Trump Tanggapi Anjloknya Rubel dan Umumkan Kebijakan Proteksionis Baru
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih pada 19 Februari 2026, menanggapi pelemahan tajam rubel Rusia sambil mengumumka
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih pada 19 Februari 2026, menanggapi pelemahan tajam rubel Rusia sambil mengumumkan serangkaian kebijakan ekonomi proteksionis baru. Trump menyebut jatuhnya rubel sebagai "masalah Rusia" dan menegaskan bahwa AS akan mengambil langkah untuk melindungi industri dalam negeri dari dampak ketidakstabilan global.
Komentar Trump tentang Rubel
Saat ditanya wartawan tentang rubel yang menyentuh 120 per dolar, Trump merespons dengan khas, "Saya tidak khawatir tentang rubel. Itu masalah Putin. Yang penting dolar AS tetap kuat, dan saya pastikan akan seperti itu. Kita tidak akan membiarkan kekacauan ekonomi dari negara lain merugikan pekerja Amerika."
"Kita sudah lihat apa yang terjadi ketika Anda terlalu bergantung pada impor dari negara yang tidak stabil. Amerika harus mandiri, dan itulah yang akan kita lakukan," tegas Trump.
Paket Kebijakan "America First 2.0"
Dalam kesempatan yang sama, Trump mengumumkan apa yang ia sebut "America First 2.0", sebuah paket kebijakan ekonomi yang mencakup:
- Tarif impor baru: Pengenaan bea masuk tambahan 15% untuk barang manufaktur dari negara-negara dengan nilai tukar mata uang terdepresiasi tajam, termasuk Rusia, Argentina, dan Turki.
- Deregulasi energi: Pencabutan pembatasan pengeboran minyak dan gas di lahan federal, dengan target menjadikan AS sebagai "raja energi dunia" dan mengurangi ketergantungan pada pasar minyak global yang fluktuatif.
- Insentif repatriasi: Potongan pajak bagi perusahaan AS yang memindahkan pabrik dari luar negeri kembali ke wilayah AS, terutama dari Asia Tenggara dan Eropa Timur.
Trump mengklaim langkah ini akan menciptakan 5 juta lapangan kerja baru dalam dua tahun. Namun, para ekonom independen meragukan klaim tersebut, mengingat kebijakan tarif yang mirip pada periode pertama Trump justru memicu inflasi dan gangguan rantai pasok.
Kaitan dengan Gejolak Mata Uang Global
Pengumuman Trump datang di tengah gejolak pasar valuta asing yang dipicu oleh perang mata uang terselubung. Selain rubel, sejumlah mata uang negara berkembang seperti lira Turki dan peso Argentina juga melemah tajam karena tekanan inflasi dan utang luar negeri. Analis menilai kebijakan tarif berbasis nilai tukar yang diusulkan Trump dapat memicu proteksionisme berantai dan memperburuk ketidakpastian ekonomi global.
Pasar saham AS bereaksi negatif setelah pidato Trump, dengan indeks S&P 500 ditutup turun 1,8% pada hari yang sama. Investor khawatir eskalasi perang dagang akan menghambat pemulihan ekonomi pascapandemi. Di sisi lain, dolar AS menguat terhadap sekeranjang mata uang utama, membebani eksportir AS.
Tanggapan Internasional
Rusia melalui juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menolak kebijakan tarif tersebut sebagai "intervensi ekonomi yang merugikan semua pihak." Sementara itu, Uni Eropa mengisyaratkan kemungkinan gugatan ke WTO jika tarif diskriminatif AS benar-benar diterapkan. Di dalam negeri, Partai Demokrat mengecam Trump karena dinilai bermain api dengan kebijakan yang bisa memicu resesi global.
[SOCIAL_TWEET]: Trump tanggapi rubel Rusia yang jatuh: "Bukan masalah kita." Ia lalu umumkan tarif baru dan kebijakan proteksionis 'America First 2.0'. Pasar saham langsung merah. #Trump2026 #RubelRusia #PerangDagang[SOCIAL_TG]: 🗣️ Trump soal rubel Rusia: "Itu masalah Putin." Lalu ia luncurkan paket proteksionis baru: tarif tambahan 15% untuk negara dengan mata uang lemah, deregulasi energi besar-besaran, dan insentif pabrik pulang ke AS. Pasar saham langsung drop 1,8%. Gimana reaksi global?
Comments (0)