencari malam kemuliaan. Petugas keamanan dan kebersihan bekerja tanpa lelah, memastikan sajadah tetap bersih dan air zamzam tersedia di setiap sudut.

“Saya bekerja shift malam, tapi khusus Ramadan saya tukar jadwal. Lihatlah wajah-wajah ini—buruh, pekerja kantoran, mahasiswa—semua melebur jadi satu. Tidak ada jabatan di sini, yang ada hanya hamba yang sama-sama berharap diampuni,” kata Rudi (28), relawan yang sudah tiga tahun membantu mengatur kepadatan jamaah saat iktikaf.

Di sudut lain, tampak Firman (19), mahasiswa yang baru pertama kali menginap untuk beriktikaf. Ia duduk bersila dengan Alquran terbuka di pangkuan, matanya sesekali menerawang ke langit-langit masjid yang menerawang tanpa kubah. “Malam ini saya ingin ‘putus’ sejenak dari dunia. Handphone saya matikan. Saya mau benar-benar merasa hadir, merasa didengar,” bisiknya lirih, seperti takut mengganggu keheningan.

Menjelang pukul 02.00 WIB, jamaah mulai menempati posisi untuk qiyamullail. Cahaya lampu diredupkan, hanya menyisakan temaram yang menciptakan suasana semakin intim antara hamba dan Penciptanya. Sujud-sujud panjang itu seakan-akan mencairkan sekat-sekat perbedaan; tidak ada lagi sekat kaya-miskin, tua-muda, atau kota-desa. Semua larut dalam barisan yang sama, menghadap kiblat yang sama, dengan harapan yang sama: meraih malam yang nilainya setara dengan 83 tahun ibadah.

Satu per satu jamaah akhirnya terlelap sejenak sebelum subuh, sebagian kepala bersandar di tiang raksasa, sebagian lagi merebahkan diri di antara saf. Namun rasa kantuk itu bukanlah akhir dari pencarian, melainkan saksi bahwa malam itu bukan sekadar rutinitas tahunan—ia adalah momen ketika jiwa-jiwa yang lelah menemukan peristirahatan sejati, tepat di pelukan malam yang dijanjikan penuh kemuliaan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User