Transaksi QRIS Nyaris Tembus 10 Ribu di Kupang Digital Fest

Suara tawa dan riuh rendah permainan digital menyatu dengan alunan musik tradisional Sasando di Lapangan Polda NTT, Sabtu siang itu. Di sebuah bilik permainan, seorang ibu muda bernama Maria menyelesa...

Jul 13, 2026 - 20:58
0 0

Suara tawa dan riuh rendah permainan digital menyatu dengan alunan musik tradisional Sasando di Lapangan Polda NTT, Sabtu siang itu. Di sebuah bilik permainan, seorang ibu muda bernama Maria menyelesaikan putaran terakhir gim interaktif yang baru saja dimainkannya. Tanpa mengeluarkan dompet, ia menempelkan ponsel ke papan kode QR yang terpampang di sisi mesin. Sebuah bunyi beep menandakan pembayaran berhasil. Senyumnya merekah. “Mudah sekali, tidak perlu uang tunai lagi,” katanya, seraya menggandeng anaknya menuju stan jajanan pasar di deretan bazar UMKM.

Pemandangan serupa berulang hampir sepuluh ribu kali sepanjang perhelatan Kupang Digital Fest 2026, yang digelar pada 10 hingga 11 Juli dan mencatatkan tonggak baru dalam transformasi pembayaran digital di Nusa Tenggara Timur. Di balik kemeriahan festival yang mempertemukan inovasi teknologi, produk lokal, dan permainan digital itu, tersimpan angka-angka yang mengisahkan pergerakan ekonomi daerah menuju masa depan non-tunai.

Geliat Transaksi Digital di Bazar UMKM

Di jejeran stan bazar yang dinaungi tenda berwarna-warni, para pelaku usaha kecil menuai berkah dari peralihan kebiasaan pengunjung yang kini lebih gemar membayar dengan kode QR. Total perputaran uang di area bazar mencapai Rp157 juta selama dua hari, hampir seluruhnya diproses lewat sistem QRIS. Sumarni, pemilik stan tenun ikat asal Alor yang baru pertama kali mengikuti pameran berskala sebesar ini, mengaku tak menyangka usahanya justru laku karena hadirnya metode pembayaran digital.

“Saya sempat takut, karena biasanya pembeli datang dengan uang pas. Ternyata di sini malah lebih banyak yang pakai QRIS. Saya jadi tidak usah pusing menyediakan uang kembalian,” tuturnya dengan nada takjub. Pengakuan senada datang dari Petrus Nalle, perajin kerajinan lontar yang memajang topi dan tas tradisional. Petrus menceritakan bahwa sebelumnya ia hanya menerima transfer bank, namun QRIS membuat transaksi terasa lebih ringan, baik bagi penjual maupun pembeli. “Pembeli tinggal scan, langsung masuk ke rekening. Tidak perlu ribet lagi,” ucapnya.

Wahana Digital Jadi Magnet Pengunjung

Jika bazar adalah denyut ekonomi langsung, maka wahana permainan digital adalah pusat hiruk-pikuk festival. Sepuluh bilik permainan yang menyuguhkan pengalaman imersif dan gim berbasis layar sentuh menjadi titik kumpul favorit pengunjung dari berbagai usia. Di sinilah catatan luar biasa berikutnya tercipta: 9.870 transaksi pembayaran tiket permainan berhasil dibukukan lewat QRIS. Setiap sentuhan ponsel ke papan kode QR tak hanya membuka akses ke sesi permainan, tetapi juga menorehkan jejak digital yang memperlihatkan betapa massifnya adopsi pembayaran non-tunai di Kupang.

Emanuella Tapatab, pengelola salah satu wahana gim edukatif, mengamati perubahan perilaku pengunjung yang membuat antrean tetap bergerak cepat. “Anak-anak muda sampai orang tua langsung paham cara pakai QRIS. Tidak ada lagi yang tanya, ‘pakai uang bisa?’ Mereka sudah siap dengan ponsel di tangan,” cerita Emanuella. Kecepatan transaksi itu ikut meminimalkan kerumunan dan membuat suasana festival tetap nyaman meski jumlah pengunjung melonjak pada hari terakhir.

Dorongan Inklusi Keuangan di NTT

Capaian transaksi di Kupang Digital Fest 2026 bukan sekadar angka statistik. Bagi Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTT yang turut menggagas festival ini, realitas tersebut membuktikan bahwa masyarakat di wilayah kepulauan semakin percaya dan terbiasa dengan layanan keuangan digital. Bahkan, sebagian pedagang dan pengunjung berasal dari kabupaten di luar Kota Kupang, menandakan bahwa penetrasi QRIS kian merata, tidak hanya berpusat di ibu kota provinsi.

“Festival ini adalah etalase kecil yang merefleksikan arah baru ekonomi NTT. Ketika hampir sepuluh ribu transaksi terjadi hanya melalui wahana permainan, artinya masyarakat kita sudah melewati fase canggung menggunakan pembayaran digital,” ungkap Kepala Tim Implementasi Kebijakan Sistem Pembayaran BI NTT, Albertus Wurin, saat ditemui di sela-sela acara. Ia menambahkan bahwa pihaknya terus menggandeng pemerintah daerah dan penyedia jasa pembayaran untuk memperluas akses QRIS hingga ke pasar-pasar tradisional dan destinasi wisata di pelosok NTT.

Fakta bahwa transaksi bazar UMKM menembus angka Rp157 juta juga menjadi sinyal baik bagi pencapaian inklusi keuangan. Magnet festival yang memadukan hiburan digital dengan pameran produk lokal menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan. Sektor informal seperti perajin dan penjual kuliner ikut merasakan kemudahan pencatatan keuangan sekaligus peningkatan omzet karena pembeli tak lagi terhalang ketersediaan uang tunai.

Saat lampu-lampu stan mulai dipadamkan dan petugas merapikan kabel-kabel instalasi, Maria bersama putranya keluar gerbang dengan membawa sebungkus jagung titi. “Tahun depan datang lagi ya. Bawa semua teman,” bisiknya pada sang anak. Tanpa disadari, lebih dari sekadar hiburan, festival ini telah menanam benih kebiasaan baru: bahwa bertransaksi cukup dengan sekali pindai, dan masa depan digital NTT sudah dimulai dari langkah-langkah kecil yang hangat di pusat keramaian Kupang.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User